Yang Waras Sebaiknya Tetap Mengalah

Jakarta Sejak narasi keagamaan menyita perhatian publik selama beberapa bulan terakhir, muncul berbagai narasi tandingan. Mereka yang menyuarakannya kerap mengaku lebih waras daripada lawannya. Di bawah panji “Bangkitnya Silent Majority”, gerakan ini kerap menyuarakan pendiriannya dengan mengubah salah satu kebijaksanaan Jawa, imbauan agar “sing waras ngalah” (yang waras hendaknya mengalah) diubah menjadi larangan “sing waras aja ngalah” (yang waras jangan mengalah).

Bersikap reaktif memang mudah. Ketika satu kelompok menyuarakan A, kelompok lain tinggal berseru anti‐A. Ketika satu kelompok berseru anti‐B, kelompok lain tinggal menegaskan pentingnya B. Masalah: sungguhkah membuat narasi‐narasi tandingan seperti itu merupakan satu‐satunya jalan memberantas ketidakwarasan?

Membuat narasi tandingan memang penting, sekurang‐kurangnya untuk menunjukkan bahwa kemajemukan Indonesia tak akan cukup terwakili oleh narasi tunggal yang menguasai ruang publik. Karena Indonesia itu majemuk, ruang publiknya tak boleh dikuasai oleh satu kelompok saja. Membiarkan satu kelompok menguasai ruang publik sama artinya dengan menyangkal kemajemukan negeri ini.

Tanpa mengurangi arti penting gerakan‐gerakan tandingan dengan berbagai narasinya, kita perlu menengok jalan lain yang lebih sunyi namun tak kalah penting: jalan pemahaman. Di tengah maraknya narasi tandingan terhadap radikalisme dan terorisme, tak banyak yang bersedia menempuh jalan ini. Maklum, selain panjang, sempit, dan berliku, jalan ini juga tak menjanjikan hasil yang langsung dapat dilihat. Perlu hitungan tahun untuk menuai hasil dari jerih lelah di jalan ini.

Lagi pula, memahami radikalisme dan terorisme cenderung sulit bagi mereka yang sudah telanjur taklid terhadap apa yang biasa disebut akal sehat dan kemanusiaan seakan‐akan hanya ada satu akal sehat dan satu kemanusiaan di bumi ini, tanpa sedikit pun kehendak untuk mempelajari bahwa ada banyak saudaranya yang memahami akal sehat dan kemanusiaan dengan cara yang sama sekali lain.

Kalau cita‐cita yang dituju adalah kewarasan, jalan pemahaman wajib ditempuh. Orang waras tidak akan asal melawan, asal bicara, atau asal gebuk. Orang waras tidak akan secara reaktif menyerukan pro‐ini atau anti‐itu. Kalau toh akhirnya ia bersuara pro‐ini atau anti‐itu, suaranya tak terdengar hampa dan membabi buta, sebab dijiwai oleh pemahaman yang memadai.

Orang waras adalah dia yang memenuhi syarat pengetahuan minimum yang diperlukan untuk mengambil pendirian pro‐ini atau antiitu. Orang waras bukan sekadar tukang gebuk. Kalau toh akhirnya ia menggebuk, ia akan melakukannya dengan rapi dan efektif, bukan membabi buta.

Itulah mengapa, mereka yang (mengaku) waras perlu mempelajari seluk‐beluk ketidakwarasan, bukan sekadar mengutuknya secara membabi buta. Kalau dilakukan secara membabi buta, gerakan‐gerakan tandingan berisiko tergelincir dalam jurang ketidakwarasan yang sama: sebagaimana mereka yang (dituduh) tidak waras mengutuk Pancasila sebagai berhala, demikian pula mereka yang (merasa) waras mengutuk radikalisme dan terorisme sebagai tidak waras.

Yang diperlukan bukan sekadar mengutuk atau menggebuk, melainkan juga mengetahui seluk‐beluk paham radikalisme dan terorisme. Bagaimana mungkin melawan radikalisme dan terorisme tanpa sedikit pun bekal pengetahuan tentang apa persisnya yang dimaksud dengan khilafah atau thogut, siapa itu Sayyid Qutb, serta bagaimana narasi Islam ditindas disusupkan ke relung‐relung hati manusia yang paling rahasia, juga paling belia?

Contoh cukup baik telah ditunjukkan oleh Jenderal Polisi Tito Karnavian. Selain tanggap menggebuk, beliau juga tahu persis seluk‐beluk paham‐paham tersebut. Ada baiknya, kelompok yang selama ini dicap atau memahami diri sebagai silent majority meneladani kematangan seperti itu.

Dengan mempelajari seluk‐beluknya, cara menghadapi radikalisme dan terorisme pun menjadi semakin komprehensif: bukan sekadar reaksi penanganan setelah aksi terjadi, melainkan juga pencegahan.

Pencegahan tak bisa direduksi menjadi sekadar penggerebekan terduga teroris. Pencegahan juga berarti menciptakan suasana saling menjaga dan memahami antar‐umat beragama, bahkan juga di dalam umat seagama. Itulah kewarasan yang sesungguhnya.

Sebaliknya, sikap asal melawan, tanpa sedikit pun upaya mempelajari apa yang dilawan, tak akan menumbuhkan kewarasan, melainkan justru menyulut perpecahan. Akibatnya, persatuan yang marak diserukan oleh kaum (yang mengaku) waras justru menjelma menjadi kekerasan.

Radikalisme dan terorisme tidak waras dan harus dilawan, itu benar. Akan tetapi kaum radikal akan tetap radikal, dan teroris akan tetap teroris, selama mereka yang (merasa) waras terus‐menerus bicara dengan bahasanya sendiri, dan kaum radikal serta teroris dengan bahasanya sendiri pula.

Maka semboyan “sing waras ngalah” sejatinya tetap berlaku. Hanya saja, kali ini, mengalah bukan berarti sikap lembek atau tak berani melawan, melainkan kehendak untuk sedikit rendah hati mempelajari seluk‐beluk ketidakwarasan.

Pada titik ini terpaksa digunakan bahasa pemisah kita dan mereka. Kalau mereka sulit diharapkan mempelajari bahasa kita, kitalah yang sebaiknya mengalah mempelajari bahasa mereka. Tentu bukan untuk ikut meyakininya, melainkan meningkatkan kepekaan dan kewaspadaan, kalaukalau ada orang terdekat mulai terpengaruh oleh paham radikal atau terorisme.

Pengetahuan secukupnya tentang pahampaham itu juga memampukan kita menggiringnya, dengan efektif dan bukan justru kontra‐produktif, ke arah yang semakin waras: masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita.

Tentu, ketika terorisme mengancam di depan mata, menggebuk adalah jalan terbaik. Namun, dalam konteks lebih luas dan jangka waktu lebih panjang, menggebuk saja masih jauh dari cukup. Itulah mengapa, “sing waras prayogane tetep ngalah” yang waras sebaiknya tetap mengalah.