Xanders Kitchen, di Balik Kisah Sukses Mega Best Seller

Siang itu, toko buku di kawasan Bintaro Jakarta Selatan cukup ramai. Baru saja masuk, pengunjung sudah dihadang dengan buku-buku keluaran baru, dan beberapa di antaranya diberi label Best Seller.

Ada yang menarik, dari sekian banyak tumpukan buku itu, ada rak khusus yang bertuliskan ‘Mega Best Seller’ di atasnya.

Salah satu penjaga toko menjelaskan bahwa jarang buku yang bisa mencapai Mega Best Seller. Pria berkumis tipis itu menyebut untuk sebuah buku masuk kategori best seller saja, penjualannya harus mencapai 50 ribu eksemplar per tahun. Itu, artinya penyandang Mega Best Seller harus melampaui penjualan itu.

Lalu, VIVA tertarik untuk melihat buku yang menjadi Mega Best Seller tersebut. Ternyata, sebuah buku resep masakan berjudul ‘Home Cooking Ala Xanders Kitchen’, penulisnya bernama Junita.

Lebih lanjut, si penjaga toko itu menjelaskan bahwa buku resep masak itu adalah satu-satunya di Indonesia yang berhasil mendapat predikat Mega Best Seller. Makin penasaran, akhirnya VIVA mencoba menelusuri, siapa sih penulisnya?

Buku Mega Best Seller Xanders Kitchen

Cukup mengagetkan, ternyata penulisnya bukanlah chef kawakan, ahli kuliner, apalagi selebriti chef. Junita adalah sosok ibu rumah tangga biasa yang memulai pengalaman masaknya lewat sajian rumahan yang dipostingnya di Instagram dengan nama akun @Xanders Kitchen.

Stalking akun instagram @Xanders Kitchen sangat memanjakan mata. Jejeran foto masakan dengan berbagai menu terlihat sangat menggugah selera. Resep yang disematkan lewat caption juga sangat jelas dan mudah dipraktikkan. Beberapa warganet mengakuinya di kolom komen.

Tak hanya itu, uniknya wanita 41 tahun ini tak hanya menyajikan resep masakan belaka. Ia juga menyajikan cerita-cerita, bagaimana dia menjalani kehidupannya bersama keluarga di sebuah pulau terpencil di Nusa Tenggara Timur (NTT), sambil menyajikan masakan dengan menu-menu dari kearifan lokal.

Tak pikir panjang, VIVA mencoba menghubungi si pemilik akun. Dengan sambutan ramah, Ia bersedia menceritakan pengalaman suksesnya kepada pembaca VIVA. Berikut ini wawancaranya:

Buku Mega Best Seller Xanders Kitchen

Awalnya, tak bisa masak dan gaptek?

Dulu sekolah di perhotelan, ada juga pelajaran masak. Tetapi, karena malas dan merasa enggak bakat, ya enggak saya eksplore.

Ketika mulai berkeluarga dan anak-anak mulai besar, saya merasa kasihan, karena menyajikan masakan yang itu-itu saja.

Saya sendiri aja bosen, gimana suami. Kasihan sekali kan. Jadi, itu saya jadikan motivasi saya mulai belajar memasak.

Lalu, kemampuan memasaknya juga tak datang begitu saja. Dengan learning by doing, pelan-pelan saya terbiasa. Bisa masak, karena biasa. Lama-lama, lidah juga jadi terlatih. Mencoba masakan, bisa langsung tahu bumbu-bumbunya.

Kapan pertama kali bikin instagram?

Media sosial, ternyata berpengaruh besar dalam kehidupan saya. Instagram adalah satu-satunya akun medsos yang saya punya pada saat itu

Waktu itu, saya enggak ada kegiatan. Kebetulan suami saya seorang Polisi, jadi kegiatan saya di sekitar Bhayangkari

Tahun 2014, saya bikin Instagram untuk keperluan pribadi,  menyimpan foto-foto masakan yang awalnya tanpa resep. Isinya pun random.

Saya termasuk orang yang gaptek. Anak saya yang memberi ide membuat instagram dan mengajarkan cara-caranya. Akhirnya, terbentuklah Xander’s Kitchen. Banyak yang bertanya-tanya “Xander itu siapa sih?”  Xander itu nama tengah ketiga putra saya.

Apa jenis masakan Anda?

Macam-macam. Enggak hanya masakan Nusantara tapi ada juga masakan Chinese nya seperti nasi tim, capcay, sapo tahu, sapi lada hitam dan lain-lain.

Orangtua saya dua-duanya bisa masak. Mereka keturunan Chinese Bangka. Jadi, banyak pengaruhnya dalam masakan saya sehari-hari.

Cumi Petai

Bagaimana mulai memproduksi konten untuk instagram?

Banyak trial dan error. Saya enggak punya kamera bagus dan studio profesional, hanya mengandalkan insting, sinar matahari, dan hasil masakan saya sendiri.

Apalagi saya enggak ngerti fotografi. Saya foto menggunakan kamera smartphone. Komposisi warna, tingkat kematangan masakan juga sangat berpengaruh pada hasil foto misalnya masakan sayur yang lodoh,  pasti tampilannya difoto enggak
bagus.

Adakah trik khusus me-manage akun?

Tidak ada trik khusus, hanya saja usahakan untuk konsisten posting. Kalau akun terlalu lama jarak postingannya itu kurang bagus menurut saya. Follower akan bosan menunggu-nunggu. Selain itu, sebisa mungkin merespons follower, apalagi yang sudah recook (mencoba resep) saya. Respon dari saya membuat follower merasa dihargai dan secara tidak langsung mereka akan loyal.

Pernah tinggal di pulau terpencil NTT, ceritakan bagaimana memanfaatkan kearifan lokal?

Itu sebagai awal perjalanannya saya membuat buku.  November 2015, pertama kali saya menginjakkan kaki di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur mengikuti dinas suami.  Lalu 5 bulan kemudian kembali pindah ke pulau Lembata,  pulau kecil yang jaraknya 45 menit naik pesawat dari Kupang.

Di Lembata,  belakang rumah saya adalah laut. Sebetulnya sulit bagi saya waktu itu, kaget dari kota besar harus pindah ke daerah terpencil. Tetapi, saya mencoba berpikir positif.

Ikan kembung

Saya bisa menikmati langit biru, udara bersih , pemandangan alami yang cantik yang enggak semua orang dapat kesempatan seperti itu. Saya juga mengajarkan anak-anak tentang kehidupan di daerah tertinggal supaya anak-anak belajar bersyukur, berbagi karena banyak juga teman di sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Di sana saya mengeksplor kearifan lokal dan beruntung bisa mencicipi langsung ikan-ikan segar dan hasil laut yang melimpah.

Kalau belanja ikan, saya senang sekali. Tampilan ikannya bersih, segar dan seperti masih hidup. Nelayan turun dari kapal langsung bisa dibeli. Rasanya manis, enggak perlu diberi bumbu macam-macam.

Oseng udang

Di sana ikan-ikan misalnya jenis kakap , kuwe , kerapu bisa didapat dengan harga murah. Hanya 20 – 30 ribu per ekor untuk ukuran yang besar sekali. Sedangkan ikan-ikan jenis kecil seperti ikan tembang jika nelayan dapat banyak tangkapan sering kali dikasih gratis. Tinggal datang saja bawa ember.

Tinggal di pulau kecil, apakah sulit mendapatkan bumbu masakan dan sayur mayur?

Iya, karena iklim yang cenderung kering sayuran juga terbatas. Penduduk Lembata, mengandalkan pasokan sayur yang dibawa kapal laut dari Makassar. Terkadang kualitasnya sudah kurang baik karena waktu pengiriman yang lama.

Masyarakat setempat hanya menanam jagung, paria, terung, singkong, labu dan caisim. Sayur seperti brokoli itu enggak ada. Bumbu-bumbu juga terbatas, paling saya beli di Kupang kalau pas suami dinas ke sana. Itu sebabnya saya lebih banyak berkreasi sendiri dengan bumbu yang ada.

Ceritakan tentang buku Mega Best Seller

Awalnya pada bulan Januari 2017 seorang editor dari penerbit Gramedia Pustaka Utama mengontak saya menanyakan apakah saya berkenan untuk membukukan resep-resep di akun IG saya. Setelah saya bersedia baru lah proses pembuatan buku dimulai. Saya juga enggak menyangka buku ‘Masak Ala Xanders Kitchen’ ini meraih predikat Mega Best Seller, bahkan mencetak sejarah perbukuan di Indonesia karena menjadi buku masak pertama dengan predikat mega best seller.

Teman-teman di Penerbit juga merasa takjub, luar biasa sekali katanya. Mereka bilang selama ini enggak ada buku masak yang penjualannya seperti buku saya. Buku Mega Best Seller sebelumnya (buku jenis lain) itu pun penjualannya enggak sedahsyat penjualan buku saya. Dan sampai saat ini permintaan akan buku saya masih sangat tinggi
Buku Mega Best Seller Xanders Kitchen

Sejauh mana turut berpartisipasi dalam produksi buku?

Tak cuma sekadar menyumbang konten dan foto masakan, saya juga memberi masukan untuk tampilan bukunya. Bagi saya desain cover dan tampilan buku itu sangat menentukan. Saya senang membaca dan juga banyak mengoleksi buku jadi kira-kira saya tahu seperti apa buku yang menarik untuk dibeli orang. Saya juga browsing seperti apa sih buku yang menarik itu?

Selain itu, penentuan font , lay out , warna kertas juga sangat berpengaruh. Sebisa mungkin menggunakan font, layout, warna-warna yang membuat mata pembaca nyaman karena pembaca buku pastinya dari segala usia, tua dan muda.

Sudah cetak berapa banyak?

Baru bulan kemarin (Maret 2018) cetak ulang yang ke 9.  Total sampai cetakan ke 9 Maret lalu, mencapai 41 ribu eksemplar (dalam kurun tiga bulan).

Dan 4 hari yang lalu kembali buku Home Cooking ala Xander’s Kitchen dicetak ulang untuk ke 10 kali nya sebanyak 5 ribu
eksemplar.

Jika di gabungkan dari bulan Januari 2018 sejak pertama kali buku diterbitkan sampai bulan April ini (dalam kurun waktu 4 bulan) buku telah dicetak sebanyak 46 ribu eksemplar.

Dalam proses pembuatan buku pertama, semua foto dan konten berasal dari dirinya. Editor membantu menyusun jenis hidangan apa yang akan dimasukkan ke dalam buku. Misalnya jenis hidangan daging, ikan, sayur, telur, tempe, atau karbohidrat.

Kenapa sih bukunya bisa laku dan jadi Mega Best Seller?

Buku saya menyajikan kesederhanaan , resepnya dibuat sangat ringkas dan mudah dipahami. Hasil masakannya pun enak. Banyak komentar yang masuk bilang kalau buku saya itu enggak ribet. Banyak pemula yang baru pertama kali masak, sukses mempraktikkan resep-resep di buku saya. Mereka sendiri terheran-heran kok bisa ya masak enak dengan bumbu-bumbu sederhana dan cara masak yang simpel.

Kenapa resep-resep dibikin sederhana ? Karena saya sadar banyak pemula yang baru mulai belajar masak belum paham
betul bumbu-bumbu dan teknik masak yang njelimet . Di samping itu ibu-ibu kantoran yang waktunya enggak banyak. Enggak sempat masak yang ribet-ribet juga mudah sekali mengikuti resep-resep di buku saya.

Pembaca buku saya berasal dari beragam usia, latar belakang dan kesibukan jadi buku masakan dengan resep-resep simpel, cara masak mudah dan rasa yang enak tentu dicari.

Selain itu, bahan baku yang digunakan di resep-resep saya murah dan mudah di dapat bisa belanja di tukang sayur atau paling jauh ke pasar tradisional. Alasan-alasan tersebut yang banyak saya dengar dari pembeli kenapa mereka memilih buku saya.

Jika ada kesempatan mengembangkan diri, ingin seperti apa?

Saya ingin menghasilkan buku-buku selanjutnya dengan berbagai macam tema. Lewat buku, saya bisa membagikan ilmu yang saya punya. Supaya makin banyak orang yang bisa merasakan manfaatnya.

Saat ini saya ingin sekali belajar membuat kue-kue tradisional Indonesia misalnya kue-kue jajanan pasar. Banyak kue-kue tradisional Indonesia yang rasanya enak, enggak kalah dengan cake modern. Kalau bukan kita siapa
lagi yang akan melestarikannya.

Kue lapis

Tips buat pemula yang ingin memulai mengembangkan Instagram lebih positif?

Pertama, punya ciri khas sendiri.  Jangan habis-habisan meniru orang entah itu gaya foto , caption atau pun resep. Terinspirasi boleh, tapi jangan 100 persen meniru. Percaya dengan kemampuan sendiri itu akan lebih dihargai.

Kedua, konsisten posting. Jangan terlalu lama kosong enggak posting sampai berbulan-bulan. Kalau terlalu lama follower akan bosan. Bisa-bisa di unfollow. Kalau seperti saya enggak melulu posting makanan , cerita-cerita keseharian juga terkadang menarik untuk dibaca orang.

Ketiga, orisinalitas dan kejujuran.  Memberi resep harus ikhlas , jangan ada yang dikurang-kurangi. Sekiranya enggak rela untuk berbagi lebih baik enggak usah dibagi. Apa yang saya share dan posting, sama dengan yang saya masak di rumah oleh sebab itu jarang sekali teman-teman gagal recook resep-resep saya.

Keempat, upgrade foto. Penampilan masakan dibuat yang bagus,  menggugah selera kalau foto-foto masakan kita bagus dan menggiurkan orang enggak ragu untuk recook.

Kelima, kenyamanan pembaca. Rajin bersih-bersih instagram. Kalau ada iklan-iklan yang enggak jelas, langsung saya blok. Saya ingin follower saya nyaman membaca di Instagram saya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *