Warga Rohingya: Menakutkan, Desa dibakar, Anak-Orang Tua Terpisah

Warga Rohingya berjalan kaki meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh untuk menghindari kekerasan terbaru.
Abdullah, lakilaki berusia 25 tahun, tak kuasa menahan air mata. Ia adalah salah satu dari ribuan warga Muslim Rohingya yang harus menyelamatkan diri ke Bangladesh, menyusul pecahnya kekerasan di Rakhine, Myanmar, pekan lalu.

“Sangat menakutkan … rumahrumah dibakar, orangorang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas,” kata Abdullah kepada kantor berita Reuters, hari Rabu (30/08).

Abdullah berasal dari Desa Mee Chaung Zay, di kawasan Buthidaung, di negara bagian Rakhine. Ia mengatakan empat dari enam kampung di desanya dibakar oleh aparat keamanan, yang membuat warga menyelamatkan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Bersama ribuan warga desa, Abdullah mengungsi ke kaki Pegunungan Mayu. Ia mengungsi bersama istri dan anak perempuannya yang baru berusia lima tahun. Ia membawa beras ketan, beberapa lembar plastik bekas dan botolbotol air yang kosong.

Inilah bekal berjalan kaki selama beberapa hari melewati pegunungan untuk menuju perbatasan Bangladesh. Jarak yang ia tempuh bersama warga Rohingya lain sekitar 20 kilometer.

“Saya masih menunggu kerabat lain. Begitu kami semua berkumpul, kami akan segera pergi (ke Bangladesh),” kata Abdullah.

Para pejabat PBB mengatakan hingga Rabu (30/08), jumlah warga Rohingya yang telah melewati perbatasan dan masuk ke Bangladesh lebih dari 18.000 orang, di antaranya adalah perempuan muda bernama Noor Begum.

“Jika kami kembali ke desa kami (di Rakhine), kami pasti akan dibunuh oleh tentara. Jangan paksa kami kembali ke sana,” kata Begum dengan berurai air mata kepada BBC di perbatasan BangladeshMyanmar.
Warga Rohingya menuturkan bagaimana desadesa mereka dibakar menyusul kekerasan yang dipicu oleh serangan milisi yang dibalas dengan aksi militer tentara Myanmar. (AFP)
“Lebih baik kami mati di sini, kami tak mau pulang,” katanya.

Gelombang pengungsian terbaru dipicu oleh serangan mematikan terhadap pospos keamanan di Rakhine oleh milisi Rohingya yang dibalas dengan operasi keamanan oleh militer Myanmar.

Trauma yang mendalam

Wartawan AFP yang mengunjungi desadesa yang dilanda konflik mengatakan asap rumahrumah yang dibakar terlihat membumbung ke angkasa. Ia mengatakan kekerasan yang tak menunjukkan tandatanda mereda.

Setidaknya 110 orang tewas, 11 orang di antaranya pejabat negara bagian, sementara ribuan warga sipil mengungsi ke Bangladesh.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mencatat jumlah warga Rohingya yang mengungsi mencapai sedikitnya 18.445 orang.

“Kondisi mereka mengenaskan. Mereka sangat membutuhkan makanan, layanan kesehatan, dan tempat penampungan,” kata Sanjukta Sahany, pejabat IOM di Coxs Bazar, di perbatasan BangladeshMyanmar.

Ia mengatakan banyak warga Rohingya ini yang mengalami luka, baik akibat tembakan senjata api maupun karena luka bakar.
“Terlihat dengan jelas, orangorang Rohingya ini trauma,” kata Sahany.

PBB mengutuk serangan oleh milisi Rohingya dan juga mendesak militer Myanmar melindungi warga sipil tanpa membedakan etnisitas atau agama.

Nasib 1,1 juta warga Muslim Rohingya di Myanmar menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi pemerintahan pimpinan Aung San Suu Kyi. Masyarakat internasional menuduh Suu Kyi berdiam diri atas persekusi yang dialami warga Rohingya.
Seorang perempuan Rohingya tertidur akibat kelelahan di salah satu penampungan pengungsi di Bangladesh di dekat perbatasan dengan Myanmar. (Getty Images)
Di Myanmar, warga Rohingya tidak diakui, tak diberi status warga negara, dan dianggap sebagai imigran gelap, meski mereka mengklaim bahwa akar budaya mereka sudah ada di Myanmar sejak berabadabad silam.

Kekerasan dalam beberapa hari ini menandai eskalasi dramatis sejak Oktober lalu ketika milisi Rohingya melakukan serangan dengan skala yang lebih kecil.

Ketika itu serangan ini juga dibalas dengan operasi militer, yang dikatakan PBB sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Militer Myanmar mengatakan mereka sebisa mungkin akan menahan diri tapi juga menegaskan punya hak untuk membela diri dari seranganserangan teroris.