Warga Lereng Sumbing Buat Briket dari Sampah Daun Cengkih

Daun cengkeh merupakan sampah yang sangat mudah sekali ditemukan di Dusun Ketawan, Desa Banjarejo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Hal itu berbanding terbalik dengan keberadaan bahan bakar gas elpiji yang sangat sulit diperoleh warga lereng Gunung Sumbing.

Karena kondisi tersebut, sekelompok warga yang tergabung dalam Bank Sampah SEKAR Desa Banjarejo kemudian berinisiatif menggunakan limbah daun cengkeh itu untuk dijadikan bahan bakar.

“Awalnya warga berpikir bagaimana cara membuang sampah daun cengkeh yang berlimpah ini. Kalau dibakar akan menjadi polusi udara dan memicu kebakaran hutan, kalau dibuang sembarangan bisa menyebabkan banjir. Akhirnya kami berinisiatif membuat bahan bakar berupa briket,” jelas Ketua Bank Sampah SEKAR, Istiqomah, di sela pameran di kompleks Pemkab Magelang, Kamis (8/3/2018).

Setelah mencari referensi dari berbagai sumber, kelompok bank sampah yang mayoritas beranggotakan ibu-ibu rumah tangga itu kemudian bereksperimen. Butuh percobaan beberapa kali sebelum kemudian briket dirasa sudah sempurna dan siap pakai.

“Untuk menghasilkan briket yang benar-benar bagus, kami harus melakukan ujicoba. Beberapa kali briket yang dihasilkan sempat tidak bagus, tidak sesuai yang diharapkan, tapi kemudian setelah dikembangkan dan diujicoba akhirnya berhasil,” ujar Istiqomah.

“Tumbukan daun yang sudah dibakar itu lalu diaduk, dicampur dengan tepung tapioka dan air. Perbandingannya 1:5, yakni satu kilogram tepung tapioka dan lima kilogram tumbukan daun,” ungkap Istiqomah.Tahapan pembuatan briket daun cengkih dimulai dengan pengumpulan daun kemudian pengeringan. Pengeringan ini bisa dilakukan dengan cara dijemur.
Daun yang sudah kering tersebut kemudian dibakar hingga hangus keseluruhan. Setelah itu, bakaran daun ditumbuk menggunakan lumpang hingga lembut.

Setelah seluruh bahan dicampur dan diaduk rata, adonan briket itu siap untuk dicetak. Alat cetak yang dipergunakan pun sangat sederhana, yakni potongan bambu.

“Mencetak briket ini sama seperti membuat kue putu, menggunakan kolong bambu. Bentuk briket nantinya juga silinder seperti lubang bambu,” terangnya.

Briket yang sudah selesai dicetak, akan melalui tahapan selanjutnya berupa pengeringan. Proses ini hanya memerlukan panas matahari karena pengeringan dilakukan dengan penjemuran. Rata-rata, briket mengering dalam waktu 2-3 hari, tergantung dari panas matahari.

“Briket ini bisa dimanfaatkan oleh warga sebagai bahan bakar pengganti elpiji yang susah didapatkan. Tidak hanya untuk memasak, nyala briket juga bisa dimanfaatkan untuk penghangat tubuh di musim dingin,” ungkap Istiqomah.

Dia menyebutkan, jumlah warga Dusun Ketawang, ada 350 jiwa dari 150 Kepala Keluarga (KK) yang mayoritas adalah petani ladang dan sayuran. Dari 150 KK tersebut, terdapat 146 orang menjadi anggota Kelompok Bank Sampah SEKAR dan sudah memanfaatkan briket.

Untuk sementara ini, briket buatan bank sampah SEKAR masih dipergunakan untuk warga Desa Banjarejo. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, ke depan, bahan bakar alternatif ini akan diperjualbelikan untuk umum.

Pejabat Bupati Magelang, Tavip Hariyanto mengaku mengapresiasi temuan warga berupa briket daun cengkeh itu.

“Inovasi warga ini harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam memasak, karena faktanya limbah juga bisa dimanfaatkan. Kami akan tindak lanjuti temuan ini,” ujarnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *