Unjuk Rasa Antipemerintah Marak, Warga Iran: Hidup Sungguh Sulit

Unjuk rasa besar-besaran di berbagai kota di Iran dipicu oleh keluhan warga soal kondisi ekonomi yang memburuk. Bagaimana sebenarnya kondisi perekonomian Iran di mata warganya?

“Hidup sangat sulit. Harga-harga yang tinggi sungguh membuat saya tertekan. Suami saya seorang pegawai pemerintah tapi gajinya tidak cukup bagi kami untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus berutang,” ucap warga Iran bernama Farzaneh Mirzaie (42) yang merupakan ibu dua anak, seperti dilansir AFP, Selasa (2/1/2017).

Mirzaie menyebut kebanyakan anggota keluarganya bekerja di sebuah pabrik karpet di Kashan, sebuah kota berjarak 250 kilometer sebelah selatan Teheran, tapi baru-baru ini mereka dipecat.

“Pemilik pabrik tidak mampu lagi membiayai pembelian benang untuk produksi karpet sehingga dia memecat semua orang. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup?” imbuhnya.

Kisah Mirzaie merupakan salah satu dari sekian banyak kisah warga Iran, yang negaranya masih berusaha memulihkan diri dari sanksi-sanksi internasional dan pengelolaan perekonomian yang buruk selama bertahun-tahun.

Pada Minggu (31/12) malam, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan rakyat memiliki hak untuk melakukan protes, namun tidak seharusnya melibatkan aksi kekerasan. Usai pernyataan itu, kebanyakan aksi protes di Teheran mereda, namun aksi serupa di kota-kota lainnya masih marak.

“Saya pikir orang-orang sebenarnya tidak suka melakukan vandalisme dan pembakaran, tapi ini satu-satunya cara agar suara mereka didengar,” ujar Nasser Khalaf (52) yang bekerja pada perusahaan minyak, namun dia mengaku memiliki dua putra yang masih pengangguran.

Kebanyakan warga Iran merasa negara mereka tidak mendapat hasil apapun usai beberapa dekade berjuang menghadapi banyak kesulitan — mulai dari revolusi tahun 1979, kemudian perang brutal dengan Irak selama 8 tahun pada 1980-an, hingga menghadapi sanksi-sanksi Amerika Serikat.

“Setelah 40 tahun, mereka (warga Iran-red) baru menyadari bahwa semua kesulitan itu… sia-sia. Saya bekerja di dalam masyarakat tapi saya selalu merasa tertekan apakah saya akan dipecat besok,” ucap Arya Rahmani (27) yang bekerja sebagai perawat.

“Pak Rouhani mengatakan ‘berdemolah dengan cara yang tepat’, tapi seperti apa cara yang tepat itu? Jika saya datang dan berkata ‘Pak Rouhani, saya seseorang yang berpendidikan tapi saya seorang pengangguran’… toh dia tidak akan peduli,” imbuhnya.

Lebih lanjut, warga Iran menganggap pemerintah gagal memaksimalkan potensi besar yang dimiliki Iran. “Negara kami sungguh seperti emas. Apapun yang Anda cari, bisa Anda temukan di Iran. Tapi kami tidak mendapat keuntungan maksimal dari semua hal yang kami miliki di negara kami,” sebut Mirzaie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *