Uji Coba Nuklir Terbaru Korut 10 Kali Lebih Kuat dari Sebelumnya

Pyongyang Korea Utara (Korut) diyakini menggelar uji coba nuklir terbaru yang memicu gempa bumi besar. Berbagai spekulasi menyebut uji coba nuklir terbaru Korut memiliki kekuatan 10 kali lipat lebih kuat dari uji coba sebelumnya, pada September 2016.

“Kekuatannya setidaknya 10 kali lebih kuat,” sebut seorang pejabat Badan Meteorologi Jepang (JMA) dalam keterangan yang disiarkan televisi nasional Jepang, NHK, seperti dilansir AFP, Minggu (3/9/2017).

Uji coba nuklir sebelumnya, atau uji coba nuklir kelima Korut digelar pada September 2016. Uji coba kelima itu menghasilkan ledakan nuklir dengan kekuatan mencapai 10 kiloton, yang memicu gempa bumi berkekuatan 5,04 Skala Richter (SR). Korut sendiri pertama kali menggelar uji coba nuklir di bawah tanah pada tahun 2006. Empat uji coba nuklir Korut lainnya digelar tahun 2009, 2013 dan dua kali uji coba nuklir pada tahun 2016.

Pemerintah Jepang sebelumnya mengkonfirmasi bahwa Korut telah menggelar uji coba nuklir terbaru, yang memicu dua gempa bumi berkekuatan 6,3 SR dan 4,6 SR. Keyakinan ini didasarkan pada pemeriksaan data dari JMA dan berbagai informasi lainnya.

“Setelah memeriksa data, kami menyimpulkan bahwa itu memang sebuah uji coba nuklir,” tegas Menteri Luar Negeri Jepang Kono dalam keterangannya yang disiarkan NHK, usai mengikuti Dewan Keamanan Nasional.

Perkiraan soal kekuatan ledakan nuklir Korut juga disampaikan oleh anggota parlemen Korea Selatan (Korsel), Kim YoungWoo, yang juga Ketua Komisi Pertahanan pada Parlemen Korsel. Kim YoungWoo menyebut dirinya telah mendapat informasi terbaru dari otoritas militer Korsel.

Disebutkan Kim YoungWoo, seperti dilansir kantor berita Korsel, Yonhap News Agency, bahwa gempa bumi besar yang melanda Korut dipicu oleh ledakan nuklir dengan kekuatan hingga 100 kiloton, atau 4 hingga 5 kali lebih kuat dari bom Nagasaki di Jepang, tahun 1945. Satu kiloton sama dengan 1.000 ton TNT.

“Perkiraan (uji coba terbaru Korut) menghasilkan ledakan hingga 100 kiloton, meskipun itu masih laporan awal,” sebut Kim YoungWoo dari partai oposisi Bareun kepada Yonhap.