TKI Tertipu di Suriah: Janji Manis Berujung Kekerasan Majikan dan Perang

Tawaran gaji Rp 4,5 juta per bulan menarik minat W, untuk menjadi pekerja rumah tangga di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun setahun kemudian ia justru berada di Damaskus, ibu kota Suriah yang tengah bertempur dengan ISIS.

“Janjinya manis, gaji tinggi. Janjinya bukan Suriah tapi Abu Dhabi,” ujar perempuan berusia 47 tahun asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/08).

Maret 2016, W berangkat dari rumahnya ke sejumlah titik perhentian sebelum akhirnya diantar ke Damaskus.

Di Damaskus ia bertemu dengan sejumlah orang lain, namun bukan yang satu penerbangan bersamanya dari Malang ke sebuah kota di Malaysia, lalu Instanbul, Turki dan Beirut, Lebanon sebelum tiba di Damaskus, dua bulan kemudian.”Saya sejak awal sudah merasa aneh,” ucapnya, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Betapa pun, saat itu W belum berpikir melarikan diri. Sebuah agen TKI menempatkannya di sebuah rumah tangga, tempat ia sempat bekerja selama tiga bulan.

Dua bulan pertama di rumah itu, W mengaku menerima upah. Namun, katanya, kekerasan yang kerap dilakukan anak majikan membuatnya tidak kerasan.

Gaji bulan ketiga yang tak ia terima membulatkan tekadnya untuk pulang kampung. Konflik bersenjata yang pecah di Suriah pun akhirnya mendorongnya untuk melarikan diri ke kantor KBRI.

“Saya takut perang dan suara bom setiap hari terdengar, pintu rumah bergetar. Itu bikin saya takut dan ingin kabur ke KBRI,” tuturnya.

Dini hari di awal September 2016, W pergi diamdiam dari rumah majikannya. Ia menyewa taksi dan melanjutkan perjalanan empat jam menuju kantor KBRI dengan menumpang angkutan umum.

Sepuluh bulan kemudian, KBRI Suriah menerbangkannya ke Banyuwangi. Kepulangannya sempat terhambat surat izin meninggalkan Suriah dan tuduhan pencurian yang ditudingkan mantan majikannya.

Ratusan yang tertipu

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Ari Dono Sukmanto menyebut nasib W juga dirasakan setidaknya ratusan perempuan Indonesia lain yang tertipu agen penyalur TKI ilegal. Agenagen tersebut tak memegang izin dan menyalahi moratorium pengiriman TKI ke21 negara di Timur Tengah.

“Beberapa tahun terakhir pengiriman sudah dimoratorium karena ada pelanggaran tindak pidana perdagangan orang. Tujuh tahun terakhir cukup banyak kasus, sampai 862 laporan dengan korban mencapai sekitar 1.200 orang,” ujar Ari di kantor Bareskrim, Jakarta, Kamis (10/8) siang.

Selama Juni hingga Juni lalu, Polri menangkap Pariati (51) dan Baiq Hafizahara alias Evi (41) yang menjalankan jejaring pengiriman TKI asal NTB ke Suriah.

Dua perempuan yang kini dijerat pidana perdagangan orang itu, kata Ari, diduga telah mengirimkan ratusan calon TKI dari NTB melalui Batam dan Malaysia, selama 2014 hingga 2017.

Ari menyebut satu dari sekian korban itu merupakan anak perempuan berusia 14 tahun. Dua tersangka itu memalsukan identitas anak itu menjadi berusia 19 tahun agar dapat diterbangkan ke Damaskus sebagai TKI.

“Keuntungan yang didapatkan jaringan itu Rp 1015 juta per satu calon TKI atau mencapai ratusan juta rupiah selama tiga tahun terakhir,” kata Ari.

Saat ini Polri bekerja sama dengan kepolisian Malaysia untuk menangkap Fadi, seorang warga Irak yang menampung dan mengirimkan calon TKI ke Timur Tengah.

Sulit kabur

Staf Konsulat KBRI Suriah Abdul Kholik yang hadir dalam jumpa pers itu menyebut instansinya harus memutar otak untuk menyelamatkan para TKI yang terjebak kasus perdagangan orang.

Ia berkata, selain kendala jarak, situasi kotakota di Suriah yang menjadi lokasi konflik antara tentara koalisi melawan ekstremis ISIS juga menghambat penjemputan TKI.

“Untuk ke daerah yang sekelilingnya dikuasai ISIS, kami menggunakan helikopter untuk mengeluarkan satu TKI,” ujarnya.

Selama 2013 hingga 2014, kata Kholik, KBRI Suriah di Damaskus menerima kedatangan ratusan TKI yang bermasalah dengan majikan. Ia berkata, usai periode tersebut, jumlahnya berkurang menjadi 10 sampai 15 TKI per hari.

“Ratarata mereka kabur. Semuanya pekerja rumah tangga. KBRI membuka kantor cabang di daerah yang tidak bisa kami tembus terutama daerah konflik karena banyak penculikan,” ucap Kholik.

Lebih dari itu, Kholik menyebut para TKI yang dipulangkan KBRI Suriah tidak memiliki keterkaitan dengan ISIS, baik sebagai korban perbudakan atau simpatisan. Ia mengatakan, penampungan sementara yang digelar KBRI memantau rekam jejak dan profil para TKI.

Kholik berkata, KBRI belum pernah menyerahkan satu TKI pun kepada kepolisian atas dasar keterlibatan dengan ISIS. “Jika memang ada yang kami duga sebagai pengikut ISIS, kami akan beritahu pihak yang berwajib,” tuturnya.