Tinggal di Seoul, Pembelot Ngetop Muncul di Video Propaganda Korut

Seoul Seorang wanita pembelot Korea Utara (Korut) yang tinggal di Korea Selatan (Korsel) sejak tahun 2014, tibatiba muncul dalam video propaganda Korut. Otoritas Korsel menduga pembelot ngetop tersebut diculik otoritas Korut.

Seperti dilansir AFP, Rabu (19/7/2017), Lim JiHyun, pembelot Korut yang berusia 20 tahun, tiba di Seoul tahun 2014 lalu. Dia menjadi ngetop setelah tampil di beberapa acara televisi Korsel, bersama sejumlah pembelot Korut lainnya.

Namun pada Minggu (16/7) waktu setempat, Lim tibatiba muncul dalam video propaganda Korut. Dalam video itu, dia menjelaskan bagaimana fantasinya soal Korsel yang makmur telah hancur. Lim bahkan menyebut Korsel sebagai neraka. Dalam video yang diunggah ke situs propaganda Korut, Uriminzokkiri, Lim menyebut dirinya pulang ke rumah bulan lalu dan sekarang tinggal bersama keluarganya di kota Anju, Korut bagian barat.

Tidak diketahui pasti apakah Lim kembali ke Korut secara sukarela atau terpaksa. Mediamedia Korsel berspekulasi Lim diculik saat berusaha mengunjungi keluarganya di perbatasan China dengan Korut. Kepolisian Seoul tengah menyelidiki hal ini. Polisi memeriksa rumah dan rekening Lim di Seoul. Sumber kepolisian menyebut hanya ada sedikit petunjuk yang mengisyaratkan Lim berinisiatif pindah ke tempat lain.

“Otoritas terkait sedang menyelidiki pembelot Korea Utara, Lim JiHyun,” ujar wakil juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Lee YooJin, yang menangani urusan Korut.

Dalam video itu, Lim menyebut dirinya sebagai Chon HaeSong, yang diakui sebagai nama aslinya di Korut. Dia terlihat mengenakan pakaian tradisional Korea hanbok sutra dan lencana merah bergambar dua mendiang pemimpin Korut, Kim IlSung dan Kim JongIl. Dengan berlinang air mata, dia menjelaskan kehidupannya di Korsel yang disebutnya menderita dan uang paling dipentingkan.

“Saya pergi ke Korea Selatan dengan fantasi bahwa saya akan bisa makan dan tinggal dengan enak di sana, (Korea) Selatan bukan tempat yang saya bayangkan. Setiap hari di Selatan seperti neraka. Setiap malam … saya menangis memikirkan Tanah Air saya dan orang tua saya di Utara,” tutur Lim.

Dia juga menuding televisi Korea memaksanya untuk berbohong soal kehidupannya di Korut, agar membuatnya seolaholah lebih menderita. “Semua yang saya katakan di televisi ada naskahnya … untuk membuat Korea Utara terlibat biadab, bodoh,” ucapnya, sembari menyebut dirinya sebagai manusia sampah.

Beberapa pembelot Korut lainnya juga muncul kembali dalam program propaganda yang sama di Korut. Ini semakin memicu spekulasi bahwa mereka diculik oleh rezim komunis Korut atau dipaksa kembali dengan ancaman ditujukan pada keluarga mereka.