Tentang Nama Jalan, Mitos Sejarah, dan Harmonisasi Sunda-Jawa

Dulu, tidak ada nama Jalan Siliwangi, Pasundan, Padjajaran, atau hal-hal berkaitan dengan budaya Sunda di Jawa Timur. Sebaliknya, tidak ada nama jalan berkaitan dengan budaya Jawa di Bandung atau Jawa Barat. Konon, ada mitos sejarah di balik kenyataan itu.

3 Gubernur (Jabar, DIY, dan Jatim) turun tangan. Di Yogyakarta kini sudah ada nama Jalan Siliwangi dan Padjadjaran. Sementara di Jatim belum ada. Dan di Jabar, belum ada nama jalan Majapahit, Hayam Wuruk, atau yang berkaitan dengan budaya Jawa.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan ada mitos sejarah di balik tidak adanya nama jalan berkaitan dengan Sunda di Jawa. Sebaliknya, tidak ada nama jalan berkaitan dengan Jawa di Jabar atau Tanah Pasundan.

Menurut dia, peristiwa Pasundan Bubat yang terjadi 600-an tahun silam menyimpan emosi kolektif di masyarakat Sunda-Jawa. Perang Bubat atau Pasundan Bubat konflik antara Kerajaan Padjajaran dan Kerajaan Majapahit.

“Ganjalan sejarah dan psikologis itu membuat tidak adanya nama jalan Padjajaran dan Siliwangi di Jawa dan tidak adanya nama jalan Majapahit dan Hayam Wuruk di Jawa Barat,” kata Aher, panggilan akrab Ahmad Heryawan, saat menghadiri peresmian nama Jalan Padjadjaran dan Siliwangi di Yogyakarta pada Selasa (3/10/2017).

Aher menambahkan, meskipun seiring berjalannya waktu hal itu mulai terkikis tapi perasaan kolektif dengan sentimen negatif soal Sunda-Jawa jelas merugikan perjalanan bangsa ke depan.

“Pemberian nama-nama jalan ini sebagai salah satu bentuk untuk menghilangkan beban hambatan psikologis,” katanya.

Nah, Selasa (6/3/2018), Aher, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, dan Gubernur Jatim Soekarwo bertemu di Hotel Bumi. Kalau di Yogya sudah ada nama Jalan Siliwangi dan Padjadjaran, maka di Jabar dan Jatim akan segera mengikuti.

“Ini penting karena 661 tahun kita pada posisi yang ada problem kultural seperti ini,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto, menirukan sambutan Gubernur Soekarwo, Rabu (7/3/2018).

Di Surabaya, rencananya akan ada Jalan Pasundan dan Prabu Siliwangi. Menurut Pemprov Jatim, jalan ini mengganti sebagian Jalan Dinoyo dan Gunungsari. Sedangkan di Bandung akan ada nama Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk menggantikan Jalan Gazebo (depan Hotel Pullman) dan Jalan Kopo pendek (RS Immanuel).

Rencana tersebut di Surabaya tidak mulus. Pemerhati sejarah dan budaya serta komunitas paguyuban Arek Suroboyo berunjuk rasa menolak penggantian nama Jalan Dinoyo menjadi Pasundan. Mereka menilai Jalan Dinoyo sarat nilai sejarah, sehingga tak bisa diubah begitu saja.

Jika di Surabaya belum fix, di Bandung relatif kondusif. Tak ada aksi penolakan, hanya ada catatan dari pihak yang berkepentingan, termasuk dari pakar sejarah dan budayawan.

Banyak orang menilai penyematan nama jalan untuk harmonisasi Sunda-Jawa penting. Sebagian menganggap tidak perlu. Masing-masing memiliki perspektif berbeda. Yang jelas, belum ada kepastian rencana pengubahan nama jalan di Surabaya dan Bandung terwujud. Sebab kebijakan tersebut butuh proses. Ada mekanisme politik di DPRD, juga perlu persetujuan pemerintahan kota setempat.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *