Tak Percaya Surga, Stephen Hawking: Itu Hanyalah Kisah Dongeng

Mendiang Stephen Hawking meyakini bahwa surga atau kehidupan setelah kematian hanyalah ‘kisah dongeng’ bagi orang-orang yang takut mati. Pola pemikiran ini ditegaskannya dalam wawancara dengan media Inggris, The Guardian, beberapa tahun lalu.

Dalam wawancara eksklusif dengan media Inggris, The Guardian pada Mei 2011 lalu, seperti dikutip pada Rabu (14/3/2018), Hawking saat itu menyatakan tidak ada hal apapun yang terjadi setelah otak manusia berhenti mengerjap untuk terakhir kalinya.

Hawking yang lahir tahun 1942 ini, didiagnosis menderita penyakit motor neuron pada usia 21 tahun. Dia saat itu divonis hanya bisa hidup dua tahun lagi. Penyakit dengan nama amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang diderita Hawking merupakan penyakit yang menyerang saraf motorik otak dan tulang belakang. Akibatnya, Hawking sudah harus mengalami kelumpuhan di usia muda.

Pernyataan itu sedikit lebih jauh dari apa yang dipaparkannya dalam bukunya yang berjudul ‘The Grand Design‘ yang dirilis tahun 2010. Dalam buku itu, Hawking menyebut tidak diperlukan seorang pencipta untuk menjelaskan terbentuknya alam semesta. Buku itu menuai kecaman dari para pemimpin keagamaan.
Hawking harus berada di kursi roda dan berbicara menggunakan program khusus. Kondisinya ini tidak membuat Hawking takut pada kematian. Malahan, kondisi ini membawanya untuk menikmati hidup lebih lama.

“Saya telah hidup dengan prospek kematian dini selama 49 tahun terakhir. Saya tidak takut pada kematian, tapi saya tidak terburu-buru untuk mati. Saya punya banyak hal yang ingin saya lakukan terlebih dulu,” ucap Hawking kepada The Guardian.

“Saya menganggap otak sebagai komputer yang akan berhenti bekerja ketika ada komponennya yang rusak. Tidak ada surga atau hidup setelah kematian untuk komputer-komputer yang rusak; itu hanyalah kisah dongeng untuk orang-orang takut pada kegelapan,” imbuhnya.

Dalam wawancara dengan The Guardian ini, Hawking juga menolak pandangan soal hidup setelah kematian. Dia menekankan perlunya pemenuhan potensi Bumi dengan memanfaatkannya secara baik untuk kehidupan.

Saat ditanya lebih lanjut soal bagaimana seharusnya manusia hidup, dia menjawab singkat: “Kita harus mengejar nilai terbesar melalui tindakan kita.” ucapnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *