Tak Mampu Beli Beras, Keluarga Lansia di Kuningan Ini Makan Nasi Aking

Kuningan Bau tak sedap menusuk hidung saat menyambangi rumah kayu milik Suhadi (80 tahun) di Dusun Tiga RT 01 RW 03 Desa Sukaharja, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Kamis sore (24/8/2017).

Bau tak sedap itu berasal dari nasi aking yang tengah dijemur di halaman rumahnya. Baunya khas. Asih (31 tahun), salah satu anak Suhadi dengan telaten menjemur nasi aking. Suhadi tinggal bersama istrinya Ruki (80) juga Asih serta dua cucunya Siti (19) dan Rian (5).

Bagi keluarga Suhadi, nasi aking sangatlah berharga. Nasi aking menjadi penyambung hidup keluarga miskin itu. Setiap harinya, Asih bekerja sebagai buruh cuci, sedangkan sang ayah, Suhadi bekerja “memprek batu” (membelah batu).

Asih mengaku keluarganya sudah lima tahun mengonsumsi nasi aking, karena tidak mampu membeli beras. Nasi aking adalan makanan yang berasal dari sisasisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari.

Dari hasil kerjanya sebagai buruh cuci tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Begitupun dengan Suhadi yang bekerja “memprek batu”. Setiap pekannya, Asih hanya menerima upah sekitar Rp40 ribu. Sedangkan hasil penjualan batu Suhadi hanya Rp80 ribu setiap dua pekan sekali, itu pun tak menentu.

“Setelah dijemur, kemudian dibersihkan dan direndam terlebih dahulu. Setelah itu, baru dimasak. Lauknya hanya garam, kadang juga ada yang ngasih tempe,” jelas Asih.

Asih mengaku jatah beras sejahtera (rasta) dari Bulog yang dibagikan setiap bulan oleh Pemerintah Desa Sukaharja kadang tak bisa ia tebus karena tak memiliki uang.

“Kadang ditebus, kadang juga tidak. Kalau nebus itu harus bayar Rp12 ribu untuk lima kilogram rasta. Kalau nasi aking kan murah, Rp3 ribu per lima kilogramnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Kabupaten Kuningan AKBP Yuldi Yusman beserta jajarannya memberikan bantuan berupa sembako. Ia akan berkordinasi dengan pihak kecamatan untuk membantu meringankan beban Suhadi dan keluarganya. Rencananya, Polres Kuningan dan pihak kecamatan akan memberikan tempat tinggal yang laik huni.

“Kita mencoba memberikan tempat tinggal. Mungkin bisa dibantu dengan memberikan bangunan yang layak. Kalau tanah sih tak bisa dimiliki olehnya (Suhadi), karena ini tanah milik desa,” tegasnya.