Sosok Eks Ketua Timses Trump yang Dituduh jadi Agen Rusia di AS

Mantan manajer kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Paul Manafort ditetapkan sebagai tersangka dengan 12 dakwaan. Manafort di antaranya didakwa terlibat dalam konspirasi bersama agen Rusia untuk melawan AS dan melakukan pencucian uang.

Sejak kemarin dia dikenai tahanan rumah. Pengadilan di Washington DC juga menetapkan wakil Monafart, Rick Gates sebagai tersangka. Seperti apa sosok Manafort?

Manafort lahir pada 1949 di New Britain, Connecticut, Amerika. Di kota ini juga sang ayah menjadi wali kota dari Partai Republik selama tiga periode. Sama seperti Trump, Manafort dibesarkan dan tinggal di sebuah lingkungan real estate.

Selain berkecimpung di politik, sang ayah juga membangun bisnis keluarga dengan mendirikan Manafort Brother Incorporation. Namun Manafort muda tak tertarik meneruskan bisnis keluarga. Dia memilih hijrah ke Washington DC untuk berpolitik.

Dikutip dari businessinsider.sg, tahun 1976 setelah lulus dari sekolah hukum, Manafort bergabung menjadi Tim Penasihat Kampanye calon Presiden dari Partai Republik Gerald Ford. Sejak itu dia menjadi pelobi dan konsultan politik internasional.

Sejumlah pemimpin dunia tercatat pernah menggunakan jasa Manafort. Seperti Presiden Republik Demokratik Kongo Mobutu Sese Seko yang dikenal diktator dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Reputasi internasional Manafort membuat kagum kalangan Demokrat.

Pada 2004, Manafort menjadi penasihat utama Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang juga orang kuat pro Rusia. The New York Times edisi 19 Juli 2017 menyebut bahwa selama menjadi penasihat Yanukovych, Manafort memiliki utang sebesar USD 17 juta kepada seorang miliarder Rusia, Oleg V. Deripaska yang bersekutu dengan Presiden Vladimir Putin.

Manafort menggunakan uang pinjaman itu untuk mendirikan stasiun TV di Ukraina. Perusahaan itu bangkrut, tetapi Manafort tak mengembalikan utangnya ke Deripaska. Pada 2006, Manafort kembali menandatangani kontrak kerjasama tahunan dengan Deripaska senilai USD 10 juta.

Menurut kantor berita Associated Press yang dikutip businessinsider.sg, kerjasama Deripaska dan Manafort itu untuk kepentingan lobi yang akan menguntungkan pemerintahan Putin.

Hubungan Manafort dengan Trump

Manafort dan Trump telah terhubung sejak 1980an. Kala itu Trump menggunakan jasa perusahaan konsultan milik Manaford. Pada Maret 2016, Trump meminta Manafort untuk mengelola Konvensi Nasional Partai Republik dan menggalang dukungan untuk Pemilu AS.

Pengalaman Manafort saat menjadi tim kampanye Presiden AS Gerald Ford membuat dia ditunjuk menjadi Ketua Tim Kampanye dan Manajer Strategi Donald Trump. Dia menjadi manajer de facto kampanye setelah Trump memecat Corey Lewandowski pada akhir Juni 2016.

Namun pada Agustus atau dua bulan kemudian, lembaga anti korupsi di Kiev Ukraina menemukan ada aliran dana tak wajar senilai USD 12,7 juta ke rekening Manafort. Diduga dana tersebut berasal dari Yanukovych, eks Presiden Ukraina yang bersekutu dengan Putin.

Tiga hari setelah The New York Times menurunkan laporan soal aliran dana tersebut, Manafort mengundurkan diri dari Ketua Tim Kampanye Donald Trump. Pada Rabu, 17 Mei 2017, Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat Rod Rosenstein mengumumkan bahwa Departemen Kehakiman memulai penyelidikan atas dugaan kasus intervensi Rusia di pemilihan presiden AS.

Pada Senin kemarin, Paul Manafort didakwa terlibat dalam konspirasi bersama Rusia melawan AS. Manafort juga didakwa melakukan pencucian uang.

Trump bereaksi atas dakwaan yang diberikan kepada Paul Manafort tersebut. Melalui akun Twitternya, dia menyerang pengdilan setempat yang tak mengusut dana kampanye Hillary Clinton dan Demokrat.

“Maaf, itu setahun yang lalu, sebelum Paul Manafort menjadi bagian dari kampanye Trump. Tetapi kenapa tidak fokus ke Hillary dan Demokrat?” cuitnya melalui akun @realDonaldTrump, Senin (30/10/2017). Dia juga membantah memiliki hubungan khusus dengan Rusia.

Related Post