Sosok Ayah Tiri yang Ajak Obama ke Indonesia Pertama Kali

Indonesia dibayangkan sebagai pulau rempah-rempah saat Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Obama masih berusia sekitar 6 tahun. Kala itu dia masih tinggal di Hawaii, AS, sebelum akhirnya diajak ayah tirinya ke Indonesia.

Ibu Obama, Ann Dunham, menikah untuk kedua kalinya dengan Lolo Soetoro yang berkebangsaan Indonesia. Ada pun ayah kandung Obama bernama sama dengan dirinya, Barack Husein Obama.

“Dia telah meninggalkan Hawaii pada 1963, saat aku berusia 2 tahun. Jadi, sebagai seorang anak, aku hanya dapat mengenal dirinya melalui cerita yang disampaikan oleh ibuku dan kakek-nenekku,” kata Obama dalam buku yang ditulisnya, ‘Dreams from My Father’, seperti dikutip detikcom, Jumat (23/6/2017).

Ayah dan ibu Obama bercerai pada tahun 1963. Hingga akhirnya ibu Obama dilamar oleh Lolo Soetoro.

“Kami tinggal di Indonesia selama tiga tahun waktu itu, sebagai hasil dari pernikahan ibuku dengan seorang berkebangsaan Indonesia bernama Lolo, mahasiswa lain yang di Universitas Hawaii. Nama lelaki itu berarti ‘gila’ dalam bahasa Hawaii, yang membuat Kakek selalu tertawa geli. Namun, arti nama tersebut tidak sesuai untuk lelaki itu,” tutur Obama.

Dikutip dari berbagai sumber, nama lengkap ayah tirinya adalah Lolo Soetoro Mangunhardjo yang lahir pada tahun 1935 di Bandung. Lolo menempuh studi sarjana di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan lulus pada tahun 1962.

Dia kemudian bekerja sebagai pegawai sipil di TNI hingga kemudian mendapat beasiswa ke Universitas Hawaii. Dia lulus pada tahun 1964.

Obama juga bercerita tentang ciri-ciri ayah tirinya dalam buku yang dia tulis. Dia menggambarkan sosok yang dicintai ibunya itu sebagai pria yang tampan.

“Lolo memiliki tingkah laku yang baik dan lemah lembut terhadap orang lain. Dia pendek dan berkulit cokelat, tampan, dan dengan rambut hitam dan bentuk tubuhnya, dia mungkin sering dianggap sebagai orang Meksiko atau Samoa yang serupa dengan orang Indonesia,” ungkap Obama.

Obama lahir pada tahun 1961 sehingga dia mengenal Lolo saat berumur sekitar 4 tahun. Dia ingat bagaimana ayah tirinya sering bermain catur dengan kakeknya dahulu.

“Sejak aku berusia 4 hingga 6 tahun, dia sering menghabiskan berjam-jam lamanya bermain catur dengan Kakek dan lama pula bermain gulat denganku. Ketika suatu hari ibuku mengajakku bicara dan memberitahukan bahwa Lolo telah melamarnya dan menginginkan kami pindah ke suatu tempat yang jauh, aku tidak terkejut dan tidak menunjukkan keberatan,” kata Obama.

Ya, Obama dan ibunya waktu itu diajak untuk pindah ke Indonesia. Sebuah negara yang mulanya tak begitu diketahui oleh Obama kecil.

Sesampainya di Indonesia, banyak hal baru yang dipelajari oleh Obama. Dia bahkan diperlihatkan bagaimana cara menyembelih ayam.

Saat itu ibunya sempat menahan agar dia tak diperlihatkan cara menyembelih ayam. Tetapi Lolo berpikir bahwa Obama harus tahu dari mana asalnya makan malam yang disantapnya.

“Aku memandang ibuku, kemudian memandang wajah lelaki yang memegang ayam. Lolo mengangguk lagi, dan aku melihat lelaki itu menggeletakkan unggas itu, menahannya dengan lembut di bawah salah satu lututnya dan meletakkan leher binatang itu di atas selokan yang sempit,” kenang Obama.

Ayam itu sempat memberontak sedikit sebelum akhirnya menyerah. Hingga akhirnya lelaki teman ayah tiri Obama itu menyembelih si ayam hanya dengan satu gerakan.

Selain itu ada pula cerita ketika Lolo mengajari Obama tinju. Waktu itu Obama baru pulang ke rumah ayah tirinya sambil menangis karena bolanya direbut bocah di ujung jalan.

Kepala Obama benjol sebesar telur karena dilempari batu. Menurut Obama, ‘pertarungan’ itu tak adil.

“Sepulang kerja keesokan harinya, Lolo membawa dua pasang sarung tinju. Sarung itu beraroma kulit baru. Sarung tinju yang besar berwarna hitam, yang lebih kecil berwarna merah, tali keduanya terikat bersama dan tergantung di pundaknya,” kata Obama.

Setelah sepasang sarung tinju dipasangkan ke tangannya, Obama seperti keberatan. Kedua tangannya menjuntai begitu saja.

“Lolo menggelengkan kepalanya dan menaikkan sarung tinju itu untuk menutupi wajahku,” ungkap Obama.

Dalam bukunya yang lain, ‘The Audacity of Hope’, Obama menggambarkan betapa sederhananya sosok ayah tirinya itu. Sampai-sampai Obama hanya disekolahkan di SD negeri, sementara anak ekspatriat lainnya bisa belajar di sekolah internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *