Soal Bayi Debora, Jimly: Pasien Gawat Darurat Itu Prioritas!

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie memberi tanggapan atas kematian bayi Debora yang diduga karena lambannya penangan di RS Mitra Keluarga Kalideres. Ia mengatakan setiap warga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, dan pasien gawat darurat harus menjadi prioritas.

“Hak warga untuk mendapat pelayanan kesehatan itu kewajiban negara. Negara, (terkait) kesejahteraan sosial, bertanggung jawab,” ujar Jimly di kantor pusat kegiatan ICMI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/9/2017).

Jimly mengatakan pihak swasta ataupun yayasan yang akan mendirikan rumah sakit harus mengikuti peraturan yang ada. Meski begitu, banyaknya rumah sakit swasta tidak boleh membuat negara lepas tanggung jawab dalam melayani masyarakat.

“Ada yayasan swasta, bikin rumah sakit ada aturannya kan, tapi itu tidak melepaskan tanggung jawab negara. Misalnya untuk orang miskin diadakan BPJS, maka semua harus dilayani. Hanya, tidak semua masyarakat, rumah sakit punya kontrak dengan BPJS. Ada juga rumah sakit yang belum. Maka, dalam hal demikian, jadi tidak terikat dengan BPJS,” kata Jimly.

Ia mengatakan, meski pihak rumah sakit tidak memiliki kerja sama dengan BPJS, bukan berarti rumah sakit tak mau melayani masyarakat yang tidak mampu. Rumah sakit harus tetap mengikuti peraturan yang terdapat dalam UU dan melayani pasien.

“Tetapi, di luar soal BPJS, semua rumah sakit sesuai dengan ketentuan UUD, harus melayani pasien gawat darurat. Ada atau tidak ada BPJS, dia wajib melayani. Jadi, kalau ada pasien gawat darurat ditanyain dulu KTP, duit ada apa nggak, itu nggak boleh kayak begitu,” kata Jimly.

Jimly mengatakan penanganan pasien gawat darurat merupakan hal prioritas, yang harus dilakukan tanpa melihat mampu atau tidaknya seseorang. Menurutnya, tidak melayani pasien dengan dalih tidak adanya biaya merupakan salah satu motif manajemen mencari untung.

“Kalau gawat darurat itu nomor satu, mungkin sudah ada penanganan itu. Sudah dilakukan, tapi selanjutnya dilihat, Wah ini nggak punya duit. Jadi itulah akibat motif manajemen yang mencari untung. Jadi pasien, orang sakit, orang sengsara dijadikan objek,” ujar Jimly.