SNSD dan Revolusi yang Belum Selesai

Grup SNSD asal Korea dikabarkan akan didatangkan untuk memeriahkan Hari Proklamasi. Mungkin juga untuk hajatan lain. Kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, lewat SNSD, “kita…bisa mencontoh bagaimana Korea lewat keuletan dan kedisiplinannya bisa mendunia dengan KPopnya.”

Anggaplah benar bahwa SNSD dilahirkan lewat dua sifat positif itu. Tapi, apakah para penggemar KPop sungguhsungguh menyukai grupgrup Korea dikarenakan dua alasan itu? Lebih gamblang lagi; apakah keuletan dan kedisiplinan adalah tabiat yang para fans lihat dan panuti ketika menonton idola mereka itu?

Yuk, kita kaji sebentar. Levi Reyes alias Jonginationss (KkamJongin) dalam tulisannya yang berjudul How Do kpop influences Teenage? merangkum bagaimana KPop memengaruhi anakanak muda. Pertama, serbaneka warna dan kostum memikat mata. Kedua, lirik yang unik, betapa pun tidak dipahami oleh audiens nonKorea. Ketiga, artis KPop juga pemain Koreanovela (sinetron Negeri Ginseng). Bodi menjadi jaminan mutu. Keempat, gerak tari nan heboh.

Lebih ilmiah, pada 2009 seorang pengamat musik Korea menyebut, sukses KPop merupakan efek drama Korea. Riset di Korea menyimpulkan bahwa popularitas KPop diperkuat oleh sentimen antiJepang, dukungan Pemerintah Korea, dan koreografi yang menawan (Cho, 2005). KPop juga sukses karena menghadirkan sebuah genre musik yang bergetaran dan berkilauan (2010). Kemiripan budaya Asia merupakan penyebab lain (Cai, 2008). Di Hong Kong, KPop meraup keuntungan dari musik lokal yang stagnan.

Jadi benarkah keuletan dan kedisiplinan yang bakal menjadi muatan positif dalam pentas KPop bagi pemirsa khususnya remaja Indonesia? Saya berpikiran positif bahwa Pak Kepala Bekraf ingin berkontribusi bagi revolusi mental. Tapi, agar mental berrevolusi, masyarakat khususnya anakanak muda harus bangun dan menjejakkan kaki mereka ke alam nyata.

Pun, siapa yang masih ingat butir ketiga Tricakti; berkepribadian di lapangan kebudayaan? Nah, apakah fiturfitur superfisial KPop seperti tertulis di atas yang akan disemikan sebagai kepribadian kita. Utopis agaknya. Lha wong The Beatles dan Koes Bersaudara saja dipandang sebagai kontrarevolusi akibat penampilan luar mereka.

Awas, Bung Karno bisa tibatiba bangkit lalu menjerit, “Saudarasaudara, revolusi belum selesai!”