“Share Location” dan Lenyapnya Satu Sendi Sosial Kita

Salah satu agenda utama saya setelah meninggalkan Perth dan pulang ke Bantul adalah sowan kepada anak-anak muda yang tajam dan penuh semangat, Agus Mulyadi dan Prima Sulistya.

Maka malam itu saya minta mereka memberi ancar-ancar di mana kami bisa berjumpa. Ekspektasi saya dengan pertanyaan itu sederhana saja. Yakni, Prima akan mengetik via Whatsapp, “Jalan Kaliurang sebelum UII ada lampu merah, belok kanan, sekitar dua kilo sehabis jembatan ada jalan kecil sebelah kios bensin, belok kiri teruuuus. Nanti ketemu satu-satunya pertigaan di sebelah kanan, masuk, trus ada banyak motor parkir di sebelah kanan jalan. Itu tempatnya, Mas.”

Tapi ternyata bukan itu yang saya dapatkan. Prima cuma memencet share location, dan selesai perkara. Jadi saya pun berangkat menyetir kendaraan sambil tengak-tengok HP, melihat ke tanda panah biru di Google Maps yang mengantarkan saya hingga ke rumah di lereng Merapi itu.

Ini sedikit mengejutkan buat saya. Ada semacam gegar dan gagap budaya, segagap saya mendengar kata Go-Jek, Go-Car, Grab, Go-Food, Go-Massage, dan go-go lainnya yang bermunculan dalam obrolan sehari-hari bahkan hingga di sudut-sudut kampung.

Di Perth, pemakaian aneka aplikasi semacam itu kalah masif ketimbang di Jogja. Taksi Uber memang merajalela, dan mulai mencekik taksi konvensional. Tapi taksi motor tidak ada. Orang juga tetap lebih banyak masak di rumah atau nongkrong di kafe ketimbang pesan makan malam lewat aplikasi. Barangkali karena Perth tidak semacet Jogja, sehingga jalan sendiri masih tetap mudah.

Untuk mendatangi suatu alamat, orang Perth memakai GPS. Saya sendiri memakai Google Maps dalam menjalankan pekerjaan saya di jasa pengiriman, tanpa pernah memencet tombol direction. Itu karena buat saya lebih asyik membaca Google Maps sebagai peta, bukan sebagai suara aba-aba.

Namun seumur-umur di Perth sebagai kurir, belum pernah satu kali pun ada orang mengirim share location ke saya.

Bisa jadi ada dua sebabnya. Pertama, karena orang Perth sangat sedikit yang memakai Whatsapp (mayoritas mereka masih pakai SMS!). Kedua, karena alamat-alamat sudah tertata rapi dan jelas, lengkap dengan nomor rumah masing-masing. Dengan begitu, penggunaan GPS masih tetap jadi pilihan paling gampang.

Saya tidak hendak membicarakan pemakaian terobosan IT dan alat-alatnya yang terasa lebih marak di Jogja ketimbang di Perth. Yang lebih membuat saya galau adalah sejenis rasa rindu.

Selama di Perth dan menghamba kepada GPS serta Google Maps, saya sangat ingin kembali ke Bantul dan menjalani pengalaman-pengalaman sosial sederhana seperti berhenti di warung lantas bertanya, “Bu, ndherek tanglet, numpang tanya, kampung Karangpule arah mana ya, Bu? Oh, sini sudah Karangpule? Rumahnya Mas Kelik sebelah mana nggih?”

Dengan mekanisme pencarian alamat model tradisional begitu, keterampilan berbahasa lokal tetap hidup. Saya ingat, dulu kalau pergi berdua dengan kawan saya Nana Juansa yang orang Sunda dan cuma bisa berbahasa Jawa ngoko alias Jawa kasar itu, tiap kali bertanya alamat selalu sayalah yang dia suruh-suruh.

Selain peluang konservasi bahasa lokal, salah satu ceruk untuk menerapkan unggah-ungguh alias tata krama juga tetap eksis. Orang numpang tanya ke orang lain yang tidak dikenal tentu tak bisa sembarangan, bukan? Apalagi kalau harus bertanya kepada PKS, alias pemuda kampung setempat. Standar-standar etiket pun mesti dijalankan dengan lebih berhati-hati.

Dengan ceruk kesempatan penerapan model-model tata krama tersebut, berlaku juga social punishment sebagai alat kontrol.

Bertahun silam, seorang lelaki bermotor berhenti di dekat rumah saya untuk numpang tanya arah tempat. Malang, yang dia tanyai pemuda dusun sebelah, Bambang namanya. Dengan penuh semangat Bambang menunjukkan arah yang jelas. “Ini teruuuus saja ke Timur, sampai lampu merah, belok kanan, teruuuuus saja sampai ketemu gapura gede. Nanti tanya lagi di situ, Mas.”

Gapura yang disebut Bambang itu jauhnya sekitar tiga kilo di arah yang berlawanan dengan lokasi yang mau dituju si mas-mas bermotor.

Kurang ajar sekali si Bambang itu, bukan? Tapi Bambang memang sengaja mblasukke, kalau istilah Jawanya. Menyesatkan, meski tidak harus dikaitkan dengan kata ‘menyesatkan’ di masa ini yang agak dekat dengan ‘penistaan’.

Bambang sengaja mblasukke karena si lelaki bermotor berhenti tanpa turun dari kendaraan, tanpa mematikan mesin, dan tanpa membuka helm. Itu sikap yang secara nilai-nilai lokal dianggap tidak pantas dan keluar dari standar sopan santun. Maka hukuman sosial pun dijalankan.

***

Sekarang, ternyata share location menghilangkan semua romantika itu. Penduduk suatu kota, baik asli maupun pendatang, tidak merasa perlu sekadar belajar bahasa setempat untuk keperluan bertanya alamat. Keterpaksaan sosial untuk sedikit belajar tata krama ketika berjumpa dengan orang asing juga berkurang. Konsep-konsep kearifan (atau kenakalan?) lokal seperti mblasukke tak lama lagi juga akan lenyap.

Beginilah teknologi datang kepada kita. Ia menawarkan efektivitas dan efisiensi, namun melenyapkan hal-hal lama yang kadang membuat kita menikmati takdir sebagai manusia. Lalu dengan keterikatan dan ketergantungan kepada teknologi, masihkah kita utuh dalam kemanusiaan kita?

Pertanyaan yang lebih mendasar lagi bisa saja diajukan: Apakah itu manusia? Benarkah komputer lebih rendah derajatnya daripada manusia, sehingga kita mesti resah dengan perubahan nilai dan segenap gejalanya? Atau, jangan-jangan kita ini juga cuma robot, yang bisa menciptakan robot-robot lain yang bakalan mengganggu eksistensi para robot lama?

Mari renungkan dalam-dalam. Namun kali ini tak bisa kita sekadar mengandalkan Google. Kita harus berbincang berpanjang-panjang, tertawa bersama, berdebat dengan gembira, berjumpa satu sama lain sebagai sesama manusia.

Baik, untuk keperluan ini, saya akan berangkat menjumpai Anda semua. Jangan lupa share location, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *