Sepenggal Cerita Pasutri asal Gresik yang Berhaji dari Amerika

Imam Ahmad (59) dan istrinya, Masfufah (55), pasutri asal Gresik Jawa Timur, sudah lama hidup di Boston, Amerika Serikat. Keduanya berhaji dari Negeri Paman Sam tahun ini. Bagaimana proses dan tahapan berhaji dari sana?

Imam dan istri mampir ke Kantor Urusan Haji (KUH) Daerah Kerja (Daker) Mekah, Sabtu (26/8/2017) sekitar pukul 17.45 Waktu Arab Saudi (WAS). Mereka bertanya kepada petugas haji alamat hotel tempat temannya yang berasal dari Gresik menginap. Petugas haji kemudian menunjuk arah hotel, lalu Imam dan istri bergegas berjalan kaki.

“Teman saya asal Gresik juga. Dia berhaji dan tinggal di hotel ini,” kata Masfufah sambil menunjukkan secarik kertas bertuliskan nama orang dan nama hotel. Lokasi hotel berjarak lebih dari 500 meter dari kantor Daker Mekah.

Tak mudah bagi Imam dan istri mencari temannya. Mereka baru pertama ke Mekah. Ponsel keduanya off, koneksi belum di-setting untuk aktif di Saudi. Dalam komunikasi terakhir, sang teman mengirim alamat penginapannya selama berhaji.

Karena Imam dan istri tak bisa mengontak temannya secara langsung, pencarian dilakukan secara manual alias bertanya sana-sini. Beruntung di sekitar Daker Mekah, banyak hotel dihuni jemaah haji Indonesia. Kepada mereka lah, Imam dan istri ‘mengadu’. Jemaah yang ditanya, sebagian di antaranya hanya mengira-ira posisi hotel. Maklum mereka juga orang asing di Tanah Suci.

Imam dan istri tak kesulitan berkomunikasi. Bahasanya agak campur aduk. Saat bertanya kepada warga setempat, keduanya menggunakan bahasa Inggris. Kepada jemaah Indonesia, mereka menggunakan bahasa Indonesia dan kadang bahasa Jawa medok dengan logat Gresik (Jawa Timuran).

Pasutri dengan 2 anak itu bergeser dari satu hotel ke hotel lain. Jalan naik turun dan cukup membuat nafas terengah. Ditambah lagi, suhu cukup panas, berkisar 35-40 celsius.

Di sela pencarian alamat teman, Imam mengatakan tahun ini adalah kali pertama dia dan istrinya berhaji. Dia berangkat dalam satu rombongan berjumlah 45 orang dan diberangkatkan oleh agen travel.

“Kami belajar manasik (tata cara haji) via internet karena agen di sana cuma memberangkatkan saja. Tidak seperti di Indonesia,” jelas pria yang mengaku sudah pensiun dari pekerjaannya dan tak menyebut profesinya ini. Sedangkan istrinya bekerja di perusahaan asuransi.

Tak ada daftar tunggu untuk berhaji di AS. “Bahkan seminggu sebelum musim haji, bisa berangkat,” kata Imam yang sudah hidup di AS sejak 33 tahun silam.

Berapa biaya berhaji di AS? Imam menyebut haji khusus bertarif USD 8.000, sedangkan reguler biasa USD 6.000. Jika dinominalkan dalam rupiah dengan kurs saat ini, maka biaya haji khusus sekitar Rp 105 juta dan haji biasa Rp 80 juta.

Sebagai perbandingan, biaya resmi haji khusus di Indonesia (dikelola swasta) minimal di kisaran Rp 105 juta. Tapi ada juga yang bertarif hingga Rp 400-an juta. Sedangkan haji reguler (dikelola pemerintah) ditetapkan sebesar Rp 34 juta yang sebagian dananya dikembalikan ke jemaah sebagai living cost atau bekal selama di Tanah Suci.

Imam tak menjelaskan motivasinya berhaji. Dia hanya menyebut memiliki bekal menuju Tanah Suci. “Ada uang cukup dan memang sudah saatnya (berhaji). Saya dan istri putuskan berangkat dan mendaftar 2-3 bulan sebelum musim haji,” jelasnya.

Setelah lebih dari 30 menit berkeliling mencari alamat hotel temannya, Imam dan istri menemukan titik terang. Seorang jemaah asal Gresik mengiyakan alamat yang dicari berdasarkan nomor sektor. Hanya saja jemaah tersebut tak kenal dengan teman Imam dan Masfufah, lalu mengumumkan via pengeras suara hotel.

Ada rasa lega di wajah pasutri itu. Di lobi sambil menunggu keberadaan temannya, Imam dan istrinya berbincang dengan beberapa jemaah asal Gresik. Dengan logat Jawa Timuran, mereka menyebut nama desa dan kecamatan di Gresik. Situasi khas saat orang jauh dari tanah kelahiran dan bertemu dengan orang dari daerah asal.

Sama seperti jemaah Indonesia, Imam dan istri menempuh jarak ribuan kilometer ke Tanah Suci. Jemaah haji Indonesia berangkat dari timur, sedangkan Imam dan istri berangkat dari barat. Mereka dipertemukan dalam momen istimewa: ibadah haji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *