Selain Sampah, Wagub Jabar Akui Limbah Pabrik Cemari Citarum

Bandung Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyatakan selain sampah, permasalahan terbesar di Sungai Citarum saat ini adalah limbah industri. Menurutnya perlu penanganan serius dan ektrem untuk menyelesaikan masalah ini.

Pasalnya, kata dia ribuan industri yang berada di sekitar aliran Sungai Citarum keberadaanya menyebar tidak dalam satu kawasan industri. Sehingga menyulitkan pihak terkait dalam melakukan pengawasan bila ada industri yang membuang limbah tanpa pengolahan.

Selain itu, lanjut dia, tidak semua industri memiliki tempat pengolahan limbah. Hal ini yang membuat rusaknya Sungai Citarum. “Untuk sampah sebetulnya alhamdulillah sudah berkurang. Kecuali untuk limbah memang masih belum teratasi dengan baik,” kata Deddy, di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (18/7/7).

Dia juga mengungkapkan di wilayah Bandung raya belum ada kawasan industri. Ke depan menurutnya perlu dibangun kawasan industri sehingga pengawasan masalah limbah ini bisa lebih mudah ditangani. “Harus ada kawasan industri baru. Di Bandung Raya ini belum ada (kawasan industri). Saya rasa perlu penataan sehingga bisa mengontrol,” katanya.

Untuk jangka panjang pihaknya telah memiliki rencana untuk memindahkan semua industri di Bandung Raya ke wilayah Rancaekek. “Ekstrem ke depan pindahin saja semua pabriknya ke Rancaekek di tanah sawah yang sudah rusak semua. Saya kira itu harus Ekstrem. Sebab kalau tidak limbah cair itu sangat mengganggu,” ujarnya.

Untuk mewujudkan rencananya itu, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) membicarakan hal ini. Terutama membahas perubahan tata ruang dari pertanian menjadi kawasan industri.

“Membicarakan sawah itu (luasnya) 500 hektar sudah tidak produktif. Tanggung amat ya udah kita jadiin kawasan industri nanti cetak lagi sawah baru di tempat lain. Tapi ini rencana jangka panjang dan masih perlu pembahasan,” ucapnya.