Sekolah 8 Jam 5 Hari Pisahkan Anak dari Kehidupan Sosial

Solo Peraturan Mendikbud No 23 Tahun 2017 yang mengatur tentang lima hari sekolah menuai kritik dari berbagai pihak. Budayawan yang juga mantan Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sardono W Kusumo, termasuk yang salah satunya. Selain akan membuat anak tertekan, sistem itu juga akan memisahkan anak dari kehidupan sosialnya.

“Justru seharusnya kita saat ini semakin mampu meleburkan batas pendidikan formal dan non formal di masyarakat. Masyarakat kalau dilibatkan juga akan ikut bertanggungjawab. Anakanak ini jangan dipisahkan dari kehidupan sosialnya dengan cara seperti itu,” tegas Sardono kepada wartawan di Solo, Selasa (8/8/2017).

Jika Pemerintah hanya menekankan pada pendidikan formal, lanjutnya, tanggung jawab sosial masyarakat untuk ikut terlibat juga akan melemah. Selain itu anakanak juga akan kehilangan kepekaan sosial. Situasi seperti itu justru akan semakin membahayakan pada perilaku anakanak tersebut di kemudian hari dalam kehidupan.

Sardono mengaku heran dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, saat ini dimanapun sedang giat memberikan ruang kepada masyarakat untuk terlibat, bukannya malah dipisahkan. Cara yang ditempuh Pemerintah ini hanya mempermudah pengawasan terhadap anakanak, namun berpotensi merusak seluruh sistem pembentukan nilai di masyarakat.

“Ini ada suasana temporal yang membuat kita ketakutan. Tapi jangan sampai ketakutan itu mengalahkan kepekaan kita dalam membaca rajutan nilainilai dalam komunitas masyarakat kita sendiri. Belum lagi desain dan rancangan bangunan sekolah kita itu sama sekali tidak nyaman untuk berlamalama. Anak akan tertekan, bisa timbul persoalan lain pada mereka kalau dipaksa,” lanjutnya.