Robyn Soetikno, Mengemas Kesehatan dalam Digital

Senyum semringah tersungging dari bibirnya, kala bertemu siang itu. Ketika masuk coffeshop, ia langsung mengambil segelas infused water dari pitcher yang disediakan, dan menuju tempat kami duduk.

“Halo, maaf ya telat,” ujarnya sambil langsung menyalami kami. Wanita berwajah imut itu, tersenyum ramah.

Rabu siang itu, 21 Februari 2018, kami bertemu Tiffany Robyn Soetikno. Mungkin, namanya tak santer terdengar bak artis ibu kota yang rajin muncu di televisi. Namun, kiprah dan prestasinya di dunia kesehatan tak kalah tandingan.

Jika mengetik nama Robyn di mesin pencari, mungkin Anda akan menemukan beberapa artikel yang menyebutkan kiprahnya di dunia bisnis digital yang tak jauh dari support dari perusahaan obat terkemuka Dexa Medika. Ya, Robyn adalah generasi ketiga grup Dexa.

Meski sebagai pewaris bisnis, Robyn tak lantas bergantung pada perusahaan keluarga. Di usia yang masiih sangat muda, ia dan beberapa teman-temannya justru membangun konsep bisnis yang berbeda.

Siang itu, kami dan Robyn sepakat untuk bertemu di Kopi Manyar daerah Bintaro Jakarta Selatan. Awalnya, kami menduga, pertemuan ini akan lebih formil karena terkait perusahaan, namun dugaan kami salah.

Coffeshop sekaligus galeri seni rupa tempat kami bertemu ini sangat terkesan artsy dan santai. Pemiliknya adalah salah satu arsitek Indonesia yang sudah go international. Robyn sengaja memilih tempat ini sebagai meeting point.

“Saya ke sini beberapa kali. Tempat ini, meskipun terpencil dan susah dicari, tetapi banyak banget yang datang ke sini,” ujarnya kepada VIVA.

Robyn adalah salah satu generasi milenial yang berpresasi. Smart, aktif, dan open minded itulah kesan saat bertemu Robyn pertama kali. Siapa yang menduga, gadis manis kelahiran 19 Oktober 1993 ini, ternyata adalah pendiri PT Global Urban Esensial (GUE), perusahaan yang menaungi aplikasi online ‘GUESehat’, ‘Teman Buml’, dan e-commers ‘GoApotik’.

Obrolan kami dengan Robyn siang itu dimulai dengan kisahnya mengapa tertarik dengan dunia kesehatan dan bisnis digital. Robyn berkisah, meskipun berlatar belakang keluarga dengan bisnis farmasi, namun ketertarikannya pada kesehatan tak bermula karena itu.

“Enggak juga (bukan karena keluarga), keluarga saya juga bukan yang tipe senang olahraga ,atau yang health banget. Kita tetap jaga kesehatan ya, dengan cara kita sendiri,” ujarnya.

Kesenangan akan konten psikologi justru membawa Robyn menyukai dunia kesehatan.

“Aku tertarik dengan psikologi kesehatan awalnya, karena penyakit skoliosis yang aku derita. Waktu itu di sekolahku ada anak yang juga kena skoliosis (minor), tetapi dia menyikapinya dengan biasa aja. Kami tetap beraktivitas bareng, dia balet dan melakukan aktivitas lain seperti biasa. Di lain sisi, ada orang yang menanggapi kondisi penyakit tertentu dengan berbeda. Nah, dari situ aku memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat respons yang berbeda terhadap seseorang yang mengidap penyakit, dari situ aku tertarik ke psikologi kesehatan,” jelasnya.

Memulai bisnis digital

Bisnis digital yang diusungnya pertama kali adalah GoApotik. Ia berkisah, ide untuk membuat  bisnis online pertama kali datang, ketika dia terjun menjajal membantu penjualan di perusahaan Ayahnya, dan menemukan potensi penjualan online.

“GoApotik ada dari 2014.  Dexa kan ada distributornya, mereka jualan obat bebas di online lewat GoApotik. Aku baru lulus kuliah dan nyoba masuk ke definisi brand, lalu mencoba mengembangkan GoApotik sebagai marketplace, saya pikir ingin kita bantu teman-teman yang di apotek.”

Memulai berjualan online bukanlah hal yang mudah bagi Robyn, menurutnya membangun trust memiliki tantang tersendiri.

“Kami kerja sama dengan beberapa apotek terkenal, jadi orang-orang merasa nyaman dan percaya untuk beli lewat kita. Jualan obat itu regulasinya tidak semudah jualan produk biasa. Bisa dibilang, GoApotik adalah online marketplace pertama di indonesia.”

Kerja sama yang dilakukan GoApotik dengan beberapa apotek di Indonesia, menurut Robyn, mampu membantu penjualan apotek-apotek yang menjadi distributor Dexa pada waktu itu.

“Kita yang handle soal payment dan delivery. Kita benar-benar memastikan orang punya akses beli obat. Misalnya, susu bayi atau ada resep dokter. Kita pastikan akses mereka dan kita kirim seluruh indonesia.”

Sedangkan untuk obat dengan resep, GoApotik menyediakan tenaga apoteker sebagai quality control dan pengawasan produk yang dipesan.

Membangun perusahaan sendiri

Sukses dengan GoApotik, Robyn tak berhenti sampai di situ. Bersama dengan teman-teman kepercayaannya, ia mencoba membangun GUESehat. Konsep awalnya sangat sederhana, ia ingin setiap orang bisa sehat dengan caranya sendiri.

“Saya mau orang bisa sehat dengan versinya masing-masing. Orang Indonesia itu identik dengan ‘sakit dulu baru berobat’. Padahal, promotif dan preventif itu penting dan saling keterkaitan.”

Konsep awal GUESehat yang diusungnya itu, diakui Robyn, sebagai panduan sehat lengkap dengan tips tindakan promotif preventif, tetapi dengan cara masing-masing.

“GUESehat itu konsep yang asyik di mana orang-orang bisa merasa ‘i feel good about my self’. Bisa menjalani hidup sehat tanpa merasa tertekan.”

Bagaimana memulai GUESehat?

Berawal ngobrol biasa aja sama teman-teman soal diet. “Seringkali kan kita pengin diet nih, tetapi malas atau enggak sempat olahraga. Atau ingin mulai kurangi makan junkfood, tetapi enggak doyan makanan sehat.”

Tak banyak pertimbangan dirinya mencoba membuka forum sederhana untuk mendapatkan gambaran bagaimana konsep sehat yang ada pada setiap orang.

“Saya coba buka forum dulu. Kita coba berdialog, supaya tahu yang diinginkan banyak orang,” ujarnya.

Image yang mau dibangun dari Gue Sehat adalah dialog. “Tiap orang punya ekspektasi masing-masing soal kegiatan olahraga yang disukai. Kita buka forum lewat blog dan share artikel juga informasi supaya orang bisa memilih bagaimana cara sehat yang dia mau. Sehat tanpa merasa tertekan. Orang bisa punya pilihan untuk kesehatannya dan pengobatannya.”

Ketika ditanya kenapa ia memilih bisnis digital,  jawabannya mengejutkan.

“Waktu itu, karena enggak punya uang, dan cari alternatif yang terjangkau. Team awal Gue Sehat, teman-teman saya sendiri waktu itu sama-sama punya full time job. Terus, saya pikir juga lewat sosial media sekarang lebih efektif, dan syukurnya makin berkembang,” ujarnya.

Layanan GUESehat tak hanya menyajikan informasi semata, namun juga disediakan berbagai fitur yang bisa membantu setiap orang untuk mengontrol kondisi kesehatannya.

“Di tahun pertama, kami fokus memberikan informasi soal paparan penyakit. Kita punya artikel lewat website (hanya membuat forum lewat blog) dan media sosial. Lalu, berkembang dengan website dan sosmed yang di-maintain. Ada symptom checker, kita juga kerja sama dengan dokter dan dokter spesialis.”

Tak hanya itu, GUESehat juga menyajikan fitur Forum, dan Food Calorie Counter untuk membantu menghitung kadar kalori dalam makanan.

“Makanan Indonesia berbeda dengan makanan di negara lain. Misalnya, kita kan enggak tahu kalori rendang berapa? Minimal, kita kalkulasi asupan nutrisi kita setiap hari,” ujarnya.

Dalam fiturnya, Robyn juga menyajikan dokter umum dan spesialis, ” Ada juga direktori soal dokter, ahli gizi dan rumah sakit. Saat ini, kami punya 10 dokter dan dokter spesialis kandungan dan dokter anak. Lalu, tahun 2018 ini, kita mulai kerja sama dengan rumah sakit. Umumnya, mereka sangat mendukung dan terbuka soal konsultasi online.”

Meskipun bisa menjangkau pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, pada akhirnya Robyn ingin masyarakat tetap pergi ke dokter dan tak tergantung pada aplikasi semata. “Fungsinya, hanya untuk chek, dan for result akan kita ajurkan untuk ke dokter.”

“Ke depannya, akan ada konsultasi online, live chat, dan video callNext-nya kita mau ke psikolog dan spesialis anak. Jadi, penanganannya menyeluruh.”

Membantu para ibu hamil lewat Teman Bumil

Selama menjalani GUESehat, ketika menggelar kegiatan offair, Robyn mengaku banyak menjumpai perempuan usia 20-40 tahun yang bertanya soal kehamilan dan parenting. Sejak itu, Robyn melakukan riset kecil-kecilan.

Hasil risetnya menunjukkan bahwa Wanita hamil membutuhkan perhatian ekstra dari orang terdekat dan lingkungannya. Ironisnya Robyn mendapati dari 500 wanita hamil, ada dua persen yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian dan dukungan sama sekali dari orang-orang terdekatnya.

“Menurut saya orang hamil itu kan its a good problem. Itu mengagetkan, harusnya kehamilan itu adalah hal yang bisa bikin happy semua orang. Tapi faktanya, enggak semua ibu hamil bisa dapat perhatian, misalnya karena suami dan orangtuanya tinggal jauh. Dari situ saya berharap, bisa bikin aplikasi yang bisa men-support mereka.”

Aplikasi Teman Bumil yang diusungnya diakui Robyn, sebagai proyek terusan dari GUESehat. Aplikasi ini menyediakan berbagai fitur yang dibuuthkan ibu hamil untuk mengetahui dan memantau perkembangan buah janin.

“Selain untuk mengontrol perkembangan janin, kita juga ngasih input ke ibu hamil lewat informasi-informasi medis, dan seputar persiapan persalinan.”

Aplikasi ibu hamil yang ada umumnya hanya bisa memberikan informasi soal perkembangan janin tanpa memberikan perhatian.

“Kalau punya kita itu kaya ngasih warning, misalnya ada strech mark lho di bulan ini jangan lupa kasih lotion. Kita kasih input medis dan jadwal ke dokter, sampai juga kita siapkan pertanyaan untuk ibu hamil saat menghadapi dokter. Kita kasih info dasar dan ibu hamil bisa lebih advance nanya ke dokter.”

Selain artikel, Teman Bumil juga disajikan dengan fitur menarik yang diskai para ibu hamil.

“Ada artikel, tips, perkembangan janiannya sendiri, ada tips, checlist, mudah dimengerti dengan gambar yang sweet. Mom’s kan senang, jika dianalogikan janin dengan bentuk manan, misalnya janin sebesar kentang, sebesar pisang.”

Uniknya, Teman Bumil juga meng-cover para working moms. Info seperti menghindari beban berat, sampai bagaimana kita ajukan surat cuti, kapan harus handover, atau bagaimana mengurus asuransi semua di sediakan.

Hingga kini, Robyn mengaku sudah ada 100 ribu lebih pengguna aplikasi Teman Bumil tercatat hingga bulan ini. Sedangkan GUESehat sudah 8.000 download dan pembacanya satu juta pageview per bulan.

“Sebetulnya, itu target November tahun ini terrnyata sudah mencapai target.”

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *