Rindu Natsir dan Sjafruddin

Jakarta Mencari orang apalagi pemimpin jujur di Indonesia saat ini memang agak susah. Mencari orang yang jujur ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami! Begitulah seorang teman suatu hari pernah mengatakan. Benarkah demikian adanya? Benarkah susah mencari orang dan pemimpin yang benarbenar jujur dan sederhana?

Ketika membaca buku Mata Air Keteladanan (2014) karya Yudi Latif, saya banyak menemukan kisahkisah hidup para pendahulu bangsa yang sederhana, jujur, berintegritas, dan bisa menjadi inspirasi kita sebagai anakanak muda penerus bangsa.

Mari berkaca sejenak kepada kisah para pendiri bangsa dahulu. Suatu ketika pada 1948, Menteri Penerangan M. Natsir berkunjung ke Yogyakarta menurut kesan mendalam dari seorang Indonesianis terkemuka dari Cornell University Amerka Serikat, George McTurnan Kahin penampilan M. Natsir tidak terlihat sebagai pejabat negara. Terlihat M. Natsir mengenakan jas yang penuh tambalan di sanasini. Hingga belakangan ia juga tahu bahwa staf Kementerian Penerangan ketika itu mengumpulkan uang untuk membeli baju buat Natsir.

Ketika seorang M. Natsir ditakdirkan menjadi Perdana Menteri pada Agustus 1950, dirinya tidak banyak berubah: ia tetap menjadi pribadi yang bersahaja. Diceritakan bahwa ia tinggal di rumah bekas Bung Karno yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur kini jadi Jalan Proklamasi Jakarta Pusat. Sebelum pindah ke rumah tersebut, Natsir tinggal menumpang di sebuah gang di Jalan Jawa, dan juga di kawasan Tanah Abang. Mobil yang ia gunakan sebagai pejabat negara kala itu bermerek DeSoto yang sudah berwarna kusam. Ketika ada yang menawarinya sebuah mobil sedah mewah buatan Negeri Paman Sam, Natsir menolaknya.

Saat tiba waktunya ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri pada 1951, ia menolak menerima sisa dana taktisnya sebagai Perdana Menteri yang saldonya pada saat itu sangatlah banyak. Ia malah menyuruh sekretarisnya agar uang tersebut diserahkan saja ke koperasi pegawai. Setelah lengser, ia meninggalkan rumah dan mobil dinasnya untuk segera pulang ke rumahnya yang berada di Jalan Proklamasi.

Selain M. Natsir, perilaku jujur nan sederhana juga bisa kita jumpai dari manusia Indonesia yang satu ini, namanya Sjafruddin Prawiranegara. Ia Menteri Keuangan di Kabinet Hatta II kala itu yang terkenal dengan kebijakan moneternya “Gunting Sjafruddin” guna menyelamatkan kondisi perekonomian Indonesia yang sedang terpuruk.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Sjafruddin dirahasiakan bahkan kepada keluarganya sekali pun agar tidak memanfaatkan situasi waktu itu. Karena kebijakan itulah, ia dan keluarganya harus menanggung kesulitan hidup. Sjafruddin bahkan harus meminjam uang kepada Kementerian Keuangan demi untuk bertahan hidup. Dan, utang itu baru bisa dilunasi setahun kemudian setelah ia diangkat menjadi Presiden Direktur The Javasche Bank yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia.

Bagi Sjafruddin, untuk menjalankan nilainilai Islam, tidak perlu harus menunggu berdirinya negara Islam. Dengan tegaknya hukum yang memihak kebenaran, demokrasi yang sopan, dan hakhak asasi manusia, maka itu sudah dianggap menegakkan nilainilai luhur Islam.

Meskipun Sjafruddin seorang menteri, pejabat negara kala itu dari sebuah negara yang besar, tidak lantas membuat dia pongah, bergaya hidup mewah, pamer kekuasaan, dan comot sana comot sini demi ambisi dan kekayaan pribadi. Justru manusia yang satu ini malah hidup serba kekurangan. Bahkan, istrinya yang bernama Teungku Halimah Syehabuddin biasa disapan Lily pernah berjualan sukun goreng demi menambah pendapatan keluarga selama Sjafruddin sedang berada di Sumatera kala itu.

Anakanak Sjafruddin ketika itu sempat protes, mengapa ibunya sampai berjualan sukun goreng, padahal sang bapak adalah pejabat tinggi negara dan tokoh republik yang dihormati. Bagi Lily, berjualan sukun goreng adalah cara agar tidak bergantung kepada pemberian dari orang lain. Dan, dirinya tidak pernah sama sekali malu untuk melakukannya. Antara istri dan suami terjadi kesepahaman mengenai bagaimana hidup.

“Kalau tidak penting sekali jangan pernah meminjam uang, jangan pernah berutang!” ucap Sjafruddin menasihati keluarganya.

Ketika anaknya lahir bernama Chalid Prawiranegara ternyata Sjafruddin tidak mampu membeli kain gurita untuk sang jabang bayi. Sang jabang bayi hanya dipakaikan kain dari hasil menyobek kain kasur sebagai guritanya. Hingga ketika Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia pun, dia bersikap tegas kepada orang dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia (organisasi sayap Partai Masyumi, partai tempat tokoh kita ini bernaung) yang meminta proyek kepadanya.

Kata Sjafruddin, “Saya ini Gubernur Bank Sentral Indonesia, bukan Gubernur Bank Masyumi!”

Apa Kabar Masa Kini?

Sekarang, lihatlah kondisi sebagian pejabat dan elite yang sedang manggung saat ini: hidup parlente, banyak gaya, sering pamer kekuasaan dan kekayaan; ketika ingin ini dan itu dia tinggal tunjuk saja, niscaya terkabul; mobilnya pasti mahal, rumahnya pasti mewah, punya usaha sampingan di manamana, liburan ke luar negeri hampir setiap tahun. Masih belum cukup?

Pokoknya yang jelas terlihat oleh pandangan mata, sebagian pejabat dan elite zaman sekarang ini baik elite politk atau elite jenis lainnya punya akses yang bebas tanpa batas kepada celah apapun: uang, koneksi, kekuasaan, pengaruh, dan lain sebagainya. Nah, itu adalah pejabat yang beruntung. Kalau sedang tidak beruntung? Ya, bisa jadi dicokok oleh KPK karena terjerat hukum. Pendek kata: jadi pejabat dulu, dihukum kemudian.

Kalau dulu: dihukum dahulu, jadi pejabat kemudian. Contohnya Bung Karno, Hatta, dan Sjahrir. Ah, aku rindu orang seperti M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara hadir lagi!

Feri Anugrah pekerja freelance di beberapa penerbit, artikelnya dimuat di surat kabar lokal dan nasional, tinggal di Bandung