Relawan Badja Harap Sidang Buni Tak Terpengaruh Tekanan Massa

Relawan Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat (Badja) berharap sidang perkara Buni Yani berjalan objektif. Relawan Badja mengharapkan proses hukum yang adil.

“Kami berharap kasus ini berjalan fair, sambil menyelipkan doa semoga hakim yang memeriksa dan memutus perkara Buni Yani dapat bersikap adil tanpa terpengaruh opini dan tekanan massa, serta menghukum Buni Yani setimpal dengan perbuatannya,” kata Sekjen Kotak Badja Andi Windo, yang juga pelapor kasus ini, kepada detikcom, Selasa (13/6/1017).

Andi menilai proses hukum Buni Yani hingga ke persidangan terbilang cukup lama, berbeda dibanding dengan kasus Ahok. Perjalanan proses hukum Ahok dalam kasus penistaan agama berjalan cepat selama 2 bulan.

“Artinya hanya jeda 1 hari, sejak perkara keduanya (Ahok dan Buni) ke polisi, pada 6 Oktober Ahok dilaporkan dan 7 Oktober 2016 Buni Yani dilaporkan,” ujar Andi Windo.

Relawan Badja lainnya, Muanas, menilai Buni Yani terlalu diistimewakan. Apalagi, selama proses hukum berjalan, Buni Yani tidak ditahan.

Padahal, menurut Muanas, tersangka dengan ancaman pidana hukuman terhadap di kasus ITE dapat ditahan. “Tetapi ini Buni Yani tidak ditahan,” sebut Muanas.

Menurutnya, akibat yang ditimbulkan dari perbuatan Buni Yani jauh lebih mengkhawatirkan karena memicu aksi massa. Buni sebelumnya memposting rekaman pidato Ahok yang menyinggung soal Surat AlMaidah (51) di Kepulauan Seribu yang dinilai menistakan agama.

“Ada pendapat aneh juga, hakim kasus Ahok kan tegaskan katanya video Buni Yani itu bukan penyebab kegaduhan. Berarti dia korban harus dibebaskan. Lo masalah Buni Yani itu memang video? Bukan. Masalah Buni Yani itu transkrip, caption, update status FB yang justru tidak sesuai dengan video, itu,” tegasnya.

Namun Muanas mengharapkan keadilan. Dia meminta hakim memberikan hukuman yang setimpal kepada Buni Yani.