Ratusan Warga Melarikan Diri dari Pertempuran di Arab Saudi Timur

Riyadh BBC

Kondisi penduduk di kota yang terjebak pertempuran di Arab Saudi dilaporkan semakin memprihatinkan.

Selama bermingguminggu terakhir terjadi pertempuran antara pasukan Arab Saudi dan orangorang bersenjata di Awamiya, wilayah di Saudi timur yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim Syiah.

Seorang warga mengatakan kepada BBC bahwa ratusan warga telah menyelamatkan diri. Namun mereka yang masih bertahan mengalami kekurangan air dan merasa khawatir terkena tembakan jika keluar rumah.

“Tak seorang pun keluar dari rumah. Jika kita keluar, kita akan ditembak oleh penembak jitu,” kata seorang aktivis setempat.

Sebagian warga, sebagaimana dilaporkan oleh media Arab Saudi, menyerukan kepada pihak berwenang agar membantu mereka menyelamatkan diri. Dilaporkan bahwa mereka yang sudah mengungsi diberi fasilitas penginapan di kota terdekat.

Penghormatan kepada ulama Sheikh Nimr alNimr tampak di dindingdinding di kota Awamiya. (AFP/Getty)

Pihak berwenang berusaha menghancurkan permukiman kuno di Awamiya yang diyakini sebagai tempat persembunyian militan Syiah di loronglorongnya yang sempit.

Setidaknya tujuh orang, termasuk dua anggota kepolisian, tewas dalam bentrokan, lapor kantor berita Reuters.

Menurut para aktivis, pasukan keamanan mengeluarkan tembakan secara membabi buta ke arah rumah dan kendaraan. Bangunanbangunan rusak atau terbakar akibat pertempuran.

Peristiwa terbaru ini merupakan kerusuhan sporadis yang semakin meningkat di Provinsi Timur yang mayoritas penduduknya Syiah. Para aktivis setempat menuduh pasukan keamanan berusaha mengusir warga.

Warga Syiah yang tinggal di kawasan dekat kota Qatif sudah lama mengeluh bahwa mereka terpinggirkan dan didiskriminasi oleh penguasa Sunni.

Upaya Arab Saudi untuk menghancurkan permukiman alMasora yang berusia 400 tahun di Awamiya sudah dikecam oleh PBB pada Mei lalu karena mengancam warisan sejarah dan budaya. Permukiman kuno itu ditempati sekitar 2.000 hingga 3.000 orang.

Awamiya adalah kota yang dulu juga ditempati oleh ulama Syiah terkenal Sheikh Nimr alNimr, pendukung kuat gerakan protes menentang pemerintah. Ulama terkenal itu sering mengkritik pemerintah dan menuntut diselenggarakannya pemilihan umum.

Ia dieksekusi pada Januari 2016. Sejak saat itu, demonstrasi dan serangan semakin sering terjadi.