Putra Mahkota Arab Saudi Bicara Soal Pemulihan Islam

Riyadh Sosok Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, semakin mencuat usai gebrakan antikorupsi dengan menangkap para pangeran dan menteri. Namun sebenarnya ada tujuan utama yang ingin dicapainya, yakni modernisasi Saudi.

Dalam wawancara dengan media ternama Amerika Serikat (AS), New York Times (NYT) di Riyadh, seperti dikutip detikcom pada Sabtu (25/11/2017), Pangeran Mohammed bin Salman atau yang biasa dipanggil M.B.S. ini mengungkapkan visi masa depan untuk Saudi.

NYT menyebut tujuan utama M.B.S. adalah membawa Saudi lebih terbuka dan modern, kembali ke era sebelum tahun 1979, sebelum semuanya mengalami perubahan. Tahun 1979 menandai insiden pendudukan Masjidil Haram di Mekah oleh ekstremis puritan Saudi. Militer Saudi dengan dibantu Pakistan dan komando Prancis berhasil merebut kembali Masjidil Haram.

Namun usai insiden itu, Raja Saudi Khaled yang saat itu berkuasa, memberlakukan penerapan hukum syariat Islam yang lebih ketat. Ulamaulama dan kalangan konservatif juga diberi kekuasaan lebih selama beberapa dekade. Keberadaan polisi syariat semakin merajalela.

“Islam yang moderat, seimbang, yang terbuka pada dunia dan pada semua agama dan semua tradisi dan semua orang,” sebut M.B.S. soal ajaran Islam di Saudi yang ingin ditegakkannya. Berbagai perubahan mulai dibawa M.B.S., seperti mengurangi wewenang polisi syariat Saudi yang sangat ditakuti hingga mengizinkan wanita untuk mengemudi sendiri.

“Jangan tulis bahwa kita menginterpretasikan kembali Islam kita memulihkan Islam ke asalnya dan sarana terbesar kita adalah praktik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan (kehidupan seharihari) Arab Saudi sebelum tahun 1979,” ucap M.B.S. dalam wawancara dengan NYT.

M.B.S. berargumen bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW, ada teater musik, ada pencampuran priawanita, ada rasa hormat untuk penganut Kristen dan Yahudi di Saudi. “Hakim dagang pertama di Madinah adalah seorang wanita!” tegas M.B.S.

Jika Nabi Muhammad SAW mendukung semua hal itu, tanya M.B.S., “Apakah itu berarti Nabi Muhammad SAW bukan seorang muslim?”

Salah satu menteri yang mendampingi M.B.S. lantas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada wartawan NYT, sejumlah foto serta video dari YouTube yang menampilkan situasi Saudi tahun 1950an. Foto dan video itu menunjukkan kaum wanita tidak mengenakan niqab, memakai rok dan berjalan beriringan dengan kaum pria di depan umum.

Wartawan NYT menyebut situasi Saudi dalam fotofoto itu masih tradisional dan sopan, namun tempat untuk mendapatkan hiburan tidak dilarang, seperti yang terjadi setelah tahun 1979.