Produktivitas Petani Kelapa Sawit Indonesia Masih Minim

Sukoharjo Pemerintah mendorong petani kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitasnya. Perkebunan rakyat dinilai masih belum optimal dalam menghasilkan kelapa sawit.

Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Bayu Krisnamurthi, mengatakan perkebunan yang dimiliki rakyat selama ini hanya mampu menghasilkan 2,5 hingga 3 ton minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO)/hektare/tahun.

“Sedangkan target ke depan kirakira 56 ton CPO/hektare/tahun. Atau 25 ton TBS (tandan buah segar) per hektare,” kata Bayu dalam acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 di Solo Baru, Sukoharjo, Selasa (18/7/2017).

Adapun lahan kelapa sawit di Indonesia sebesar 11 juta hektare. 52 persennya dikelola perusahaan swasta, 7 persen dikelola pemerintah dan 41 persen dikelola rakyat.

“Ruang untuk peningkatan produktivitas datang dari perkebunan rakyat. Makanya kita dorong untuk tumbuh. Kalau di perusahaan swasta sudah cukup tinggi. Kita harapkan dengan inovasi dalam PTKS bisa memberikan kontribusi nyata terutama bagi perkebunan rakyat,” ungkapnya.

Target tersebut diharapkan dapat dicapai pada 2045 mendatang sebagai hadiah ulang tahun satu abad Republik Indonesia. Ditekankan agar para pelaku usaha kelapa sawit meningkatkan daya saingnya.

“Challenge kita banyak, permintaan minyak nabati akan semakin tinggi. Diperkirakan Indonesia harus mampu memasok 30 juta ton lagi sampai 2045,” ujar dia.

Sementara, mantan Menteri Pertanian 20012004, Bungaran Saragih menaruh perhatian pada organisasi petani kelapa sawit yang belum bekerja optimal. Petani diminta untuk bersatu dalam sebuah wadah yang saling menguntungkan.

“Petani kita itu belum terorganisir dengan baik. Bagaimana bisa bekerja sama secara sinergis dengan hulu dan hilirnya? Ciptakan kondusivitas untuk bekerja sama menghadapi persaingan,” ungkap Bungaran.