Politisasi Haji ala Arab Saudi-Qatar

Perseteruan antara Arab Saudi dan Qatar kian memanas. Arab Saudi menggunakan berbagai cara untuk menggoyang Qatar. Setelah Qatar menolak untuk memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Arab Saudi agar menutup stasiun alJazeera, membatalkan rencana pangkalan militer Turki, memutus hubungan dengan Iran, dan menghentikan bantuan dana kepada teroris, kini Arab Saudi menggunakan kartu ibadah haji untuk menekan Qatar.

Soal memainkan kartu ibadah haji, ini bukan yang pertama kali dilakukan Arab Saudi kepada negara lain yang dianggap musuh. Tahun lalu Iran juga mengalami hal yang sama akibat kisruh politik yang melilit kedua negara yang kerap bersitegang tersebut.

Akibat blokade yang diberlakukan Arab Saudi terhadap Qatar, baik jalur udara, darat, maupun laut, maka harapan 2.400 jemaah haji asal Qatar sudah bisa dipastikan pupus. Awalnya Arab Saudi mempersilakan jemaah haji asal Qatar untuk melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan maskapai penerbangan pihak ketiga, karena Qatar Airways yang biasanya mengangkut jemaah haji sudah tidak diperkenankan mendarat di Arab Saudi sejak 5 Juni, lalu.

Kebijakan yang diambil Arab Saudi tersebut ditolak mentahmentah oleh pihak Qatar. Pihak travel yang menyediakan jasa ibadah haji tidak sanggup menggunakan maskapai penerbangan pihak ketiga. Hal tersebut akan membebani biaya jemaah haji, dan tidak mudah untuk menggunakan maskapai lain karena pada saat bersamaan digunakan untuk mengangkut jemaah haji dari negara masingmasing.

Sebenarnya bagi pemerintah Qatar bukan hal yang sulit untuk menanggung biaya penerbangan pihak ketiga untuk jemaah haji mereka. Namun yang menjadi persoalan utama adalah kedaulatan negara Qatar. Larangan bagi Qatar Airways untuk mendarat di Arab Saudi membuktikan bahwa Arab Saudi telah melakukan haji sebagai instrumen politik. Tidak ada niat baik dari Arab Saudi untuk membuka blokade udara guna mendaratkan jemaah haji asal Qatar yang diangkut dengan maskapai penerbangan Qatar Airways.

Haji adalah ibadah yang sakral, semestinya digunakan sebagai momentum untuk mempererat hubungan kedua negara. Ibadah haji sejatinya digunakan sebagai solusi bagi ketegangan politik. Alangkah indahnya jika Arab Saudi menunjukkan iktikad baiknya untuk menormalisasi hubungan politik dengan Qatar melalui instrumen ibadah haji. Namun sayang seribu sayang, Arab Saudi tidak melakukan hal tersebut. Justru Arab Saudi melakukan langkahlangkah yang dapat memecah belah sosialpolitik Qatar.

Alasan terpenting lainnya, Qatar tidak mendapatkan jaminan perihal keselamatan jemaah haji. Sejak Juni lalu, Arab Saudi mengeluarkan kebijakan agar seluruh warga Qatar yang berada di kawasan Arab Saudi segera meninggalkan seluruh wilayah Arab Saudi, termasuk ontaonta yang selama ini digembala di daerah perbatasan. Banyak orang Qatar yang tidak bisa bekerja dan batal berobat di Arab Saudi karena adanya larangan tersebut. Bahkan di antara mereka harus terpisah dari keluarganya karena salah satu di antara mereka berasal dari Qatar.

Manuver Arab Saudi dalam menggunakan ibadah haji sebagai kartu politik bagi Qatar tidak hanya berhenti di situ. Langkah selanjutnya Arab Saudi menggunakan tangan Syaikh Abdullah bin Ali alThani. Yaitu sosok yang tersingkir dan digulingkan oleh faksi Bin Hamad alThani, faksi yang berkuasa di Qatar saat ini.

Raja Salman secara mengejutkan melakukan pertemuan dengan Syaikh Abdullah bin Ali alThani, yang kemudian dilanjutkan pertemuan antara Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman dengan Syaikh Abdullin bin Ali Al Thani di Jeddah.

Arab Saudi mengambil kebijakan yang terbilang nekat bagi jemaah haji asal Qatar. Pertama, Arab Saudi berkenan untuk membuka jalur darat bagi jemaah haji asal Qatar dengan membuka kawasan perbatasan Salwa. Para jemaah haji asal Qatar bisa menggunakan jalur darat menuju Mekkah dan Madinah. Kedua, Arab Saudi akan mengirimkan pesawat Saudi Arabia Arlines ke Qatar untuk menjemput jemaah haji. Bahkan, para jemaah haji asal Qatar dijanjikan akan menjadi tamu khusus Raja. Mereka akan mendapatkan perlakuan istimewa dari pihak kerajaan.

Kedua langkah tersebut ditolak mentahmentah lagi oleh pihak Qatar. Sekali lagi, pihak Qatar memandang Arab Saudi telah memainkan ibadah haji sebagai kartu politik terlalu jauh. Pasalnya, Syaikh Abdullah bin Ali Al Thani adalah pihak yang saat ini berseberangan dengan Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Thani. Faksi Bin Ali alThani dan Hamad bin alThani berseberangan sejak dekade 1970an.

Menurut Menteri Luar Negeri Qatar, Muhammad bin Abdurrahman Al Thani, Qatar selalu berusaha memberikan kesempatan bagi warganya untuk menunaikan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima. Hak beribadah dilindungi oleh undangundang dan peraturan internasional. Tapi cara Arab Saudi menggunakan ibadah haji sebagai kartu politik dan upaya memecah belah integrasi sosialpolitik dalam negeri Qatar sama sekali tidak dibenarkan, dan karenanya pula harus ditentang. Maka dari itu, pihak Qatar melarang maskapai penerbangan Saudi Arabia Airlines yang direncanakan akan mengangkut jemaah haji asal Qatar untuk mendarat di Doha.

Menurut Maryam alKhatir di Harian alAraby alJadid, langkah yang diambil Arab Saudi jelasjelas merupakan upaya politisasi haji. Pasalnya, warga Qatar dan pemerintah Qatar tidak mempunyai kesulitan secara finansial untuk mengangkut jemaah hajinya ke Arab Saudi asal menggunakan Qatar Airways dan mereka mendapatkan jaminan keselamatan secara penuh.

Secara eksplisit, cara Arab Saudi menggunakan Syaikh Abdullah bin Ali Al Thani sebagai mediator merupakan intervensi Arab Saudi terhadap kedaulatan Qatar. Selama ini yang bertugas menjadi mediator adalah Emir Kuwait, bukan Syaikh Abdullah bin Ali Al Thani yang nyatanyata sebagai musuh bebuyutan Emir Qatar. Karenanya, secara implisit Arab Saudi sedang mencari jalan untuk melakukan kudeta terhadap Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Thani.

Memang sangat disayangkan, perseteruan antara Arab Saudi dan Qatar semakin memanas. Sepertinya Arab Saudi akan menggunakan segala cara untuk mengisolasi dan memecah belah Qatar. Tidak menutup kemungkinan hubungan antara kedua negara ini akan semakin memburuk, yang bisa berakhir dengan perang.

Langkahlangkah yang diambil Arab Saudi membuktikan jalur mediasi dan dialog dengan Qatar benarbenar tersumbat. Cara Arab Saudi menggunakan tangan Syaikh Abdullah bin Ali Al Thani merupakan sinyal perlawanan terhadap Qatar yang semakin keras dan kencang.