PM Australia Ungkap Suu Kyi Cari Dukungan Soal Rohingya

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi telah menjadi sasaran demonstran yang marah, dan para pengacara HAM menuduhnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tekanan semakin meningkat terhadap Suu Kyi terkait penderitaan kaum Muslim Rohingya.

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull hari Senin (19/3/2018) mengungkapkan bahwa Suu Kyi menanggapi semua kontroversi tersebut dalam pembicaraan tertutup dengan para pemimpin ASEAN lainnya di KTT khusus Australia-ASEAN di Sydney.

Ratusan ribu orang warga Rohingya kini berada dalam kondisi memilukan di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

PM Malaysia Najib Razak melakukan intervensi dalam perdebatan selama KTT tersebut, secara tidak langsung mengkritik perlakuan Myanmar terhadap minoritas Muslim.

PM Najib mengatakan penderitaan Muslim Rohingya merupakan ancaman bagi keamanan regional karena mereka dapat dengan mudah direkrut oleh kaum ekstremis Islam.

PM Turnbull dalam jumpa pers di akhir KTT didesak tentang kontroversi tersebut.

“Aung San Suu Kyi secara komprehensif membahas masalah ini cukup panjang,” kata Turnbull.

“Dia mencari dukungan dari ASEAN dan negara-negara lain untuk memberikan bantuan … dari sudut pandang kemanusiaan dan peningkatan kapasitas,” ujarnya.

“Jadi tujuan kami yaitu mendukung penyelesaian masalah kemanusiaan secara damai dan cepat, bencana kemanusiaan yang terjadi akibat konflik,” kata PM Turnbull.

Dia juga bertemu dengan Suu Kyi di Canberra pada hari Senin pagi dan membahas krisis tersebut.

Myanmar melakukan negosiasi dengan Bangladesh mengenai nasib para pengungsi Rohingya.

PM Turnbull mendorong Suu Kyi untuk mencapai resolusi sehingga pengungsi bisa kembali ke rumah mereka.

Dia juga menjelaskan bahwa Australia siap menyisihkan dana bantuan ke Myanmar dan Bangladesh untuk membantu menyelesaikan keadaan darurat.

ASEAN seringkali dituduh gagal menangani pelanggaran HAM dan pernyataan akhir KTT mereka kali ini, Deklarasi Sydney, sama sekali tidak menyebutkan secara spesifik krisis tersebut.

Ketua KTT saat ini, PM Singapura Lee Hsien Loong, mengatakan ASEAN tidak punya kewenangan atau kapasitas untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri Myanmar.

Namun PM Lee dan PM Turnbull mengakui adanya krisis kemanusiaan.

“Kami juga prihatin sebagai manusia, jika terjadi situasi kemanusiaan yang meningkat dan keselamatan masyarakat serta kehidupan dan keamanan dipertaruhkan,” kata PM Lee.

“Kami melakukan yang terbaik untuk membantu pemerintah membangun kembali stabilitas dan ketenangan dalam situasi ini,” tambahnya.

Para pemimpin ASEAN juga lamban terkait isu yang selalu membayangi pertemuan puncak, yaitu militerisasi China di Laut China Selatan.

Beijing bukan bagian dari ASEAN, namun beberapa negara Asia Tenggara memiliki klaim yang tumpang-tindih dengan China.

Deklarasi Sydney tidak secara langsung mengkritik pembangunan pulau-pulau buatan oleh Beijing, juga sama sekali tidak menyebut China.

Namun deklarasi menggemakan sejumlah kekhawatiran Australia mengenai meningkatnya ketegangan di wilayah ini.

“Kami menekankan pentingnya non-militerisasi dan perlunya meningkatkan saling percaya dan kepercayaan diri, menahan diri dalam melakukan aktivitas serta menghindari tindakan yang dapat memperumit situasi,” katanya.

PM Singapura dalam jumpa pers itu mengatakan bahwa perselisihan mengenai Laut China Selatan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat.

“Ini juga menjadi masalah bagi negara-negara ASEAN lainnya, karena ini menyangkut keamanan dan stabilitas,” kata Lee.

Negara-negara ASEAN terus menegosiasikan kode perilaku di Laut China Selatan dengan Beijing, namun belum jelas apakah kode tersebut akan mengikat secara hukum.

Secara lebih luas, pejabat Australia menyebut KTT ASEAN di Australia sebagai keberhasilan diplomatik yang luar biasa.

Mereka percaya bahwa investasi waktu, uang dan upaya dalam pertemuan puncak ini telah membangun nama baik Australia, memperkuat ikatan dengan negara-negara tetangganya.

Deklarasi Sydney menyatakan Australia adalah “mitra penting untuk meningkatkan keamanan dan kemakmuran kawasan ini”.

Bahasa seperti itu belum pernah digunakan para negara tetangga mengenai Australia.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *