Perang di Marawi Akan Berdampak Panjang

Manila

Pertempuran di Kota Marawi, Filipina selatan, akan memiliki dampak jangka panjang di kawasan ini, seperti disebutkan dalam laporan yang diterbitkan Institute of Policy Analysis of Conflict (IPAC).

Selama dua bulan, militer Filipina mencoba merebut kembali kota tersebut dari para pejuang proISIS yang ingin membentuk apa yang mereka sebut sebagai kekhalifahan.

Laporan berjudul Marawi, The East Asia Wilayah and Indonesia itu menunjukkan bahwa konflik ini mengilhami aksi kekerasan di tempat lain di kawasan dan dapat menyebabkan terjadinya lebih banyak serangan.

“Resiko tidak akan berakhir saat militer mengumumkan kemenangan,” kata direktur IPAC Sidney Jones.
Warga sipil mengungsi dari Kota Marawi menghindari pertempuran antara kelompok militan Maute dan militer Filipina. (AP: Bullit Marquez)

Laporan tersebut mencatat sekitar 20 pejuang dari Indonesia pergi ke Marawi. Disebutkan bahwa jika para pejuang ini kembali, mereka dapat membantu melatih ekstrimis di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Lebih dari 500 orang tewas dalam pertempuran tersebut, lebih dari 400 di antaranya adalah para militan. Sekitar 40 korban merupakan warga sipil, sedangkan sisanya dari militer Filipina.

Presiden Rodrigo Duterte telah meminta kongres negara itu untuk memperpanjang darurat militer di Pulau Mindanao sampai akhir tahun ini.

Marawi direbut pada 23 Mei 2017 oleh para militan dari kelompok militan Abu Sayyaf dan Maute. Akibatnya, ribuan warga sipil telah mengungsi.

Jika tak bisa ke Suriah, pergilah ke Filipina

Laporan IPAC juga menyebutkan buktobukti baru mengenai rantai komando antara Suriah dan Marawi. Dalam rantai komando itu, disebutkan bahwa Dr Mahmud Ahmad seorang dosen asal Malaysia memainkan peran penting.

Laporan ini mengatakan Mahmud Ahmad mengendalikan perekrutan dan pembiayaan untuk orang asing yang ingin bergabung dengan ISIS untuk berperang di Filipina.

“Pertempuran tersebut telah mengilhami ekstremis muda dari seluruh wilayah untuk bergabung,” kata laporan tersebut.

Grafiti di tembok belakang sebuah rumah di Kota Marawi, Filipina Selatan, menunjukkan dukungan buat ISIS. (Reuters: Romeo Ranoco)

“Di Indonesia, hal ini membantu menyatukan dua kelompok dari gerakan proISIS yang sebelumnya bermusuhan, mengilhami serangan tunggal dan menyebabkan pencarian jiwa di antara calon teroris mengenai mengapa mereka tidak dapat melakukan sesuatu yang spektakuler,” tambahnya.

“Salah satu kemungkinan dampak Marawi adalah meningkatnya risiko kekerasan di negara lain di kawasan ini karena kelompok lokal terinspirasi atau merasa malu terhadap para pejuang di Filipina,” katanya.

Sydney Jones mengatakan pertengahan jalan tahun lalu, pesan dari Suriah mengalami perubahan.

“Pesan dari Suriah adalah jika terlalu sulit untuk masuk ke sana, jika tidak bisa sampai ke Suriah, pergilah ke Filipina. Dan jika tidak dapat pergi ke Filipina, laksanakan perang di tempat anda berada,” katanya kepada ABC.