Penyebabnya Masih Misterius, Gelembung Busa di Jepara Sudah Hilang

Gelembung busa raksasa yang muncul pada Jumat (20/10) di Jepara kini telah menghilang. Meski begitu polisi masih belum bisa memastikan penyebab munculnya busa tersebut.

Gelembung busa yang berada di Sungai Kedung Wuluh Desa Kedung Leper, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jeparamulai berangsur menghilang sejak Sabtu (21/10), dan hilang total Minggu (22/10) siang. Namun, air sungai hingga hari ini masih belum sepenuhnya jernih.

“Ada tiga saksi yang sudah kami periksa untuk penyelidikan lebih lanjut,” ujar Kapolres Jepara, AKBP Yudianto Adhi Nugroho tanpa menyebut identitas ketiga saksi, Senin (23/10/2017).

Sedangkan kandungan air sungai apakah tercemar atau tidak, masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Hasil uji laboratorium masih menunggu hasil,” lanjutnya.

Disampaikannya, kemunculan busa raksasa itu diduga berasal dari sebuah truk yang baru dibeli dari wilayah Kabupaten Gresik. Truk tersebut kemudian dipasrahkan salah seorang warga di Desa Bondo Kecamatan Bangsri, yang rencananya akan digunakan untuk usaha pengelolaan limbah PLTU.

“Nah, truk yang baru dibeli itu kondisinya lama tidak terpakai dan ada bekas limbah seperti gamping. Lalu, dicuci di Sungai Kedung Wuluh, dan mengakibatkan gelembung busa di jarak sekira satu kilometer,” paparnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, truk tersebut merupakan bekas armada sebuah perusahaan pembersih seperti sabun. Namun untuk memastikan dugaan itu, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Kami masih menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Termasuk menunggu hasil uji laboratorium,” tandasnya.

Marwan (41), warga setempat menuturkan bahwa gelembung itu hanya busa biasa.

“Kemarin siang sudah hilang. Tidak ada lagi busa. Itu kan, busa biasa yang menggelembung di air sungai. Kecuali kalau busa itu berada di tengah sawah baru aneh,” katanya..

Menurutnya, selama kemunculan busa raksasa tidak ada keluhan bahaya dan aroma tak sedap dari warga. Bahkan beberapa warga yang datang ke lokasi juga ada yang turun ke sungai.

“Tidak ada bau, juga tidak membuat gatal bagi yang terkena air,” lanjutnya.

Diwawancara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara, Fatkhurahman menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan dengan mengambil sampel air. Di antaranya air Sungai Kedung Wuluh, air di aliran irigasi di bawah Sungai Kedung Wuluh, pengambilan sisa serbuk putih, dan pengukuran PH di tempat busa raksasa.

“Kalau ukuran PH masih normal sekitar 6 lebih sedikit. Tapi untuk kandungan secara detil, masih menunggu hasil laboratorium di Semarang, karena sampelnya kita kirim ke sana,” tuturnya.

Saat ini lokasi gelembung busa raksasa ini telah dipasangi garis polisi. Hal ini dilakukan untuk mencegah warga mendekati lokasi karena belum diketahui secara pasti kandungan air sungai tersebut.