Penyebab Terbanyak Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Ternyata Rasa Sepi

Yogyakarta Kasus Nglalu atau bunuh diri di kabupaten Gunungkidul DIY banyak terjadi pada musim kemarau ini. Namun, Wakil Bupati menepis adanya korelasi antara kekeringan dengan hasrat bunuh diri warganya.

“Yang paling banyak terjadi itu merasa tidak berguna, merasa kesepian, penyakit berkepanjangan, frustasi,” ujr Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi di Komplek Kepatihan Yogyakarta, Senin (18/9/2017).

Dia mengatakan kasus bunuh diri di Gunungkidul justru banyak terjadi di daerah perkotaan. Tepatnya di 3 kecamatan yang termasuk subur dan makmur seperti di Wonosari, Semanu dan Karangmojo. Sementara di bagian selatan yang kondisi kekeringanya parah justru persentase kasus bunuh diri kecil.

“Persoalan tanda kutip kurang air, itu kecil. Persepsi yang menghubungkan bunuh diri dengan kekeringan atau kemsikinan itu batal,” tuturnya.

Kasus bunuh diri yang selama ini terjadi diprediksi karena aspek agama yang kurang, aspek ekonomi, menurutnya juga tidak pas. Karena beberapa kasus bunuh diri terjadi justru usai salat Tahajud atau pulang dari salat jemaah.

Immawan menegaskan depresi menjadi triger utama kasus bunuh diri di Gunungkidul. Kasus bunuh diri di Gunungkidul adalah problem yang tidak sederhana. Pemkab menurutnya sudah bertindak untuk melakukan upaya pencegahan seperti menyampaikan kepada tokoh agama, masyarakat, pendidik, budayawan, dan guru.