Penghuni 8 Rumah di Zona Merah Tolak Direlokasi, Ini Alasannya

Penghuni 8 rumah yang berada di zona merah atau zona bahaya tanah gerak di Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, menolak direlokasi. Mereka beralasan karena calon lahan relokasi untuk korban tanah gerak terlalu jauh dengan ladang pertaniannya.

Seperti yang dirasakan Nurwandi (54) warga Dusun Pramen, Desa Bantar, salah satu penghuni rumah tersebut. Ia bersama 4 anggota keluarganya tetap bertahan di rumah meskipun masuk di zona berbahaya yang disarankan untuk relokasi.

Berdasarkan pantauan rumah yang berjarak sekitar 100-150 meter dari titik lokasi tanah gerak tersebut memang masih utuh. Namun rumah warga lainnya di sekitar rumah Nurwandi sudah mulai retak-retak.

“Saya memang tidak mau direlokasi karena jarak tempat untuk relokasi dengan kebun milik saya terlalu jauh. Apalagi saat ini rumah saya masih bisa ditempati,” tuturnya di rumahnya Kamis (18/1/2018).

Menurutnya, sebagai petani ia bingung jika jauh dengan kebun salak dan cabai miliknya. Belum lagi kondisi kesehatan yang membuatnya sulit untuk berjalan dengan jarak jauh. “Saya menderita sakit kencing manis dan sulit berjalan jauh,” kata dia.

Namun demikian Nurwandi sadar bahwa rumah yang ia tempati dekat dengan ancaman tanah gerak. Ia mengaku siap untuk mengungsi jika turun hujan lebat yang mengancam rumah yang ia tempati.

“Kalau misalnya nantinya rumah kami terkena longsor kami akan pindah ke lahan milik sendiri yang lokasinya dekat dengan kebun,” ujarnya.

Pemeritah Desa Bantar menyebutkan dari 52 rumah yang akan direlokasi masih ada 8 rumah yang menolak. Alasannya selain karena lokasi jauh juga karena rumah yang ditempati masih bagus.

“Tetapi kami tetap akan berusaha membujuk warga namun jika tetap tidak mau kami akan buatkan surat pernyataan,” terang Kades Bantar, Eko Purwanto.

Untuk diketahui warga Dusun Pramen Desa Bantar yang berada di zona merah direlokasi di tanah bengkok kepala desa yang berada di Desa Bantar. Nantinya satu rumah dianggarkan Rp 55 juta dengan lebar 100 meter persegi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *