Penasihat: Suu Kyi Merasa Ngeri dan Sangat Peduli Atas Krisis Rohingya

Yangon Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, disebut merasa ngeri atas krisis Rohingya di negaranya. Meski tak pernah bersuara keras, Suu Kyi bertekad memulihkan situasi yang membuat Myanmar dihujani kecaman dunia.

“Dia (Suu Kyired) merasa ngeri atas apa yang dia saksikan,” ujar salah satu penasihat Suu Kyi kepada wartawan, seperti dilansir Reuters, Jumat (13/10/2017). Penasihat Suu Kyi ini meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas isu Rohingya yang sensitif.

“Dia sangat peduli secara mendalam soal hal ini. Saya tahu dia memang tidak selalu bertindak keras. Tapi dia sungguh peduli,” imbuhnya.

Sedikitnya 520 ribu pengungsi Rohingya lari ke Bangladesh sejak konflik kembali pecah di Rakhine pada 25 Agustus. Para pengungsi mengaku mereka berusaha menyelamatkan diri dari aksi kekerasan yang dilakukan militer Myanmar, yang menggelar operasi untuk memberantas para militan ARSA di Rakhine.

Menurut penasihat tersebut, Suu Kyi bertekad untuk mencari cara menangani krisis Rohingya. Dikatakannya, Suu Kyi ingin mencari cara bagi para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri, agar bisa kembali dengan selamat dan bermartabat ke Myanmar.

Saat ditanya lebih lanjut oleh wartawan, mengapa Suu Kyi tidak mengkritik militer Myanmar secara terangterangan, menurut penasihat tersebut, Suu Kyi berusaha menghindari pernyataan berapiapi yang berpotensi semakin memanaskan situasi.

Penasihat tersebut menyinggung soal transisi demokrasi di Myanmar yang kini dalam posisi berbahaya.

Dalam laporan terbaru, Perserikatan BangsaBangsa (PBB) menyatakan operasi sistematis Myanmar terhadap Rohingya dimaksudkan untuk mengusir mereka secara permanen dari Rakhine. Sebelumnya Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Zeid Raad alHussein, menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine sebagai contoh pembersihan etnis.

Sebelumnya, panglima militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang merupakan sosok paling berpengaruh di Myanmar, bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Scot Marciel barubaru ini. Dalam pertemuan itu, Jenderal Hlaing menegaskan Rohingya bukanlah warga asli Myanmar.

Jenderal Hlaing juga menyebut jumlah pengungsi Rohingya yang kabur dari Myanmar terlalu dilebihlebihkan oleh media.