PBB Serukan Setop Konflik Yaman, Ini Kata Putra Mahkota Saudi

Dalam lawatannya ke Amerika Serikat, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bertemu dengan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. Dalam pertemuan itu, Guterres menyerukan dihentikannya konflik Yaman di mana Saudi memimpin koalisi militer untuk memerangi pemberontak Houthi.

Ini merupakan pertemuan kedua antara Guterres dan sang Putra Mahkota Saudi. Sebelumnya Guterres telah menyebut konflik Yaman sebagai “perang bodoh” yang membahayakan kepentingan negara-negara yang terlibat.

Dalam pertemuannya dengan Guterres pada Selasa (27/3) waktu setempat tersebut, Pangeran Mohammed menyerahkan cek senilai US$ 930 juta atau sekitar Rp 12,5 triliun untuk bantuan kemanusiaan di Yaman. Guterres yang mengucapkan terima kasih atas kontribusi tersebut, menekankan bahwa perang di Yaman memerlukan solusi politik, bukan hanya respons kemanusiaan.
Namun Pangeran Mohammed menegaskan, Saudi berupaya untuk menegakkan prinsip-prinsip PBB yang disebutnya berarti “tidak mencampuri urusan negara-negara lain,” yang mengacu ke dukungan Iran bagi pemberontak Houthi.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah-masalah Timur Tengah secara politis dan jika hal-hal menjadi tak terkendali, kami berusaha sekeras yang kami bisa untuk menghindari semua dampak lainnya,” ujar Putra Mahkota Saudi tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (28/3/2018).

“Kami akan terus mematuhi hukum internasional, seperti yang selalu kami lakukan,” tandasnya.

“Tak ada solusi kemanusiaan untuk masalah-masalah kemanusiaan,” kata Guterres usai menerima cek yang juga berasal dari Uni Emirat Arab.

“Solusinya adalah politik dan kami sepenuhnya siap membantu Anda untuk mencari solusi yang akan mengakhiri penderitaan di Yaman,” ujar Guterres kepada Pangeran Mohammed.

Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab yang melakukan intervensi militer di Yaman untuk mendukung pemerintah Yaman dalam memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran. Serangan-serangan udara yang dilancarkan koalisi Saudi sejak tiga tahun lalu di Yaman telah menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak.

Kelompok-kelompok HAM mengecam Saudi dan koalisi atas jatuhnya korban jiwa warga sipil Yaman tersebut. Pada Oktober 2017 lalu, PBB pun memasukkan koalisi Saudi dalam “daftar hitam” karena membunuh dan melukai anak-anak.

Sekitar 10 ribu warga Yaman dilaporkan telah tewas dalam konflik tersebut. PBB menyebut konflik Yaman ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan sekitar 22,2 juta orang membutuhkan bantuan dan menghadapi risiko kelaparan dan wabah kolera.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *