Parlemen Diguncang Pelecehan Seksual, Warga Minta Pelaku Diungkap

Islandia dikejutkan dengan berbagai tuduhan pelecehan seksual yang dikemukakan oleh sebuah kelompok yang terdiri dari lebih dari 600 politikus perempuan, padahal negara yang hanya memiliki 332.500 penduduk ini sudah lama membanggakan reputasinya dalam mempromosikan hakhak perempuan.

Islandia bulan lalu menyelenggarakan pemilihan umum, antara lain dipicu oleh suatu skandal tindak kekerasan terhadap perempuan.

Anggota dewan kota Reykjavik, Heida Bjorg Hilmisdottir kemudian membuka grup Facebook bernama I Skugga Valdsins (Dalam Bayangan Kekuasaan) sebagai tempat berbagi informasi tentang tuduhantuduhan pelecehan seksual ini.

Kini kelompok tersebut telah membagikan 136 pengakuan itu di grup media sosial itu, lapor surat kabar Morgunbladid.

Pernyataan media yang melengkapi penerbitan itu disertai tagar #MeToo, sebagai solidaritas terhadap kampanye internasional yang menentang pelecehan seksual yang dilakukan para lakilaki yang memegang jabatan atau memiliki kekuasaan karena posisi tertentu.

“Kami harap akan ada diskusi terbuka oleh partaipartai politik mengenai bagaimana kita dapat memperbaiki budaya partai,” kata Heida, yang juga wakil presiden Aliansi Demokratik Sosial.

Berbagai kisah yang dipublikasikan sering kali sangat detil salah satunya adalah tentang anggota parlemen yang menuduh sejumlah anggota parlemen lakilaki yang menatap perempuan dengan pandangan tertentu untuk “mempermalukan dan membuat mereka gugup,” demikian lapor lembaga penyiaran publik RUV.

Banyak politisi lakilaki yang mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap luasnya permasalahan ini, kata Heida. Dan banyak pula perempuan di luar dunia politik yang menghubungi grup Facebook tersebut untuk mengisahkan pengalaman mereka.

Masyarakat mendesak agar para pelaku pelecehan seksual ini diungkap identitasnya.

“Budaya pelecehan seksual ini sama sekali tidak terbatas di dunia politik. Orangorang sekarang menyadari bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada yang mereka sadari,” kata Heida Bjorg Hilmisdottir kepada Morgunbladid.