Pakai Logika Menggunakan Jalan Tol

Suasana keriangan libur panjang seperti Lebaran akan selalu dibayang-bayangi rasa was-was menghadapi kemacetan, saat masyarakat melakukan perjalanan ke kampung halaman untuk bertemu dengan orangtua dan sanak saudara, pun perjalanan sebaliknya (arus balik). Meski infrastruktur dibangun, jalan diperlebar, jalan tol dihubungkan dari satu titik ke titik hingga nantinya dari Merak, Banten, hingga Ketapang, Banyuwangi namun upaya itu sepertinya belum mampu menghilangkan kemacetan.

Kemacetan masih terjadi setiap tahun bahkan di jalan yang seharusnya bebas macet, seperti Tol Cikampek dan Tol Cipali. Bukti dari belum mampunya penambahan infrastruktur jalan untuk mengatasi jutaan kendaraan yang bergerak dari satu titik di Jakarta menuju ke kota-kota di Jawa adalah pada Lebaran tahun ini.

Penggunaan jalan tol fungsional, darurat, dari Brebes ke Gringsing-Kendal, yang semuanya berada di wilayah Jawa Tengah, di satu sisi bisa menghilangkan trauma insiden Brexit yang terjadi tahun lalu. Namun, di sisi yang lain tidak mampu menghilangkan kemacetan di Tol Cikampek dan Tol Cipali. Bila demikian, meski kelak jalan tol sudah terhubung dari ujung ke ujung Pulau Jawa, jangan bayangkan kemacetan akan hilang. Kemacetan itu akan selalu terjadi meski ada penambahan lebar dan ruas jalan.

Lalu apa penyebab kemacetan itu? Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena itu bisa terjadi berulang. Bila disebut kemacetan terjadi karena seluruh kendaraan roda empat tumpah ruah pada satu jalan dan pada hari-hari yang berbarengan, itu pendapat yang benar. Namun, sebenarnya jumlah kendaraan bukan faktor utama yang menjadi penyebab kemacetan.

Bila semua kendaraan itu bergerak dengan kecepatan yang sama, di jalan tol minimum kecepatan 80 dan maksimal 100 per jam, maka kendaraan yang ada akan mengalir deras. Kemacetan timbul ketika kendaraan yang ada bergerak dengan kecepatan yang tidak sama sehingga kendaraan yang di belakang akan terhambat. Ketika kendaraan yang di belakang semakin banyak maka membuat kendaraan yang di depannya menjadi sumbatan.

Semakin banyak kendaraan maka kemacetan itu semakin panjang, bisa sampai puluhan kilometer, misalnya dari Bekasi Barat hingga Karawang. Lalu apa yang menyebabkan kendaraan bergerak dengan kecepatan tak sama? Pertama, ketika kendaraan hendak masuk rest area di samping kiri jalan tol maka ia akan mengurangi kecepatan sebelum masuk ke lajur kiri.

Bila yang masuk rest area satu atau dua kendaraan mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, bila puluhan kendaraan bebarengan ingin masuk rest area tentu puluhan kendaraan itu akan membentuk deretan memanjang. Deretan itu akan memakan separuh jalan tol. Akibatnya, ruas jalan tol menjadi menyempit. Menyempitnya ruas jalan tol inilah yang menyebabkan kemacetan. Kendaraan yang di belakang akan tertahan sebab terhalang oleh deretan mobil yang hendak menuju ke rest area.

Fenomena seperti itu terjadi di Tol Cipali maupun Tol Cikampek. Kemacetan yang terjadi bukan karena penumpukan di pintu tol, namun karena kendaraan yang berbarengan ingin masuk rest area.

Kedua, terhambatnya laju kendaraan juga disebabkan karena tidak patuhnya masyarakat dalam menggunakan jalan tol. Kepada para pengendara mudik, pemerintah dan aparat terkait selalu mewanti-wanti agar pemudik menjaga kebugaran badan. Caranya adalah beristirahat bila kelelahan. Nah, masalahnya ketika pemudik ingin beristirahat namun rest area penuh dan tidak mampu menampung kendaraan yang ada, mereka mencari jalan pintas.

Akhirnya mereka menghentikan kendaraan di bahu jalan tol. Hal demikian tidak disadari pengendara bahwa ketika kendaraan mereka berhenti di bahu jalan, itu akan menjadi sumbatan kelancaran lalu lintas. Satu kendaraan saja bisa menjadi sumbatan jalan apalagi puluhan kendaraan. Peristiwa seperti itu terjadi di Tol Cikampek dan Cipali. Banyak kendaraan berhenti di bahu jalan dengan alasan istirahat. Akibatnya jalan menjadi tersumbat, dan kelamaan akhirnya menjadi biang kemacetan.

Ketiga, masyarakat terjebak pada pikiran bahwa jalan tol adalah sebuah jalan bebas hambatan. Hal demikianlah yang membuat masyarakat antusias melalui jalur tol meski mereka melihat berita di televisi tentang kepadatan kendaraan. Masyarakat berpikir, ah paling macetnya cuma sebentar. Sehingga, mereka tetap nekad lewat jalan tol meski sudah diingatkan untuk mencari jalan alternatif.

Jalan tol bebas hambatan itu memang benar, namun hal itu terjadi bila volume kendaraan seimbang dengan kapasitasnya. Masalahnya di Jawa, volume kendaraan tidak seimbang dengan ruas jalan sehingga tidak hanya jalan non-tol, jalan tol pun sering mengalami kemacetan. Lihat saja Jalan Tol Jagorawi arah Bogor-Jakarta setiap jam kerja, akan selalu mengalami kemacetan seperti saat musim mudik dan arus balik.

Untuk mengatasi kemacetan yang terjadi setiap tahun, kita apresiasi tindakan pemerintah yang terus menambah lebar jalan dan menambah ruas jalan tol. Jalan fungsional, jalan darurat, yang dibuka pemerintah harus diakui mampu mengurangi beban jalan di Pantura Jawa. Namun, yang paling penting adalah perubahan cara berpikir masyarakat dalam menggunakan jalan.

Sudah seharusnya masyarakat berpikir, di saat-saat kendaraan tumpah ruah di jalan tol ketika Lebaran atau liburan panjang lainnya, pikiran jangan hanya fokus untuk menggunakan jalan tol. Jika jutaan orang berpikir menggunakan jalan tol maka akibatnya kemacetan akan selalu terjadi. Pikiran yang demikian membuat jalan non-tol lengang. Lihat saja ketika Tol Cipali macet, Jalan Pantura menjadi lengang. Terjadi ketidakseimbangan penggunaan jalan.

Bila pengguna jalan cerdas, menggunakan konsep teknologi, logika, maka pengendara pasti akan menggunakan Jalan Pantura. Pengalaman kemarin, saat balik dengan naik angkutan umum, bus, perjalanan dari sekitar Semarang, Jawa Tengah ke Pulogebang, Jakarta tidak mengalami hambatan yang cukup berarti. Ini bisa terjadi karena sopir bus paham perjalanan yang hendak dilalui. Ia hanya menggunakan beberapa ruas jalan tol.

Selanjutnya, ia lebih banyak menggunakan Jalan Pantura bahkan dari Cikampek hingga masuk Bekasi, ia memilih jalan non-tol. Pemilihan jalan yang cerdas ini membuat bus yang saya tumpangi masuk Terminal Pulogebang pada pagi hari, sementara berita kemacetan berjam-jam masih terjadi di Tol Cikampek dan Cipali.

Untuk itulah pentingnya kita menggunakan logika dalam menggunakan ruas jalan tol. Alasan menggunakan jalan tol untuk lebih cepat itu benar. Namun, tidak selamanya jalan tol bisa seperti itu. Pada saat-saat tertentu jalan tol malah bisa menjadi tempat buang-buang waktu karena kendaraan tak bisa bergerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *