Pada Akhirnya, Kita Hendak Mudik ke Mana?

Akhirnya, sampailah saya di titik terakhir safari Ramadan tahun ini: Tasikmalaya. Sore itu, menjelang beduk maghrib, saya duduk santai bareng Ipang Lazuardi di dalam tenda transit. Dia menceritakan kacamata baru yang dibelinya dari Vicky ‘Burgerkill’. Tapi, berbeda dengan saya yang sudah usai perjalanan tur, Ipang dan kawan-kawan masih satu titik lagi waktu itu: Arcamanik, Bandung. Vokalis BIP itu pun bertanya,” Mudik, Gus?”

Saya jawab dengan pertanyaan balik, “Mas Ipang mudik ke mana?” Rocker berambut gimbal yang suka tampil kasual itu tertawa renyah. “Saya tidak pernah mudik, Gus. Ya Jakarta ini kampung halaman saya,” ungkapnya. Ipang sesungguhnya lahir di Bandung, namun tumbuh dan besar di Jakarta. Begitu pun istrinya. Dia dan anak-anaknya tinggal di ibukota. “Jadinya irit, dan tidak pernah kena macet mudik,” seloroh empu lagu ‘Ada Yang Hilang’ itu.

Mudik. Ya, menjelang hari-hari terakhir Bulan Ramadan, kesibukan kita beralih ke rutinitas tahunan pulang kampung. Tidak hanya setahun sekali, sebenarnya, tapi pulang kampung untuk merayakan Hari Idul Fitri memang terasa istimewa. Walau harus terjebak kemacetan panjang pun, tak ada yang benar-benar mengeluh dan memutuskan untuk tidak akan mudik lagi dalam gelombang manusia rindu pulang. Lebaran tetap di perantauan, duh sakit!

Berliyan, karib saya yang tahun lalu sudah menikah dan kini menanti kelahiran anak pertamanya, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu mudik ke Lampung. Dia, pada tahun-tahun sebelumnya, mudik ke Malang, kampung halamannya. Kini tak lagi sama sejak berumah tangga. Yang bikin saya geleng kepala, Berliyan akan bermotor ke Lampung. Padahal, kampung halaman istrinya masih tujuh jam lagi dari pusat kota. Tapi, semua itu toh dijalani.

Kampung halaman. Sesungguhnya, di manakah kampung halamanmu? Tidak jarang kita diingatkan bahwa dunia bukan kampung halaman kita yang sejati. Ada adagium Jawa yang meneguhkan, “Urip iku mung mampir ngombe. Hidup (di dunia) hanya mampir minum.” Banyak yang berpetuah bahwa kehidupan dunia itu fana. Sementara belaka. Tidak abadi. Bahkan: fatamorgana. Tampak nyata, tapi ternyata maya. Bukan kehidupan sejati.

Tapi, orang-orang tidak menjawab ketika saya bertanya, “Di mana alamat akhirat?” Setuju atau tidak, percaya atau tidak, suka atau tidak, siap atau tidak, setiap yang bernapas niscaya akan menjumpai ajal. Satu di antara nikmat dari Allah yang tidak dapat kita pegang, karena ia selalu seketika pergi sejak tiba, ialah waktu. Ya, waktu tidak pernah lebih cepat, tidak pula lebih lambat. Waktu selalu tepat waktu. Dan, batas waktu bagi usia adalah ajal.

Akhirat. Di mana itu? Di dunia saja, kita memerlukan alamat untuk menuju ke titik perjumpaan tertentu. Sudah ada alamat pun, kita masih membutuhkan ancar-ancar untuk lebih memudahkan mencapai tujuan. Itu pun masih ditambah lagi: jika ada pengantar yang pernah ke tujuan itu, maka kita lebih lega. Nah, bagaimana dengan akhirat? Di mana alamatnya, ada atau tidak ancar-ancarnya, dan adakah pengantar yang bisa kita harapkan?

Ketika orang-orang bahkan sudah berani mengkapling-kapling surga, bahkan lagi dengan mengkafir-kafirkan orang lain dan mengolok-olok mereka sebagai ahli neraka, pertanyaan saya masih sama: di mana akhirat? Di mana surga? Di mana neraka? Anda tahu? Saya tidak sedang mempertanyakan hal-hal mengenai iman. Saya sedang mempersoalkan betapa kita sesungguhnya tidak mengenal batas dan bahkan kelewat sering melampauinya.

Kita sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa. Ya, saya di Jakarta. Jakarta di Jawa. Jawa di Indonesia. Indonesia di Asia. Asia di bumi. Bumi di Tata Surya. Tata Surya di Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti di Alam Semesta. Alam Semesta di mana? Ketika pertanyaan itu telah terjawab oleh ilmu pengetahuan dan teknologi pun, saya tak akan berhenti bertanya: di mana itu? Tolonglah saya. Sesungguhnya kita di mana? Ke mana kita harus mudik?

Satu-dua tahun yang lalu, saya pernah menanyakan hal serupa kepada anak sulung saya, Bima. “Lalu, di manakah Alam Semesta itu, Kak?” Bima, yang waktu itu masih berumur 11-12 tahun tertegun. Tidak lama kemudian dia menjawab, “Di dalam Allah! Bukankah Allah Pemilik dan Pengatur Alam Semesta?” Senyum saya mengembang. Anak saya mengerti, Allah meliputi segala sesuatu. Tiada yang di luar dan keluar dari Kemahaagungan-Nya.

Saya masih berharap ada yang menjawab di mana alamat akhirat, namun saya tidak memintanya sekarang. Harapan saya, kita masih memiliki waktu yang cukup untuk memiliki jawabannya, dan betapa jawaban itu sungguh penting khususnya bagi kita sendiri. Sebab, bukan soal waktu yang telah berlalu, namun lebih tentang waktu yang masih tersisa. Kita sama-sama tidak tahu kapan akhir waktu bagi usia masing-masing. Saat itulah kita akan mudik.

Mudik? Di mana kampung halamanmu yang sejati? Yusuf, sahabat saya yang lain, pernah sampai menangis demi beroleh jawaban atas pertanyaan itu. Alih-alih bisa merasa lega, ia justru mendapat perkara baru: jika kau memang penghuni rumah itu, bukankah seharusnya kau tahu di mana alamatnya? Ah, rumah asal, rumah asal. Pergiku telah terlampau jauh dan lupaku sudah terlalu akut sampai-sampai tidak ingat lagi di mana rumah asalku sendiri. Di sini, di dunia ini, setiap Lebaran tiba, aku selalu diingatkan untuk pulang ke Kesejatian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *