Novanto Didorong Jadi Ketua DPR Lagi, Politisi Muda Golkar: Apa Baiknya?

Setelah nama baiknya dipulihkan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan, Setya Novanto didorong untuk kembali menjadi Ketua DPR. Politisi muda Golkar Ahmad Doli Kurnia pun melihat usulan tersebut tak akan membawa manfaat untuk partai.

Doli mengakui bahwa sesuai UU MD3, adalah hak partai untuk mendelegasikan siapa kadernya yang dipilih untuk mengisi kursi pimpinan di alat kelengkapan dewan (AKD). Namun dalam perihal ini, menurutnya ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

“Buat Golkar bisa jadi memang benar langkah itu kalau kita mengembalikan Pak Novanto sebagai Ketua DPR. Tapi itu baik atau tidak untuk Partai, DPR, dan rakyat?” ungkap Doli saat berbincang dengan detikcom, Jumat (30/9/2016) malam.

Novanto kembali mengajak semua pihak untuk kembali mengingat proses terpilihnya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar beberapa waktu lalu. Setelah mengalami perpecahan, kader Golkar akhirnya berkonsolidasi pada munas di Bali pada pertengahan Mei lalu.

Selain Novanto, Ade Komarudin yang kini duduk di kursi Ketua DPR menjadi calon kuat untuk menjadi Ketum Golkar. Hanya saja akhirnya di putaran kedua, pria yang akrab disapa Akom itu memilih mundur dari pertarungan dan menyerahkan kemenangan kepada Novanto.

“Dinamika dalam proses itu ada Akom. Saat itu bahkan beredar kalau untuk Ketum janganlah rangkap jadi Ketua DPR. Salah satu isu menguat seperti itu. Bahkan ada sinyal dari istana. Pak Luhut juga pernah bilang kan,” kata Doli.

Baca Juga: Temui Novanto dan Priyo, Luhut: Jokowi Tak Nyaman Ketum Rangkap Jabatan

Jika akhirnya Novanto kembali menjadi Ketua DPR, maka yang akan terjadi adalah kekhawatiran tersebut. Tak hanya itu, ucap Doli, rangkap jabatan akan membuat Novanto tidak fokus dalam memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut. Padahal waktu Novanto sangat diperlukan bagi Golkar yang tengah menggalakkan rekonsiliasi internal partai setelah adanya perpecahan.

“Untuk partai, kita baru selesai munas, baru mengakhir masa kelam kita setelah konflik berkepanjangan. Terpilihlah Pak Novanto sebagai Ketum. Itu harus dihormati,” ujar mantan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) tersebut.

“Dan saya lihat pak Novanto sedang sangat serius. hampir saya lihat setiap hari turun ke daerah menyapa kader,” imbuh Doli.

Kinerja Akom sebagai Ketua DPR dinilainya juga sangat baik. Citra DPR melalui beberapa survei disebut Doli jauh meningkat dibanding sebelumnya. Keadaan yang sudah kondusif ini menurutnya perlu dipertahankan. Sebab dengan adanya situasi yang berpotensi mengeruhkan suasana, itu dampak berdampak buruk bagi Golkar.

“Pak Ade juga bekerja dengan baik. Suasana sudah baik. Kenapa kita buat jadi tidak baik? Kalau terjadi pergantian akan ada kontraksi politik baru yang itu nanti kalau membesar bisa menguras energi lagi. Padahal energi dibutuhkan untuk rekonsiliasi internal partai,” tutur dia.

Kemudian untuk DPR, jika ada pergantian pucuk pimpinan menurut Doli juga dapat mengganggu. Citra DPR akan merosot padahal kini tengah dibangun semakin lebih baik.

“Bisa mengganggu citra. Masyarakat akan mikir ini setiap berapa bulan sekali diganti Ketua DPR. Apa tidak ada kerjaannya. Bukannya ngurusin rakyat, tapi hanya perebutan kekuasaaan,” beber Doli.

Pergantian Ketua DPR dinilai dia akan berdampak buruk bagi rakyat. Hal tersebut dikatakan Doli harus dihindari karena Golkar perlu membuktikan bekerja untuk rakyat dengan berbagai program dan cara, termasuk mendukung kinerja pemerintah.

“Lagi pula Pak Novanto belum tentu mau (jadi Ketua DPR lagi) karena Pak Novanto sedang menikmati sekali mengurus partai ini. Bertemu dengan kader, bertemu rakyat di daerah. Jangan lagi ditambah bebannya,” ucapnya.

“Tapi kembali itu semua ke kewenangan Golkar, dalam hal ini DPP,” imbuh Doli.