Nge-Tweet Soal Bom Kereta London, Trump Bikin Geram PM Inggris

Komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut teror bom di London dilakukan teroris pecundang, memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Inggris Theresa May. Mengapa?

Diketahui bahwa Trump telah mengecam teror bom di kereta bawah tanah London yang sejauh ini melukai 29 orang. Via Twitter, Trump menyebut teror itu dilakukan oleh seorang teroris pecundang dan mengisyaratkan otoritas Inggris telah kecolongan dengan adanya insiden ini.

“Serangan lainnya di London oleh seorang teroris pecundang,” sebut Trump via akun Twitternya, @realDonaldTrump, pada Jumat (15/9) kemarin.

“Ini adalah orangorang gila dan sakit yang terlihat oleh Scotland Yard. Harus proaktif!” imbuhnya, sedikit merujuk pada informasi intelijen dari otoritas Inggris kepada AS yang dirahasiakan.

Menanggapi kicauan itu, PM May memperingatkan Trump untuk tidak banyak berspekulasi. “Saya pikir tidak akan membantu bagi siapa saja untuk berspekulasi tentang hal yang sedang menjadi penyelidikan,” tegas PM May kepada wartawan seperti dilansir AFP, Sabtu (16/9/2017).

Trump kemudian berusaha meredakan situasi dengan menyebut PM May sebagai wanita luar biasa. Namun komentar itu malah disambut pernyataan keras dari Kepolisian Metropolitan London juga dari mantan kepala staf PM May, Nick Timothy.

“Spekulasi tanpa pemahaman tidak akan membantu setelah terjadi serangan #ParsonsGreen,” tegas Kepolisian Metropolitan London dalam pernyataannya.

“Benar atau tidak dan saya yakin dia (Trumpred) tidak tahu ini sungguh sikap sangat tidak membantu dari pemimpin sekutu dan mitra intelijen kita,” timpal Timothy via Twitter.

Usai kicauannya memicu reaksi keras, Trump menelepon PM May untuk menyampaikan simpati dan doa bagi para korban teror bom London. “Presiden berjanji untuk terus berkolaborasi erat dengan Inggris untuk menghentikan serangan di dunia ini yang menargetkan warga sipil tak bersalah dan memerangi ekstremisme,” demikian pernyataan Gedung Putih.

Reaksi keras PM Inggris ini mengingatkan pada ketegangan yang terjadi setelah mediamedia AS membocorkan identitas pelaku pengeboman di konser penyanyi pop asal Kanada, Ariana Grande, di Manchester pada Mei lalu. Otoritas Inggris marah karena saat itu intelijen AS membocorkan material rahasia yang diberikannya, kepada media massa.

Related Post