Nani Rahayu Bicara Batik Motif Mangrove

Jika diperhatikan, lingkungan sekitar sebenarnya menyediakan banyak inspirasi untuk berkarya. Inilah yang dirasakan Nani Rahayu (55), seorang ibu rumah tangga asal Wonorejo, Surabaya, yang juga sangat mencintai seni membatik. Sejak 2009, Nani tak pernah berhenti membuat batik tulis motif mangrove.

Ditemui di kediamannya di Jalan Wonorejo Timur, Rungkut, Surabaya, Nani menunjukkan karya-karya batiknya sembari bercerita tentang awal dirinya membuat batik. “Waktu itu suami di-PHK. Kami tidak punya pemasukan lain lagi, anak masih sekolah. Jadi ya saya berpikir kerja apa ya yang bisa dilakukan di rumah dan tidak ninggalin dapur,” kata Nani kepada detikcom di rumahnya, Jumat (25/8/2017).

Akhirnya, kata dia, awal tahun 2009 ada pelatihan dari Disnaker Kota Surabaya. Nani mencoba ikut pelatihan, akhirnya diajari cara-cara membatik, memalam dan menyanting.

“Setelah selesai pelatihan, saya coba buat sendiri dan eh ternyata saya tertantang untuk buat eksperimen sendiri dengan motif-motifnya. Kebetulan waktu itu ada Bu Lulut (Pendamping kecamatan) yang mau agar hutan Mangrove Wonorejo dijadikan motif batik. Jadi saya coba gambar sendiri. Pada dasarnya saya memang suka seni menggambar,” tutur ibu tiga anak ini.

Sejak saat itu, Nani aktif memproduksi batik dengan macam-macam motif yang terinspirasi dari lingkungan sekitar hutan Mnagrove. “Ada motif daun pohon waru, buah bogem, macam-macam,” jelasnya.

Menurut Nani, batiknya punya motif khas yang berbeda dari perajin batik mangrove lain yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Batik saya ini lebih rumit dan padat motifnya. Ada macam-macam juga. Saya memang sengaja bikin lebih rumit karena tidak ingin sama dengan yang ada di pasaran,” tegasnya.

Nani bercerita, pada setiap kesempatan, dia selalu memperhatikan sekitar untuk mencari ide. “Kadang ide itu muncul gitu aja. Kayak kapan hari, saya liat ada burung yang bertengger di jalan dekat hutan mangrove itu, langsung tercetus ide untuk bikin motif burung. Lalu kalau liat ada daun-daun yang melambai-lambai gitu, lalu daunnya unik, ide itu langsung tercetus begitu saja di kepala. Pulang rumah, saya langsung gambar. Modalnya ya hanya berdasarkan ingatan sewaktu melihat lingkungan itu tadi,” ceritanya bersemangat.

Bagi Nani, salah satu kunci untuk bertahan adalah ketekunan. “ercuma kalau bisa gambar aja tapi tidak tekun, atau hanya ikut pelatihan saja tapi tidak telaten mengerjakan setelahnya. Batik ini perlu orang yang berjiwa seni dan telaten. Kalau takut dan tidak kreatif, akan ditinggalkan begitu saja. Tapi saya suka, makanya saya teruskan,” ujarnya.

Menurut Nani, tantangan perajin batik mangrove di kota Surabaya ini adalah kurangnya ketekunan. “Orang pingin punya karya tapi ga mau susah-susah,” ujarnya.

Bagi Nani, kreativitas itu tidak bisa dibatasi. “Seni itu tidak bisa diutak-atik atau didikte. Dulu saya pernah diajak untuk gabung dan ikut motif perajin lain. Saya tidak mau-lah, saya mau buat apa yang saya suka. Ide yang muncul dari ide saya sendiri, hasil memperhatikan lingkungan sekitar,” tuturnya.

Sebagai warga asli Surabaya, Nani juga tak lupa membuat berbagai motif khas daerahnya. “Saya juga buat motif Surabaya, semanggi, tugu pahlawan dan lainnya yang identik dengan Surabaya,” jelasnya.

Dia pun berpesan ke masyarakat yang ingin membeli batik tulis. Sebab batik tulis itu tidak bisa dibeli dengan harga murah.

“Batik tulis ini tidak bisa dihargai murah. Rp 300 ribu saja sudah terlalu murah, menurut saya. Lhiat prosesnya, benar-benar dikerjakan sendiri sama perajin. Lalu nanti kalau mau jahit, batik tulis harus dijahitkan ke penjahit yang cocok. Kalau tidak, eman-eman,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *