Myanmar Minta Warga Rohingya Bantu Buru Militan di Rakhine

Yangon Otoritas Myanmar meminta warga muslim Rohingya untuk membantu perburuan militan Rohingya yang menyebut dirinya sebagai Tentara Keselamatan Arakan Rohingya (ARSA). Keberadaan kelompok ARSA sendiri telah membuat geram warga sipil Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Militer Myanmar dalam pernyataannya menyebut, ada 52 gelombang serangan yang didalangi ARSA terhadap pihaknya dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya, militer Myanmar kembali melancarkan operasi di Rakhine dengan tujuan memberantas ARSA.

Namun operasi militer di Rakhine ini dilaporkan sarat kekerasan terhadap warga sipil Rohingya. Oleh karena itu, seperti dilansir Reuters, Senin (4/9/2017), otoritas Myanmar mengajak warga muslim Rohingya untuk turut memburu militan ARSA tersebut.

“Warga desa muslim di Maungtaw bagian utara telah didorong melalui pengeras suara untuk bekerja sama, ketika pasukan keamanan mencari teroris ekstremis Pasukan Penyelamat Arakan Rohingya (ARSA), dan untuk tidak memberikan ancaman atau memamerkan senjata saat pasukan keamanan masuk ke desadesa mereka,” demikian laporan surat kabar nasional Global New Light of Myanmar pada Minggu (3/9) waktu setempat.

Di desa Maungni, Rakhine bagian utara, seperti dilaporkan Global New Light of Myanmar, sejumlah warga desa setempat berhasil menangkap dua anggota ARSA dan menyerahkan mereka kepada otoritas Myanmar.

ARSA dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh otoritas Myanmar. Kelompok ARSA mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan terkoordinasi terhadap pospos polisi Myanmar di Rakhine, pekan lalu. Akun Twitter yang diyakini terkait ARSA menuding militer Myanmar melakukan teror dan pengancuran pada etnis Rohingya. Namun seperti dilansir AFP, tidak semua warga Rohingya mendukung kiprah ARSA.

“Kami tidak ingin teroris,” ucap salah satu warga Rohingya yang masih mengungsi di Rakhine, kepada AFP. Sejumlah warga Rohingya justru marah atas serangan yang didalangi ARSA, yang dianggap malah semakin memperburuk ketegangan di Myanmar yang dipicu sentimen antimuslim.

“Kami akan bekerja sama dengan etnis (Buddha) Rakhine. Kami sebelumnya seperti keluarga dan saudara,” imbuh warga desa yang enggan disebut namanya tersebut.

Sementara itu, pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mengaku beberapa rekan mereka tetap tinggal untuk bergabung dengan ARSA dan memerangi militer Myanmar. Kebanyakan pengungsi Rohingya di Bangladesh mengaku menjadi korban kekerasan militer Myanmar.

Sejauh ini, menurut Badan Pengungsi PBB, UNHCR, sedikitnya 73 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh barubaru ini. Ribuan warga Rohingya lainnya masih bertahan di Rakhine dengan mengungsi ke wilayah lain yang jauh dari konflik. Tak hanya Rohingya, warga Buddha dan Hindu ikut mengungsi.

Nyaris 400 orang, yang sebagian besar disebut Myanmar sebagai teroris, tewas dalam bentrokan sengit di Rakhine. Dunia mengecam bentrokan itu. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut kekerasan terhadap Rohingya di Rakhine mengarah pada genosida.