Myanmar Berisiko Jadi Magnet Jihad Global

Kekejaman terhadap warga Muslim Rohingya di Myanmar bisa menarik datangnya para ekstrimis Islam dari berbagai negara.

Serangan terkoordinasi oleh pejuang Rohingya bulan lalu terhadap 30 kantor polisi memicu pembalasan brutal dari pihak keamanan negara itu dan memaksa lebih dari 400 ribu penduduk sipil mengungsi ke Bangladesh.

“Yang paling menakutan bagi saya adalah Myanmar sekarang berada dalam peta di dunia Islam sebagai kasus terbaru perlakuan buruk terhadap minoritas Muslim,” jelas Richard Horsey dari International Crisis Group yang berbasis di Yangon.

“Rohingya telah menjadi daya tarik bagi generasi Muslim di seluruh dunia,” kata Horsey kepada ABC.

“Itu situasi yang sangat berbahaya bagi Myanmar ketika pejuang asing kembali dari Irak dan Suriah… Filipina selatan,” kata Horsey.

“Myanmar bisa dengan mudah menjadi sasaran organisasi internasional. Saya pikir malah sudah menjadi target,” katanya.

Meski Al Qaeda mengeluarkan pernyataan dukungan untuk gerilyawan Rohingya bulan ini, namun Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) telah menolak hubungan operasional dengan kelompok teroris internasional.

“ARSA merasa perlu untuk memperjelas tidak memiliki hubungan dengan Al Qaeada, ISIS, LashkareTaiba atau kelompok teroris lainnya,” tulis sebuah akun Twitter resmi kelompok tersebut pada 14 September 2017.

“Kami tidak menerima keterlibatan kelompokkelompok ini dalam konflik Arakan,” kata pernyataan ARSA.

Asap dan api di wilayah Myanmar kelihatan dari wilayah Bangladesh.

PemimpinRohingya tertipu parajihadis

Informasi terbaru tentang pemimpin ARSA menunjukkan adanya hubungan buruk antara dia dan kelompok teroris di Pakistan, setelah mereka mengingkari kesepakatan senjata.

Pemimpin ARSA adalah Atu Ullah, meskipun dia menggunakan nama Abu Amar Jununi dalam video propaganda dan Pemerintah Myanmar menyebutnya Hafiz Tohar.

Ayah dari Atu Ullah berasal dari Rakhine utara namun pemimpin pemberontak ini dibesarkan di Kota Karachi, Pakistan, sebelum pindah ke Arab Saudi, menurut sejumlah laporan berbeda.

Richard Horsey mengatakan Atu Ullah mungkin ikut bertempur di Afghanistan dan Pakistan.

Pekan ini, jurnalis Agence FrancePresse (AFP) yang berbasis di Pakistan memberi informasi baru mengenai Atu Ullah, dengan mengutip kerabat dan militan yang tidak disebutkan namanya.

AFP melaporkan bahwa Atu Ullah memutuskan kembali ke Myanmar setelah adanya kekerasan masyarakat di tahun 2012 yang menyebabkan 140.000 warga Rohingya melarikan diri dari rumah mereka.

“Dia kembali (dari Arab Saudi) ke Pakistan dengan jutaan dolar untuk mencari senjata, pejuang dan pelatihan dari kelompok jihad terkemuka, menurut militan di Karachi yang menemuinya dalam perjalanan tersebut,” tulis jurnalis AFP Gohar Abbas.

“Dia menghubungi tokohtokoh yang terkait dengan Taliban Afghanistan dan Pakistan serta separatis Kashmir seperti LashkareTaiba, menawarkan sejumlah besar uang tunai dengan imbalan bantuan, namun tidak berhasil,” tulis Abbas.

“Sebagian besar gerilyawan Pakistan meremehkan atau mengabaikan permintaan tersebut, sementara yang lain mengambil uangnya namun tidak mengirimkan senjata,” tambahnya.

“Sumber dari sejumlah kalangan militan yang melihat Ullah di Pakistan pada tahun 2012 mengatakan dia meninggalkan negara itu sebagai seorang nasionalis yang tidak percaya terhadap jihadis yang banyak berjanji membantu situasi Rohingya namun menolak memberikan dukungan nyata,” demikian dilaporkan AFP.

Penjelasan ini memberikan perspektif baru tentang penghentian segera dukungan ARSA terhadap Al Qaeda.

“Seruan jihad di Burma (Myanmar) oleh berbagai kelompok militan tidak lain hanyalah publisitas dan sarana mendapatkan simpati dari umat Islam,” kata pensiunan jenderal Pakistan Talat Masood seperti dikutip AFP.

ArakanRohingyaSalvationArmy

Ada tanda lain bahwa ARSA ingin menjauhkan diri dari kelompok teroris Islam internasional.

Ketika pertama kali muncul tahun lalu, gerilyawan menyebut diri Harakah alYaqin, yang berarti Gerakan Iman dalam bahasa Arab, namun kemudian mengganti nama menjadi Arakan Rohingya Salvation Army.

Petugas kepolisian Myanmar berpatroli di perbatasan Myanmar dan Bangladesh di Maungdaw, negara bagian Rakhine.

Beberapa analis menggambarkan hal itu dilakukan agar dapat diterima oleh negaranegara Barat, membingkai tindakan mereka sebagai perjuangan untuk hak asasi manusia dan bukan pertikaian agama.

Dalam video propaganda dan postingan Twitternya, ARSA sering meminta masyarakat internasional dan PBB untuk campur tangan, sangat berbeda dengan para jihadis global.

Serangan gerilyawan pada bulan Oktober dan Agustus lalu menargetkan pos polisi penjaga perbatasan.

Namun ada juga puluhan pembunuhan misterius terhadap mereka yang dicurigai bekerja sama dengan tentara atau Pemerintah Myanmar. Pembunuhan kebanyakan dituduhkan kepada ARSA.

Penggunaan penduduk desa sebagai informan dan perisai yang diduga dilakukan para militan juga mengaburkan batas antara warga sipil dan kombatan, yang konsekuensinya mematikan.

Krisis terburuk dalam sejarahRohingya

Richard Horsey menjelaskan ARSA diawasi oleh sebuah komite yang terdiri dari sekitar 20 emigran Rohingya di Arab Saudi, dengan beberapa pejuang terlatih yang memimpin operasi di Myanmar, serta berbagai sel pendanaan dan propaganda di seluruh dunia.

Ata Ullah mengatakan serangan barubaru ini terhadap pos polisi dimaksudkan untuk melindungi orangorang Rohingya, setelah tentara Myanmar mengepung sebuah desa di Kota Rathedaung.

Namun taktiknya ini, seperti bisa diduga, telah menjadi bumerang secara spektakuler.

“Ide bahwa kelompok ini melindungi populasi itu, di saat bertanggung jawab atas krisis terburuk dalam sejarahnya, sangatlah sulit untuk diterima,” kata Horsey.

Sejak 25 Agustus, tentara Myanmar, polisi perbatasan dan massa Budha di Rakhine dilaporkan telah membunuhi ratusan warga sipil Rohingya dan secara sistematis membakar desa mereka.

Dalam bahasa yang tumpang tindih, apa yang oleh pasukan keamanan disebut “operasi pembersihan”, justru oleh PBB disebut sebagai “pembersihan etnis”.

Pemimpin militer Myanmar Min Aung Hlein mengatakan tentaranya sedang menyelesaikan “urusan yang belum selesai” sejak Perang Dunia II, di mana Rohingya memihak tentara kolonial Inggris sedangkan umat Buddha di Rakhine bertempur bersama tentara Jepang.

“Pertanyaannya sekarang bagaimana Myanmar terhindar dari jurang?” kata Richard Horsey.

“Ada tragedi kemanusiaan yang terjadi di perbatasan Bangladesh. Ini tragedi yang ruang lingkup dan skalanya akan menentukan pandangan internasional tentang Myanmar selama bertahuntahun mendatang,” paparnya.