Murid Berumur 5 Tahun Sudah Dikeluarkan dari Sekolah Australia

Lembaga ombudsman negara bagian Victoria, Australia, mengkritik banyaknya murid yang dikeluarkan dari sekolah negeri, bahkan di antaranya ada yang masih berusia 5 tahun.

Laporan ombudsman yang ditulis Deborah Glass menemukan jumlah anak yang dikeluarkan dari sekolah negeri kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang disebutkan oleh Departemen Pendidikan setempat.

Data resmi menunjukkan 278 anak dikeluarkan pada tahun 2016. Namun Glass menyebutkan hal itu tak termasuk murid yang dikeluarkan secara informal, yaitu murid yang dipaksa keluar dari sekolah tanpa melalui proses formal.

Penyelidikan tersebut juga mengungkap sejumlah murid yang dikeluarkan ternyata menyandang disabilitas, menjalani perawatan luar atau di rumah serta diidentifikasi sebagai warga Aborijin atau Selat Torres.

Laporan itu meminta Departemen Pendidikan untuk mengenalkan kebijakan yang tak memungkinkan murid usia wajib sekolah dikeluarkan dari sekolah negeri.

Ditambahkan pula perlunya raturan dimana seorang kepala sekolah tidak bisa mengeluarkan murid delapan tahun atau kurang tanpa persetujuan khusus.

Glass mengatakan, diperlukan pengumpulan data yang lebih baik untuk mengetahui berapa banyak murid yang dikeluarkan dari sekolah negeri setiap tahunnya.

“Apa yang kami temukan adalah gambaran membingungkan dan tidak lengkap,” sebut Glass.

“Begitu banyak celah dalam laporan pemberhentian murid, tak mungkin menjawab pertanyaan dengan pasti.”

“Kami bisa mengatakan sekitar dua pertiga dari pemberhentian tersebut setidaknya tidak masuk satu hitungan. Kurangnya informasi menunjukkan bahwa jumlah ini mungkin jauh lebih tinggi.”

Menteri Pendidikan Victoria James Merlino menerima semua rekomendasi tersebut. Dia mengumumkan program baru untuk membantu sekolah mempertahankan lebih banyak murid di kelas.

“Investasi kami sebesar $ 5,9 juta (atau setara Rp 59 miliar) akan membantu para kepala sekolah dan guru mengelola masalah perilaku murid dan memberi mereka kesempatan terbaik untuk tetap bersekolah, mendapatkan hasil maksimal dari diri mereka sendiri,” jelasnya.

“Kami akan merombak sistem pencatatan dan pengelolaan data Departemen Pendidikan dan Pelatihan untuk memastikan bahwa proses pemberhentian dilakukan secara transparan dan dipantau dengan tepat.”

Butuh dukungan

Glass mengatakan, anakanak berusia lima tahun juga turut dikeluarkan dari sekolah.

Ia berbicara tentang satu kasus yang melibatkan seorang anak berusia enam tahun, yang menderita trauma, dikeluarkan sejak tahun pertama sekolah.

“Ibunya menghubungi puluhan sekolah di daerah setempat. Dia mendapat alasan mengapa sekolah tersebut tidak bisa menerima pendaftarannya. Dia butuh dua bulan untuk menemukan sekolah baru yang berjarak satu jam perjalanan dari rumah,” jelas Glass.

“Sekolah membutuhkan sumber daya dalam memberi dukungan kepada anakanak dengan perilaku menantang.”

“Kami sangat menyadari banyak guru dan kepala sekolah yang berdedikasi, bekerja keras setiap hari dalam menghadapi murid yang berperilaku menantang. Kami tahu ada cara untuk melibatkan kembali anakanak dalam pendidikan, kita perlu berbuat lebih banyak dan menyediakan dukungan lebih banyak,” katanya.

Kaitan dropout dan penjara

Data menunjukkan, 60 persen anak yang berada dalam sistem peradilan anak sebelumnya pernah diskors atau dikeluarkan dari sekolah. Sementara 90 persen orang dewasa yang dipenjarakan diketahui tidak menyelesaikan sekolah menengah pertama.

Glass mengatakan, hubungan antara kurangnya pendidikan dengan penahanan penjara sangat menarik.

“Pesan utamanya adalah kita perlu berinvestasi pada anakanak dengan perilaku paling menantang,” ujarnya.

“Jika kita tidak berinvestasi pada mereka sekarang ini, ada peluang besar setidaknya beberapa dari mereka akan berakhir di sistem peradilan atau di dalam sistem penjara.”

“Mengeluarkan seseorang dari sekolah akan memiliki dampak besar pada peluang hidup mereka.”

Investigasi ombudsman Victoria tidak memeriksa pemberhentian murid dari sekolahsekolah swasta.

Diterjemahkan Selasa 15 Agustus 2017 oleh Nuriva Sivitri.