Moeldoko Beri Kuliah Umum, Bicara Toleransi hingga Tugu Tani

Pasuruan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko memberikan kuliah umum di Universitas Yudharta Pasuruan. Moeldoko mengajak para mahasiswa terus menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama.

“Kumpulnya berbagai keyakinan di sini (Indonesia) bukan ingin menyamakan agama, tapi membangun human relation, membangun kemanusiaan,” ujar Moeldoko, depan seribuan mahasiswa dan santri peserta kuliah umum, di Aula Pancasila, Kompleks Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan, Senin (2/10/2017).

Menurut Moeldoko, perbedaan suku, ras dan agama di Indonesia merupakan sebuah kekuatan sehingga harus terus dijaga. Salah satu cara menjaganya adalah dengan terus mengedepankan toleransi.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko menyampaikan alasannya ingin bersilaturahmi ke Ponpes Ngalah, yang selama ini dikenal getol mengkampanyekan multikulturalisme ini. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indoensia (HKTI) ini mengaku ingin silaturahmi sekaligus menggali nilainilai dari Ponpres Ngalah.

“Dari namanya pun (Ngalah) juga rupanya menjadi background yang sangat kuat. Di tengahtengah lingkungan politik yang seakan tidak berhenti untuk berkompetisi, sepertinya tidak ada orang yang mau ngalah (mengalah). Semua merasa benar dan mengklaim seolah kebenaran hanyalah miliknya,” kata Moeldoko.

Untuk itu, kata Moeldoko, mereka yang selalu merasa benar perlu belajar di Ponpres Ngalah. “Tetapi inget, ngalah bukan berarti kalah,” kata Moeldoko.

Moeldoko juga menyinggung soal Patung Pahlawan yang berdiri di Menteng, Jakarta Pusat, yang dikenal luas sebagai Tugu Tani. Ia menyesalkan jika ada sejumlah pihak yang menuding patung tersebut sebagai simbol komunis.

“Saya pikir kita mesti bijak memaknai dari setiap simbolsimbol. Jangan lihat dari fisiknya, tapi melihat untuk apa patung itu dulu dibuat. Patung itu adalah Patung Pahlawan. Patung itu cermin dari keberhasilan pertempuran di Irian Barat sehingga dilukiskan dalam bentuk patung,” terangnya.

Seperti diketahui, pada Patung Pahlawan yang berdiri 1963 tersebut tertulis “Hanya Bangsa yang Dapat Menghargai Pahlawanpahlawannya yang Dapat Menjadi Bangsa Besar.”

“Simbol itu menggambarkan bagaimana seorang ibu membekali anaknya yang akan berangkat ke medan operasi. Itu sebenarnya simbol dan ditarik menuju doktrin sistem pertahanan negara,” ujar mantan KSAD ini.

Pertahanan negara yang dimaksud adalah Sistem Pertahanan Rakyat Semesta sebagaimana termaktub dalam UUD 1945. “Bahwasanya sistem pertahanan negara tidak hanya dibangun oleh komponen utama, bukan hanya oleh TNI. Di situ ada komponen cadangan (rakyat) dan di situ ada kompenen pendukung,” papar doktor jebolan Universitas Indonesia ini.

“Itulah sebuah cermin secara keseluruhan bagaimana sistem pertahanan sebuah negara,” tegasnya.

Pimpinan Ponpes Ngalah, KH Sholeh Bahruddin mengatakan, pihaknya mengundang Moeldoko untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada para santri dan mahasiswanya.

“Bapak Jenderal Moeldoko tidak ada maksud lain. Biar ilmu pengetahuan beliau nanti bisa ditanamkan pada santri dan mahasiswa. Biar menciptakan dan bisa mewujudkan, seperti beliau, rahmatan lil alamin,” ujar KH Sholeh.

Kuliah umum ini juga dihadiri pemuka agama lain, yakni Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.