Menyusuri Yerusalem, Ibu Kota Palestina yang Diakui OKI

Kepala negara yang hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) di Istanbul, Turki menyerukan agar negara-negara dunia mengakui Yerusalem Timur, yang diduduki Israel, sebagai ibu kota Negara Palestina. Seperti apa suasana Yerusalem Timur?

Taufiqulhadi, politikus Partai NasDem yang mantan jurnalis menuliskan perjalanannya di Yerusalem Timur dalam sebuah buku berjudul: Satu Kota Tiga Tuhan terbitan, Juli 2017. Seperti diketahui di Yerusalem ada tempat yang disucikan oleh tiga agama, yakni: Tembok ratapan (Yahudi), Gereja Makam Yesus (The Holy Sepulchre) yang disucikan oleh umat Kristen, dan Masjidil Aqsa yang disucikan oleh umat Islam.

Pada akhir Oktober 2015, detikcom sempat menyusuri Yerusalem Timur yang kini diakui sejumlah negara anggota OKI sebagai ibu kota Palestina. Kunjungan dilakukan tiga pekan setelah kerusuhan di kompleks Masjid Al Aqsa. Kala itu sejumlah pemuda Palestina terlibat bentrok dengan tentara Israel.

Aksi tentara Israel yang masuk ke dalam Masjid Al Aqsa dan mengunci sejumlah pintu kian membuat suasana tegang. Kerusuhan yang melibatkan warga Palestina dan tentara Israel juga terjadi di beberapa titik di wilayah Tepi Barat, Palestina.

Pada Rabu, 28 Oktober 2015 pagi, detikcom berkunjung ke kompleks Al Aqsa masuk melalui Herod’s Gate. Dari tempat menginap, di Dan Boutique Hotel di Hebron, perjalanan ke komplek Al Aqsa butuh waktu sekitar 30 menit menyusuri King David Street.

King David oleh pemeluk Islam dikenal sebagai Nabi Daud, ayah dari Nabi Sulaiman. Yahudi memanggilnya dengan King David dan diabadikan menjadi sebuah nama di Yerusalem Timur.

Setelah mengantre dan melewati sejumlah pemeriksaan oleh Tentara Israel, kami masuk melintasi jalan sepanjang 100 meter untuk menuju Masjid Al Aqsa. Jalan dari pintu pemeriksaan ke Masjid Al Aqsa dibatasi oleh pagar kayu. Pagi itu dari jalan ini pengunjung bisa melihat puluhan umat Yahudi yang tengah beribadah di Tembok Ratapan. Letak Tembok Ratapan ini menempel di bagian halaman belakang Al Aqsa.

kemudian masuk ke halaman Al Aqsa melewati Pintu Al Maghribah yang dikenal juga dengan sebutan pintu An Nabi alias Al Buraq. Dinamakan pintu Al Buraq karena tempat ini diyakini sebagai lokasi Nabi Muhammad menambatkan Buraq kemudian masuk ke Al Aqsa untuk melakukan perjalanan Mi’raj dan menerima perintah salat.

Di halaman kompleks Al Aqsa, nampak sejumlah tentara Israel berlalu lalang dengan senjata dibahu. Mereka wira-wiri dengan mata awas, menatap siapa saja yang datang. Hanya sesekali mereka terlihat bercakap-cakap satu dengan yang lainnya.

Sementara di beberapa sudut masjid nampak pemuda Palestina duduk untuk menyambut setiap pengunjung yang akan salat di dalam Masjid Al Aqsa. “Oh dari Indonesia, saudaraku salam kami buat saudara-saudaraku di Indonesia,” kata Ali, salah satu pemuda yang dihampiri detikcom di depan pintu masuk Al Aqsa.

Ali lantas menemani detikcom berkeliling Al Aqsa. Di dalam masjid nampak beberapa pria dan wanita tengah khusyuk beribadah. Sejumlah pekerja tampak membersihkan karpet dan dinding masjid. “Ini sisa-sisa kerusuhan kemarin,” kata Ali.

Dari Al Aqsa kami diajak berjalan menuju Dome of The Rock, Masjid berkubah emas yang persis di depan Masjid Al Aqsa. Sepanjang kurang lebih 100 meter dari Al Aqsa ke Dome of The Rock terlihat pemuda-pemuda Palestina berdiskusi. Ada juga beberapa ibu-ibu berkerudung yang juga berdiskusi dalam satu kelompok. Sesekali mereka meneriakkan takbir. “No foto (jangan difoto),” pinta mereka.

kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Abu Gosh di Yerusalem. Kebetulan Wali Kota Abu Gosh, Issa Jaber adalah keturunan Yahudi pemeluk Islam. Issa mengaku selama menjadi pemeluk Islam bisa bebas beribadah di Yerusalam. Hanya saja ada beberapa kendala yang mereka hadapi. “Bantuan umat Islam dari luar ke kami dibatasi,” kata Issa ketika itu.

“Selain itu pemukiman kami tidak bisa diperluas. Pilihan satu-satunya vertical house, tapi itu sampai kapan?,” tambah dia.

Dihubungi detikcom pada Kamis (7/12/2017) dua pekan lalu, Issa mengatakan saat ini kondisi di Abus Gosh tak jauh berbeda dengan 2015. Dia juga menegaskan tak setuju dengan sikap Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Pada Jumat 30 Oktober 2015 petang, detikcom kembali menyusuri kompleks Al Aqsa. Di sinilah terasa kesakralan Al Aqsa yang berdekatan dengan Tembok Ratapan dan Gereja Makam Yesus.

Tiga pemeluk agama itu beribadah sesuai keyakinan mereka masing-masing tanpa ada yang merasa terganggu atau mengganggu. Azan Magrib berkumandang di Masjid Al Aqsa petang itu. Ratusan pemeluk Islam khusyuk menunaikan salat Magrib.

Sementara di saat yang hampir bersamaan di Tembok Ratapan yang persis di samping Al Aqsa, ratusan pemeluk Yahudi juga khusyuk dalam ibadah mereka. Di sepanjang lorong-lorong jalan di Kota Tua Yerusalem itu tak jarang rombongan pria bersorban dan berkopiah putih berpapasan dengan pemeluk Yahudi yang mengenakan kopiah khas mereka.

Pria-pria muslim itu juga sesekali berpapasan dengan rombongan Yahudi ortodoks yang diketahui dari topi lebar dan jas hitam yang mereka kenakan. Namun saat berpapasan itu ekspresi mereka begitu datar. Tak ada tegur sapa. Barangkali memang mereka tak saling mengenal.

Sekira 200 meter dari Tembok Ratapan, ratusan pemeluk Nasrani berziarah dan berdoa di makam Yesus. Inilah suasana Yerusalem, yang ditulis Taufiqulhadi sebagai, “Satu Kota Tiga Tuhan”.

Negara-negara anggota OKI menyerukan dunia untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina. Ini dilakukan untuk memprotes kebijakan Presiden Amerika Serikat yang mengakui Yerusalam sebagai Ibu Kota Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *