Menyelami Kuasa dan Bahasa Perempuan

Terseok-seoknya perempuan dalam memperjuangkan batas-batas ruang gerak yang dimiliki selama ini, setidaknya membuktikan bahwa perempuan tak berhenti ‘melawan’.
Melawan stereotip, kekerasan, pelabelan, dan sejumlah kelemahan-kelemahan yang dipolarisasi oleh kultur dan konstruk sosial. Itulah sebabnya, perempuan-perempuan itu patut diwaspadai. Mereka bisa saja membabi buta.

Perlawanan perempuan jangan semata-mata dipandang melalui gerakan-gerakan feminisasi ataupun aksi kesadaran gender di ruas-ruas jalan sebagai implikasi dari narasi panjang perjuangan mereka. Akan tetapi, perlu dicermati pola ‘pembangkangan’ yang dilakukan selama ini.

Ada beberapa aspek feminis yang harus diinterpretasikan sebagai bentuk protes atau perlawanan. Kita telah mengetahui bahwa seorang perempuan sering kali menipu suaminya lewat penentangan, dan bukan demi kesenangan. Penentangan-penentangan yang dimaksud adalah upaya keluar dari kungkungan patriarki. Termasuk berkarya di ruang publik.

Hanya saja, sampai saat ini paradigma mengenai dominasi perempuan masih dipandang biasa saja. Sebab, normalisasi perilaku agresif dan kompetitif di dalam masyarakat telah mengakui secara historis bahwa laki-laki memiliki struktur yang istimewa dibanding perempuan.

Kaum perempuan tidak memiliki genggaman atas dunia laki-laki karena pengalaman tidak mengajarkan mereka menggunakan nalar dan teknik, sebaliknya, aparat laki-laki kehilangan kekuasaannya di perbatasan dunia feminis (de Beauvoir, 1989). Oleh karena itu, perempuan memiliki kuasa terhadap laki-laki dalam dimensi yang lain, yakni wilayah keperempuanannya.

Pada 2004, sebuah penelitian oleh Handayani dan Novianto yang dituangkan dalam bentuk buku Kuasa Wanita Jawa menunjukkan bahwa meskipun secara struktural telah terjadi hegemoni kekuasaan oleh laki-laki atas wanita, tapi dengan strategi-strategi penaklukan diri yang dilakukan oleh wanita Jawa secara faktual telah terjadi penghegemonian yang dilakukan oleh wanita.

Handayani dan Novianto membagi dua strategi kekuasaan yang dilakukan wanita Jawa sebagai bentuk kekuasaan yang dimiliki. Pertama, bermain di dalam ruang kekuasaan. Berangkat dari konsep bahwa wanita Jawa bersifat lembut, sabar, kalem, dan tenang. Mereka (wanita Jawa) tidak melawan kekuasaan dengan konfrontatif, atau menuntut peran-peran publik, akan tetapi melalui diplomasi, secara personal, proses tawar-menawar terjadi di dalam ruang yang paling pribadi, yaitu kamar tidur. Kultur Jawa memiliki konsep bahwa semakin besar kekuasaan maka semakin halus cara bersikapnya.

Kedua, penaklukan diri ke dalam. Strategi ini berlandaskan prinsip bahwa ada proses penyerapan energi kaum laki-laki oleh wanita melalui strategi “memangku” yang diekspresikan dalam sikap melayani dan mengabdi secara total kepada suami. Dalam proses ini terkandung sebuah kesediaan wanita untuk menjadi tempat bersandar bagi laki-laki, yang sesungguhnya pada akhirnya membuat suami amat tergantung pada istrinya.

Di samping itu, perlawanan perempuan dapat diidentifikasi dari berbagai gaya komunikasi yang kerap dilakukan. Pertanyaan yang paling mendasar, apakah perempuan dan laki-laki memiliki bahasa yang berbeda? Adalah pertanyaan klasik yang telah terjawab dengan sendirinya dari berbagai penelitian yang telah dilakukan.

Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan di antaranya Lakoff (1972), Cameron (1994), Coastes (1986), (2013) dan Xia (2013). Mereka mengungkapkan bahwa ada perbedaan yang mencolok terkait penggunaan bahasa yang digunakan oleh dua jenis kelamin tersebut.

Menurut Lakoff (1972), penggunaan bahasa laki-laki dan perempuan dilihat dari intonasi kalimat yang dituturkan. Perempuan cenderung menggunakan kalimat yang lebih lembut dan sopan dibanding laki-laki. Misalnya dalam mengungkapkan sesuatu. Perhatikan contoh berikut: (1) Adi ada di rumahmu, bukan?; (2) Apakah Adi ada di rumahmu? Pada kalimat pertama lebih sering digunakan laki-laki, sementara kalimat kedua digunakan perempuan dengan intonasi yang lembut. Konstruk kalimat tersebut disesuaikan dengan konteks kultural seorang perempuan. Oleh karena itu, perempuan dilabeli sebagai makhluk yang lemah dan lembut.

Deborah Cameron (1994) menulis sebuah artikel yang berjudul Verbal Hygniene for Women: Linguistics Misapplied? menegaskan, bahwa pada abad XVIII semua wanita dibatasi cara berkomunikasi mereka, kecuali dalam ranah domestik. Itulah sebabnya, saat ini wanita untuk mencapai kesetaraan gender dalam aspek berbahasa memerlukan pelatihan khusus. Alhasil, fitur-fitur linguistik yang melekat pada perempuan terkesan hanya mengitari wilayah domestik.

Dalam buku Women, Men, and LanguageA Sociolinguistic Account ofGender Differences in Language yang ditulis Jennifer Coates (2013) dijelakan bahwa anak-anak laki-laki sering menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan kekerasan fisik, sementara perempuan menyelesaikan masalah dengan jalan kompromi, penghindaran, atau persetujuan. Maka dari itu, perempuan selalu menggunakan bahasa-bahasa yang kompromis. Perempuan jarang menggunakan umpatan dalam berbicara dan eufemistis.

Penelitian serupa dalam jurnal yang ditulis oleh Xiufang Xia (2013), GenderDiffrence in Using Languange menemukan sejumlah hal yang mentransmisikan perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan. Misalnya dalam hal pengucapan. Perempuan diklaim memiliki pengucapan yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Itulah yang bisa menjelaskan mengapa lebih banyak perempuan memilih Jurusan Bahasa dibanding pria.

Kemudian Xia menjelaskan, terkait perbedaan kosa kata. Perempuan terkesan menggunakan kosa kata yang berbeda dibanding pria. Perbedaan kosa kata dapat ditunjukkan dalam tiga aspek sebagai berikut. Pertama, kata warna. Ada kosa kata feminin yang tidak disukai oleh laki-laki, seperti: ungu muda, merah jambu, dan magenta.

Kedua, kata sifat. Dalam kehidupan sehari-hari perempuan sering menggunakan banyak kata sifat, seperti: menggemaskan, menawan, cantik; tapi, pria jarang menggunakannya. Menggunakan lebih banyak kata sifat untuk menggambarkan sesuatu dan perasaan hal itu membuktikan bahwa wanita lebih peka terhadap lingkungan dan cenderung mengekspresikan emosinya.

Ketiga, kata keterangan. Perempuan lebih cenderung menggunakan kata keterangan, seperti: sangat, cantik, sangat-sangat, dan cukup dibanding pria. Pada 1992, Jespersen menemukan bahwa wanita lebih banyak menggunakan adverbia “sangat menarik” dibanding pria.

Lantas bagaimana perempuan melawan dengan menggunakan bahasa? Perlawanan perempuan tersebut harus ditransformasikan dalam bentuk wacana. Dalam konteks pandangan wacana kritis percaya bahwa bahasa tidak hanya dikonstruk sebagaimana maksud yang ingin disampaikan. Akan tetapi bahasa menjadi alat perjuangan untuk merefleksi kepentingan sosial.

Guru Besar Universitas Negeri Malang Profesor Anang Santoso dalam bukunya Bahasa Perempuan: Sebuah Potret Ideologi Perjuangan memandang bahwa bahasa perempuan merupakan situs perjuang sosial (social struggle). Sebagai situs perjuangan sosial, bahasa perempuan tentu saja memuat berbagai ideologi perempuan, yakni sistem ide, pandangan dunia, pola-pola kepercayaan, dan konsep berpihak yang diperjuangkan perempuan.

Pandangan Norman Fairclough (1989), (1995), dalam hal bahasa konstruk sosial yang tertuang dalam wacana, bertujuan untuk membantu memperbaiki kebenaran dan kelalaian besar dalam kaitannya dengan pentingnya bahasa dalam menciptakan, memelihara, dan mengubah hubungan sosial kekuasaan. Tujuan kedua, sebagai tokoh kunci dalam analisis wacana kritis, untuk membantu meningkatkan kesadaran akan pertanyaan bagaimana bahasa mempengaruhi dominasi satu kelompok orang atas orang lain.

Analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar bagaimana menghubungkan teks dengan konteks masyarakat. Fairclough mengadopsi tiga dimensi terkait konsep wacana, yakni teks bahasa (lisan atau tulisan), praktik kewacanaan (produksi dan interpretasi teks), dan praktik sosiokultural (struktur sosial dan efek reproduksi). Ketiga dimensi di atas kerapkali digunakan untuk mengetahui sejauh mana perjuangan perempuan dalam pemakaian fitur-fitur linguistik.

Akhirnya, anggapan bahwa tugas perempuan hanya berada pada sektor domestik, menyebabkan sebagian wanita yang sudah berpendidikan dan berpikir maju mulai membuka belenggu sekaligus berkeinginan untuk mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, semakin menguak fakta-fakta baru bahwa saat ini perempuan semakin terbuka lebar ruang-ruang untuk berekspresi dan bekerja tanpa ada batasan. Mulai dari ketua organisasi, pemimpin perusahaan, ketua-ketua perkumpulan sosial dan partai, dan banyak lagi lainnya. Dari situlah, akan lahir benih-benih kekuasaan yang dimiliki perempuan dalam berbagai sektor. Salah satu cara untuk mengidentifikasi dengan mudah dari budaya patriarki di Indonesia, yakni melalui institusi pendidikan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *