Menyebarkan Kebaikan Lewat Berbagi Buku Bekas Gratis

Dengan buletin berita yang diisi dengan cerita yang melaporkan masalah dunia secara rutin, seorang perempuan di kota Newcastle, New South Wales (NSW), Australia membawa senyuman ke wajah penduduk setempat melalui proyek kebaikan.

Amy Lovat, seorang guru penulisan kreatif, barubaru ini, memulai proyek Secret Book Stuff, di mana ia membungkus bukubuku bekasnya dan meninggalkan mereka di tempat umum agar orangorang bisa mengambil dan membawanya pulang ke rumah.

“Saya ingin melakukan aksi kebaikan asal di Newcastle untuk beberapa waktu,” ujarnya.

“Saya punya hampir seribu buku, dan setiap kali saya pindah ke rumah baru, saya membawa kotakkotak buku ini ke manamana dan akhirnya saya selalu membagikan mereka gratis kepada temanteman.”

“Jadi, saya berpikir, jika ada cara agar saya bisa melakukannya dalam skala yang lebih besar, saya akan bisa meminimalkan hidup saya jauh lebih baik dan menyingkirkan lebih banyak buku bekas, tapi kemudian juga menyebarkan keajaibannya untuk orang lain,” tutur Amy.

Ia lalu mengatakan, “Saya meninggalkan tiga atau empat buku di banyak kafe yang berbeda di sekitar Newcastle, dan di halte bus, jika saya berkendara melewati rumah dan terlihat seperti rumah kecil yang menyenangkan, saya akan tinggalkan satu di depan pintu. Saat ini, kegiatan ini sangat acak benarbenar untuk siapa pun yang menemukannya.”

Warga juga bisa menyumbang ke proyek ini untuk meminta sebuah buku agar dikirimkan kepada orang yang mereka pilih.

Amy mengatakan bahwa ia ingin menyebar kebaikan di tengah masyarakat.

“Saya pikir ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan dalam halhal kecil di kehidupan, apakah itu senyuman untuk orang asing, atau meninggalkan buku bekas secara acak di kafe yang bisa dibuka orang dan mereka bawa pulang,” ujar Amy.

“Dalam banyak kekacauan global yang sering kita hadapi, kabar baik selalu kabar baik.”

Kertas daur ulang

Amy mengatakan bahwa ia seringkali membagikan novel, dan berharap bisa menyebarkan kecintaan akan sastra.

“Pada akhirnya, saya membungkus bukubuku itu dengan kertas cokelat daur ulang 100 persen dan kemudian membungkusnya dengan benang rami yang bisa terurai secara hayati, jadi ada sedikit fokus lingkungan saya tak berupaya membuang lebih banyak barang ke dunia ini,” ungkapnya.

“Ini sangat rahasia, Anda tak tahu apa yang ada di dalam sampai Anda membukanya.”

“Saya harus benarbenar merelakan pemikiran bahwa saya akan tahu persis siapa yang mendapatkan buku ini dan buku apa itu, dan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu, dan apakah itu hal yang tepat untuk mereka.”

Dengan tumpukan buku yang masih harus dikirim, Amy mengatakan bahwa ia melibatkan temantemannya dalam proyek tersebut.

“Saya tak benarbenar melihatnya sebagai pekerjaan karena sangat menyenangkan bagi saya. Saya baru saja melakukannya di waktu luang sambil menonton Netflix,” ujarnya.

“Saya sudah beberapa kali membungkus beramairamai bersama temanteman yang datang, kami mengobrol, makan malam, dan kemudian mereka membantu saya membungkus beberapa buku, yang merupakan cara menyenangkan untuk membawa sedikit unsur masyarakat ke dalamnya.”

Menyebarkan perubahan

Amy mengatakan ia mendapat banyak kepuasan pribadi dari memulai proyek ini.

“Rasanya luar biasa, persis seperti yang saya inginkan dari ini,” sebutnya.

“Saya tak berharap untuk membuat diri saya merasa lebih baik, tapi ini hanyalah salah satu proyek sampingan untuk melakukan halhal baik untuk orang lain dan menyebarkan kebaikan balasannya sepuluh kali lipat.”

“Jujur saja, perubahan dimulai di lingkungan terdekat Anda sendiri, dan jika Anda melakukan sesuatu untuk seseorang tepat di sebelah Anda, di bus, atau tetangga Anda, atau teman, atau anggota keluarga, itu akan menanamkan sedikit benih kebahagiaan. Dan kedamaian di dalam pikiran orang itu.”

“Mudahmudahan itu akan menyebar juga. Ini benarbenar memiliki efek limphan. Kebaikan itu begitu hebat.”