Mengislamikan Islam

Jakarta Mengislamikan Islam? Mungkin, lebih tepat jika judul tulisan ini Mengislamikan Muslim. Mengislamikan muslim? Nanti dulu. Bukankah Islam pasti islami? Dan, bukankah muslim niscaya islami? Apa beda antara Islam dan islami? Apakah islami itu? Apakah Islam itu? Bagaimana mungkin Islam tidak islami? Bagaimana mungkin islami tanpa Islam? Terlampau banyak pertanyaan yang menjadikan gamang meneruskan tulisan ini. Namun, kemudian terbetik pertanyaan: mengapa Allah memilihkan Islam untukku? Dan, mengapa islami sebegitu pentingnya?

Harihari ini, ketika keislaman seseorang dilihat dari permukaan, timbul keraguan: janganjangan aku belum muslim. Sebab, jika keislaman seseorang dilihat dari kedalaman, bukankah seharusnya ia kian tak terlihat? Kalau pun terlihat, bukankah itu mensyaratkan kejernihan yang teramat bening dan ketenangan air? Semua sudah mahfum: beriak tanda tak dalam. Semua pun hapal: tong kosong nyaring bunyinya. Kini, tatkala euforia perbedaan demikian gaduh dan baru memahami buih sudah jumawa seolah mengerti laut, bagaimana aku bisa belajar keislamian Islam?

Aku belajar memahami hubungan antara Islam dan islami secara sederhana. Satu dan lainnya dihubungkan oleh salam. Oleh doa keselamatan. Di setiap perjumpaan dan perpisahan, kita disunahkan untuk mengucap salam. “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, keselamatan untukmu beserta rahmat dan keberkahan Allah,” dijawab dengan sama baik, yaitu “Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh, demikian pula keselamatan bagimu beserta rahmat dan keberkahan Allah.” Bahkan, salam adalah hak Muslim yang selayaknya diterima dari sesamanya.

Menurut Rasulullah Muhammad SAW, mengucap salam dan menjawabnya ialah amalan terbaik dalam Islam. Dari Abdullah ibn Amr, diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi,” Amalan Islam apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Memberi makan pada yang membutuhkan dan mengucap salam pada orang yang kau kenal dan tidak kau kenal.” Perawi hadits ini adalah Bukhari. Selain menandakan keberserahan diri pada Allah dalam doa dan usaha, amalan uluk salam menunjukkan keikhlasan dan kerendahan hati, serta ikhtiar syiar Islam.

Sedemikian baiknya sunah ini, sampaisampai diatur sedemikian rupa. Beberapa aturannya adalah mengucapkan salam itu sunah tapi menjawabnya itu wajib, yang berkendara bersalam pada yang berjalan, yang berjalan bersalam pada yang duduk, yang sedikit bersalam pada yang banyak, dan yang muda bersalam pada yang tua. Inilah islami. Setidaknya, inilah contoh hal islami yang sangat sederhana. Inilah Islam yang islami. Sesungguhnya. Seharusnya. Bahkan, inilah dasar keislamian Islam dan Keislaman yang islami. Islam hadir untuk menebarkan keselamatan bagi semesta.

Bahkan lagi, ini pula puncak Islam islami. Jika tujuan utama dari pengutusan oleh Allah atas Muhammad tiada lain selain untuk menjadi rahmatan lil alamin dan menyempurnakan akhlak mulia, maka doa dan ikhtiar memberikan keselamatan yang dimulai dari sunah bersalam merupakan perwujudan yang lathif, subtil, lembut. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, memulai mengucap salam menunjukkan kemuliaan akhlak, kerendahan hati, dan penghormatan pada liyan, yang kemudian diharapkan menghadirkan kebersatuan rasa dan sikap saling mencintai sesama.

Islam itu salm, damai. Memperjuangkan perdamaian demi mencapai kedamaian itu sendiri. Islam itu salam, selamat dan sejahtera. Menyelamatkan diri dan orang lain serta mensejahterakan diri dan orang lain. Islam itu saliim, bersih hatinya. Tidak justru mengotori hati dengan prasangka buruk. Islam itu aslama, berserah jiwa dan raga pada Allah semata. Islami adalah segala hal yang mensifati Islam. Dan, yang paling mendasar dalam ajaran Islam, pun sesungguhnya yang puncak, ialah ajaran salam. Mengikhtiarkan keselamatan mulai dari mendoakan keselamatan sesama.

“Kalian tak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Mau kutunjukkan pada kalian amalan yang jika dilakukan maka kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian,” sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim. Mencintai, ya, mencintai. Salam adalah ungkapan cinta terdalam, yang oleh karena cinta itulah kita mengasihi dan menyayangi. Yang oleh karena kasih sayang itulah kita menjaga dan merawat. Perbedaan setajam apa pun tidak sampai memicu benci dan memutus silaturahmi.

Jika Islam diibaratkan rumah, maka islami atau segala hal yang mensifati Islam bisa dimisalkan kamarkamarnya. Dalam Q.S Al Hujurat, yang memang bermakna Kamarkamar, dirincikan secara jelas keislaman yang islami dan keislamian yang Islam itu. Seusai membaca tulisan saya ini, silakan membuka mushaf Al Quran di dekatmu, dan bacalah Surat Al Hujurat yang terdiri atas 18 ayat itu. Bahkan, ayat mengenai bagaimana kita harus bersikap terhadap hoax, propaganda, dan ujaran kebencian dan permusuhan pun diatur. Temukan di ayat 6 dan 12, betapa Quran kontekstual.

Harihari ini, harihari ketika alihalih sesama Muslim saling menebarkan salam, tapi justru bahkan lebih buruk daripada itu, saling merendahkan kedudukan dan menghina orang lain dengan sesebutan yang buruk, Allah melarangnya dalam ayat 11. Harihari ini, harihari ketika isu rasisme menyeruak lagi disulut berbagai perbedaan, Allah mengingatkan dalam ayat 13 tentang betapa perbedaan dan kebersukubangsaan ialah keniscayaan untuk saling mengenal dan ketakwaan adalah penanda kemuliaan di mata Allah bagi manusia, siapa pun ia.

Di ayat 7, Allah pertegas bahwa Dia tumbuhkan cinta dalam keimanan. Sedangkan di ayat 17, Allah menegur siapa pun yang merasa paling Islam dan paling islami di antara yang lain, lalu cenderung memaksakan keislaman dan keislamiannya itu. “Mereka merasa telah memberi nikmat padamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: janganlah kau merasa telah memberi nikmat padaku dengan keislamanmu, sesungguhnya Allah yang melimpahkan nikmat padamu dengan menunjukkan keimanan padamu, (ketahuilah itu) jika kau adalah orangorang yang benar.”

Ya, Surat Al Hujurat mengajari kita untuk tetap satu keluarga dalam satu rumah meski berbeda kamar. Lihatlah kita kini serumah namun tak lagi bertegur sapa dengan baik, suka menggunjing sesama, merendahkan dan menghina, bahkan dengan olokolok, berkata buruk dengan kebencian hingga ubunubun, menyebar dusta, melaknat saudara dan mengancam keselamatannya, hingga menghabisinya. Jika sudah begini, aku tak tahu Islam yang islami itu yang bagaimana. Pun aku tidak bisa menjawab mengapa Allah memilihkan Islam untukku, untukmu, untuk kita.