Mencermati Kampanye ‘2019 Ganti Presiden’

Kampanye #2019GantiPresiden sangat efektif untuk menghimpun suara pemilih oposisi. Tapi untuk menang Pilpres masih berat. Slogannya agak salah.

Dalam paradigma Behaviouralisme, kajian ilmu politik tidak ada habisnya membahas studi kasus pemilu di berbagai negara. Studi perilaku pemilih atau voting behaviour terus berkembang karena pemilu di setiap negara selalu berbeda, tema kampanye tidak pernah sama, dan karakter pemilihnya selalu unik.

Pun demikian di Indonesia sekarang, kita melihat ramainya kampanye #2019GantiPresiden. Bisa dibilang inilah gerakan resmi dari kubu oposisi karena langsung disuarakan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera di media sosial, kemudian diikuti gelombang produksi merchandise yang masif dan efektif.

Gerindra selaku rekan oposisi langsung menyambut. Sementara parpol-parpol pendukung Jokowi langsung meradang. Tapi, apakah gerakan #2019GantiPresiden ini efektif untuk mencapai tujuannya?

Dalam penilaian saya, #2019GantiPresiden memiliki beberapa kelemahan, yaitu; pertama, melupakan swing voter. Identifikasi partai menentukan perilaku pemilih (Campbell et al. 1960). Itu sebabnya #2019GantiPresiden dimakan duluan oleh para pendukung PKS dan Gerindra. Masalahnya gerakan ini tidak akan efektif jika hanya berputar-putar di massa pendukung oposisi.

#2019GantiPresiden terlihat sebagai konsolidasi kekuatan oposisi, eksklusif milik PKS dan Gerindra. Tapi, bukan gerakan untuk meraih pemilih baru atau swing voter yang akan menjadi kunci kemenangan Pilpres 2019. Swing voter dan pemilih baru tidak punya keterikatan terhadap PKS dan Gerindra.

Strategi untuk meraih swing voter dan pemilih baru tidak kelihatan dalam gerakan ini. Apa iya mereka butuh narasi ganti presiden? Atau, jangan-jangan mereka mau memilih kandidat dari oposisi, asal diberi narasi lain.

Kedua, citra galak bisa jadi blunder. Dalam kajian voting behaviour, perilaku pemilih tidak lepas dari psikologi politik yang ada di masyarakat. Bagaimana mereka akan memilih bergantung apa yang mereka rasakan dengan dua elemen utama, yaitu anger (marah) dan fear (takut) (Parker & Isbell, 2009). Marah membuat pemilih kurang hati-hati dan coba-coba (Bodenhausen, Sheppard & Kramer, 1994). Takut membuat pemilih jadi belajar (Tiedens & Linton, 2001).

#2019GantiPresiden menyampaikan pesan politik yang tegas, berani, galak (anger) dan menakutkan lawan politiknya. Tapi, mereka yang takut (fear) akan menjadi belajar. Maka jangan heran dari proses belajar ini, parpol pendukung Jokowi bikin gerakan tandingan #Lanjutkan212 atau #Jokowi212. Sangat reaksioner memang.

Sementara di level grass root, ketakutan akan membuat mereka belajar. Kenapa Jokowi mesti diganti? Apa yang salah dengan Jokowi? Memang Jokowi ngapain? Oposisi harus bisa mengontrol kesimpulan masyarakat supaya tidak jadi blunder. Ingat, orang Indonesia malah suka simpati dengan pihak yang diserang.

Ketika, Jokowi tetap jadi fokus diskusi. Mendengar nama #2019GantiPresiden, yang ada di benak masyarakat apa? Jokowi. Karena tujuannya mengganti Jokowi secara konstitusional (begitu tulisan kecil di bawah slogan #2019GantiPresiden). Ketika PDIP dan aliansinya mengusung Jokowi supaya tetap jadi presiden, oposisi bersyahwat ingin mengganti Jokowi. Dalam pertarungan argumen, nama Jokowi muncul terus. Ini masalahnya.

Jokowi tetap menjadi fokus diskusi, sehingga pada satu titik #2019GantiPresiden malah jadi promosi gratis untuk Jokowi. Karena, Jokowi tetap mendapatkan awareness dari gerakan ini.

Oposisi dalam hemat saya sudah salah fokus dari yang mestinya mengusung kandidat baru, menjadi sekadar mengganti Jokowi. Padahal kandidat capres dari kubu oposisi juga harus diperkenalkan secara mendalam kepada masyarakat. Konsepnya apa, visinya apa, programnya apa. Realitanya sekarang, Prabowo tak kunjung deklarasi, Gatot pun tak kunjung selesai tawar-menawar. Sementara Pilpres semakin dekat.

Kesimpulannya, masukan untuk PKS dan Gerindra, adalah harus menambal 3 kelemahan dari gerakan #2019GantiPresiden ini. Harus ada komunikasi politik yang lebih umum dengan tujuan memenangkan Pilpres 2019. Harus lebih soft selling, lebih positif secara emosi, bukan menakut-nakuti, dan harus lepas dari tema Jokowi.

Misalnya, nama gerakannya diganti jadi #2019PresidenBaru. Alasannya; pertama, #2019PresidenBaru lebih soft selling. Ganti presiden itu isu yang eksklusif milik PKS dan Gerindra. Tapi kalau menawarkan presiden baru, hal itu bisa dijual kepada swing voter dan pemilih baru. Pemilih Indonesia suka sesuatu yang baru atau alternatif. Narasinya bukan ganti Jokowi, tapi menawarkan presiden baru. Misalnya, Jokowi oke, tapi kami punya yang lebih oke.

Kedua, #2019PresidenBaru nadanya lebih positif secara emosi, ketimbang #2019GantiPresiden. Jika ingin mendekati pemilih secara emosional, haruslah diciptakan perasaan positif (Britt, 2012). Ini juga tidak terlalu ofensif dan bisa mengurangi rasa takut dari pihak lawan sehingga mereka tidak terpacu untuk belajar bertahan.

Ketiga, dengan nama gerakan #2019PresidenBaru, kubu oposisi sudah move on dari Jokowi dan fokus menjual kandidat presiden baru kepada masyarakat. Siapa calon presiden barunya? Bagaimana visi misi dan programnya? Nama-nama baru terus diangkat dan dijual. Dengan sendirinya nama Jokowi akan terpental dari ruang diskusi utama.

Tinggal masalahnya apakah pihak oposisi mau menahan emosi dan syahwat berkuasa, supaya bisa memperbaiki kelemahan mereka.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *