Melihat Keunikan Masjid Sunan Geseng di Purworejo

Purworejo – Meski sudah berumur sekitar 5 abad, Masjid Sunan Geseng di Purworejo, Jawa Tengah hingga kini masih berdiri kokoh. Seperti apakah masjid yang dibangun sebagai hadiah untuk Sunan Geseng itu?

Tidak ada yang tahu secara persis kapan masjid yang dibangun oleh warga setempat sebagai persembahan untuk Sunan Geseng atas jasanya menyebarkan ajaran Islam itu dibangun. Namun, diperkirakan masjid tersebut sudah ada antara tahun 1400-1500 Masehi.

Masjid Sunan Geseng terletak di Dusun Kauman Barat, RT 02/ RW 06, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen. Takmir masjid, Zumarudin (57) yang ditemui detikcom menuturkan bahwa keberadaan masjid tersebut masih ada kaitannya dengan petilasan Sunan Geseng yang terletak sekitar 3 km ke arah timur dari masjid Sunan Geseng.

Keberadaan petilasan atau tempat Sunan Geseng bertapa dan berdzikir di Dusun Gatep, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo itu hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. Selain sebagai penanda keberadaan Sunan Geseng yang berasal dari Purworejo, petilasan yang terletak di ujung bukit desa setempat itu juga dijadikan tempat ziarah dan berdoa.

“Ya, memang masjid ini masih ada hubungannya dengan petilasan Sunan Geseng yang berada di sebelah timur sana. Masjid dibangun sebagai hadiah atau bentuk penghormatan kepada Sunan Geseng atas jasanya menyebarkan agama Islam di wilayah Purworejo dan sekitarnya,” ucap Zumarudin, Rabu (23/5/2018).

Keunikan masjid yang hingga kini masih bisa dilihat antara lain bangunan masjid beratap tumpang satu dan diatasnya terdapat mustaka yang terbuat dari tanah liat. Terdiri dari ruang utama dan bangunan serambi beratap limasan.

Di dalam ruang utama terdapat 4 soko guru atau tiang utama dan 12 soko rowo atau tiang penyangga lain yang berbentuk bulat dengan bahan kayu jati. Uniknya, kerangka kayu yang terangkai dengan tiang-tiang tersebut memiliki motif ukiran yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

“Salah satu keunikannya adalah bahwa bentuk ukiran yang ada pada kayu blandar molo, langit-langit dan lain-lain semuanya berbeda motifnya, kalau zaman sekarang kan ukirannya sama atau seragam antara yang kayu sebelah kanan dan kiri atau setiap bagian itu dibikin sama,” imbuhnya.

Pada bagian pintu masuk ruang utama juga terdapat ukiran relief sulur daun. Perlengkapan lain yang masih ada sejak dulu hingga sekarang adalah mimbar dan bedug. Meski beberapa kali dipugar, namun higga saat ini kondisi asli masjid masih terawat dengan baik.

Masjid yang menjadi salah satu aset Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah ini setiap hari ramai digunakan oleh warga sekitar untuk beribadah terutama saat bulan Ramadan.

“Yang pasti untuk terawih berjamaah, pengajian setiap sore dan buka bersama. Buka bersama dari hari Senin sampai Jumat untuk anak-anak, Sabtu sore untuk remaja kemudian Ahad sore untuk pengurus atau takmir masjid,” lanjutnya.

Diwawancara terpisah, juru kunci petilasan Sunan Geseng, Budiono (55) menceritakan bahwa Sunan Geseng yang memiliki nama asli Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo adalah murid Sunan Kalijaga. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya.

Raden Mas Cokrojoyo sendiri adalah anak dari Pangeran Semono yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya. Meski keturunan bangsawan, namun Cokrojoyo lebih memilih hidup sederhana dan berbaur dengan rakyat biasa.

“Menurut cerita turun temurun yang kami terima dan kami percaya, memang kisahnya seperti itu. Meski dari keturunan bangsawan namun beliau lebih memilih hidup biasa bersama masyarakat umum. Nama Sunan Geseng juga diberikan oleh Sunan Kalijogo yang merupakan guru dari Sunan Geseng itu sendiri,” tutur Budiono.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *