Melihat Kasus Kematian Bayi Calista Lewat Hati Nurani

Kasus penganiayaan bayi Calista (15 bulan) oleh ibu kandungnya Shinta (27) hingga tewas sedang dipertimbangkan untuk tidak diproses secara hukum. Pertimbangan hati nurani menjadi alasan Kapolres Karawanf AKBP Hendy F Kurniawan.

Hendy menyatakan dari penelusuran mengenai kehidupan Shinta, ternyata ibu muda itu telah menanggung beban hidup yang berat. “Tersangka ditinggal suaminya saat mengandung Calista. Sampai sekarang tidak ada tanggung jawab. Beban kehidupan sangat berat, itu yang mengakibatkan sinta emosional sehingga lampiaskan lewat cubitan dan pukulan,” kata Hendy saat ditemui di Mapolres Karawang, Senin pagi (26/3).

Menurutnya kematian Calista menjadi pukulan berat bagi Shinta. “Saya melihat kasus ini melalui hati nurani. Ada hati nurani di balik seragam saya yang berbicara lain,” ujar Hendy.

Hendy menyatakan ia akan mencoba menyelesaikan kasus ini di luar pengadilan. Namun bukan berarti Shinta dibebaskan. Sampai saat ini, Hendy menegaskan jika proses hukum masih berlanjut.

“Proses masih berlanjut. Saya masih meminta pertimbangan dari sejumlah guru besar ilmu hukum, KPAI dan pimpinan polri,” tandasnya.

Minggu pagi (25/3/2018) pukul 09.55 WIB, bayi Calista menghembuskan napas terakhirnya setelah koma 15 hari. Shinta yang ditahan di Mapolres Karawang langsung lemas dan menangis. Shinta pun dibawa ke rumah duka, rumah orangtuanya di Kampung Jatirasa Barat, RT04 RW01, Kelurahan Karangpawitan.

Tangis pecah saat Shinta memeluk erat jasad Calista yang tertutup kain batik. “Dede..dede,” ucap Shinta lirih sambil memanggil nama sapaan anaknya. Terlihat Shinta sangat terpukul.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana pun datang ke rumah duka. Masyarakat juga nampak mengerumuni rumah duka.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *